Senin, 28 Mei 2012
Kumpulan Kata-kata Mutiara imawati
Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan.
Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
Dalam hidup,terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia
Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi.
Jadilah seperti yang kamu inginkan, kerna kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati.
Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum.
Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.
Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup
cubaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi
manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu positif terhadap kehidupan.
Yang memimpin wanita bukan akalnya, melainkan hatinya.
Hari ini bila ia datang, jangan biarkan ia berlalu pergi. Esok kalau ia masih bertandang, jangan harap ia akan datang kembali
Sesuatu yang baik, belum tentu benar.
Sesuatu yang benar, belum tentu baik.
Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga.
Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.
Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak bersendi, runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga, binasalah hayat. Orang yang terhormat itu kehormatannya sendiri melarangnya berbuat jahat. -Pepatah Arab
Jangan tertarik kepada seseorang kerna parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya kerna kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, kerna hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah.
Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya,
tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.
Masa depan yang cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan.
Kita tidak dapat meneruskan hidup dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.
Tentang Waktu
Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi.
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.
Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti.
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.
Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.
Harta yang paling menguntungkan ialah SABAR. Teman yang paling akrab adalah AMAL. Pengawal peribadi yang paling waspada DIAM. Bahasa yang paling manis SENYUM. Dan ibadah yang paling indah tentunya KHUSYUK.
Wanita yang cantik tanpa peribadi yang mulia ,umpama kaca mata yang bersinar-bersinar, tetapi tidak melihat apa-apa
Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman.
Anda bukan apa yang anda fikirkan tentang anda, tetapi apa yang anda fikirkan itulah anda
Hidup tak selalunya indah tapi yang indah itu tetap hidup dalam kenangan.
Hidup memerlukan pengorbananan. Pengorbanan memerlukan perjuangan. Perjuangan memerlukan ketabahan.
Ketabahan memerlukan keyakinan. Keyakinan pula menentukan kejayaan. Kejayaan pula akan menentukan kebahagiaan.
Kekayaan bukanlah satu dosa dan kecantikan bukanlah satu kesalahan.
Oleh itu jika anda memiliki kedua-duanya janganlah anda lupa pada Yang Maha Berkuasa.
Sampan tidak akan dapat belayar di padang pasir betapa pun jua empuknya pasir itu -Pepatah Arab
Perjalanan seribu batu bermula dari satu langkah.
- Lao Tze
Kalaulah anda tidak mampu untuk menggembirakan orang lain, janganlah pula anda menambah dukanya.
Gantungkan azam dan semangatmu setinggi bintang di langit dan rendahkan hatimu serendah mutiara di lautan
Saya percaya, esok sudah tidak boleh mengubah apa yang berlaku hari ini, tetapi hari ini masih boleh mengubah apa yang akan terjadi pada hari esok.
Minggu, 27 Mei 2012
KATA BIJAK IMAWATI
Dalam hidup, akan selalu ada orang yg tak menyukaimu, namun itu bukan urusanmu. Lakukan apa yg kamu anggap benar dan ENJOY
Sulit tuk ucapkan selamat tinggal pada dia yg kamu cinta, tapi lebih sulit lagi ketika kenangan bersamanya tak hilang begitu saja.
2 alasan mengapa seseorg tdk menyukaimu: 1.Kau menikmati hidupmu, 2.Ia tdk menikmati hidupnya.
Jangan berubah tuk menyenangkan seseorang. Berubahlah karena buatmu pribadi yg lebih baik dan bawamu ke masa depan yg lebih baik.
Terkadang, orang yg paling kamu inginkan adalah orang yg membuat hidupmu tak begitu banyak sedih jika tanpanya.
Air mata adalah satu2nya cara bagaimana mata berbicara ketika bibir tak mampu menjelaskan apa yg telah membuat perasaanmu terluka.
Ketika tulus, kamu tak akan menyesali pernah mencintai seseorang, tapi kamu mungkin menyesal telah percaya dia mencintaimu jg.
CINTA slalu SETIA pd HATI, tak peduli betapa hebat LOGIKA. Tp kamu harus tahu kapan tuk gunakan logika agar hatimu tak trs TERLUKA.
Jangan takut mencinta, hanya karena pernah terluka. Cinta sejati tak datang begitu saja, tp melalui proses sedih dan tawa bersama.
Dalam hidup, jangan terlalu berharap, karena untuk setiap 'Hello' akan selalu berakhir dengan sebuah 'Goodbye'
Semua orang melakukan salah, kamu harus cukup dewasa tuk memaafkannya, tapi kamu selalu bisa memilih tuk tak lagi mempercayainya.
Terkadang, seseorang lebih memilih tuk tersenyum, hanya karena tak ingin menjelaskan mengapa dia bersedih.
Kadang, kamu rindu seseorang, bukan karena lama tak bertemu, tp karena apapun yg kamu lakukan, kamu berharap dia ada di sampingmu.
Ketika seseorang hanya diam atas pertanyaanmu, itu karena mereka sulit mengakuinya atau karena terlalu sakit tuk kamu tahu.
Berhenti mencari seseorang yg sempurna tuk dicintai, lebih baik belajar dan persiapkan diri menjadi seorang yg pantas tuk dicintai.
Jangan pernah ucapkan selamat tinggal jika masih ingin mencoba. Jangan pernah katakan tak cinta jika masih mengharapkannya.
TAJUK
RENCANA
Kritik atas Kebohongan Publik
Keresahan sejumlah tokoh agama
mengawali tahun 2011 bukan tanpa alasan. Mereka menyuarakan keresahan umat.
Pamrihnya kepentingan publik.
Oleh karena itu, pertemuan para
tokoh agama yang digagas Maarif Institute, Senin (10/1), itu bermakna profetis.
Di antaranya jauh dari muatan kepentingan politik praktis, kecuali sesuai
dengan fungsi kenabian agama-agama menyuarakan apa yang dirasakan umat. Dan,
justru dalam konteks fungsi itu, seruan mereka sah secara etis dan moral,
sepantasnya mendapatkan perhatian.
Seruan profetisnya jelas. Pemerintah
melakukan kebohongan-kebohongan publik, menyitir istilah Ahmad Syafii Maarif.
Kekuasaan atas nama rakyat dikelola tidak terutama untuk kebaikan bersama.
Seruan itu terdengar sarkastis yang menggambarkan gentingnya keadaan.
Kebohongan tidak saja dilakukan eksekutif, tetapi juga yudikatif dan
legislatif—tiga lembaga negara demokratis.
Peristiwa aktual-heboh pelantikan
terdakwa kasus korupsi Wali Kota Tomohon Jefferson Rumajar dan penanganan
terdakwa kasus mafia pajak Gayus Tambunan sekadar dua contoh. Legalitas
pelantikan berbenturan dengan rasa keadilan publik. Kasus pelesir Gayus ke
Bali, Makau, dan entah ke mana lagi mungkin hanya aberration (penyimpangan)
kasus raksasa masalah mafia pajak.
Dua contoh di atas merupakan puncak
gunung es sikap dasar (optio fundamentalis) tidak jujur, tertutup praksis
politis yang menafikan kebaikan bersama sebagai acuan berpolitik. Media massa
sudah nyinyir menyampaikan praksis kebohongan yang seolah-olah majal berhadapan
dengan kerasnya batu karang nafsu berkuasa.
Begitu liat-rakusnya kekuasaan
sampai kebenaran yang menyangkut data pun dinafikan. Kebohongan demi kebohongan
dilakukan tanpa sadar sebagai bagian dari praksis kekuasaan tidak prorakyat.
Jati diri sosiologi praktis para tokoh agama adalah menyuarakan seruan
profetis, ggggg
representasi keresahan dan
keprihatinan umat. Kita tangkap dalam ranah itulah kritik atas kebohongan
publik para tokoh agama. Hendaknya disikapi sebagai seruan profetis, seruan
mengingatkan rakusnya kekuasaan, dan ajakan elite politik kembali kepada jati
diri sebagai pelayan masyarakat.
Kritik atas kebohongan niscaya
disampaikan semata- mata karena rasa memiliki atas masa depan negeri bangsa
ini. Seruan mereka tidak dengan maksud mengajak berevolusi, tetapi menyuarakan
nurani etis-moralistis. Mereka pun tidak bermaksud membakar semangat
revolusioner, tetapi penyadaran bersama tentang gawatnya keadaan. Suara
kenabian mengajak laku otokritik, bersama-sama melakukan evaluasi dan refleksi.
Bahwa kekuasaan atas mandat rakyat perlu dikelola untuk bersama-sama maju.
Pluralitas Indonesia sebagai
realitas yang sudah niscaya perlu terus dikembangkan, dimanfaatkan sebagai
sarana memajukan rakyat. Sekaligus menghentikan ”patgulipat” apologetis atas
nama rakyat. Rakyat seharusnya menjadi titik pusat dan batu penjuru atas
praksis kekuasaan.
1.2 Ciri-Ciri Cerita Rakyat
Ciri-ciri
cerita rakyat antara lain :
a).
Disampaikan secara lisan. Salah satu sifat cerita rakyat yang utama
terletak pada cara penyampaianya. Pada lazimnya cerita rakyat disampaikan
melalui tuturan. Ia dituturkan secara individu kepada seorang individu atau
sekelompok individu.
b).
Sering kali mengalami perubahan. Cerita rakyat merupakan suatu yang dinamik,
dimana ia akan mengalami perubahan seperti penambahan atau pengurangan, menurut
peredaraan waktu.
Oleh
karena itu, kita menjumpai berbagai variasi untuk cerita rakyat di tempat yang
berlainan.
c).
Merupakan kepunyaan bersama. Soal hak
cipta tidak ada pada cerita rakyat. Tak
seorang pun yang mengaku sebagai pengarang cerita rakyat tertentu sehingga cerita
rakyat bersifat anomim.
d).
Sering memiliki unsur irama. Cerita pelipur lara senantiasa disampaiakan
pencerita senantiasa mengandung unsur irama yang menarik. Pengaturan ini agar
cerita lebih menghibur juga untuk memudahkan penceritaanya.
2.3 Jenis-Jenis Cerita Rakyat
2.3.1
Legenda
Legenda adalah cerita yang dipercaya
oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci
atau sakral yang membedakanya dengan mitos. Menurut WR. Bascom legenda adalah
cerita yang mempunyai cirri-ciri mirip dengan mite yakni dianggap benar-benar
terjadi, tetapi tidak dianggap suci.
Legenda sering memiliki keterkaitan
dengan sejarah dan kurang keterkaitan dengan masala supranatural. Legenda dapat
dipahami sebagai cerita magis yang sering dikaitkan dengan seorang, tokoh, peristiwa, dan tempat-tempat nyata,
Michael (Nurgiantoro, 2005:182).
Oleh karena itu orang sering menganggap
legenda sebagai cerita yang bersifat
historis walau fakta yang dianggap fakta itu kadar kesejaraannya masih perlu
dipertanyakan.
Rahman dalam Iper (2006:65) mengatakan
legenda dianggap benar-benar terjadi, ditokohkan manusia sakti dan berlokasi di
dunia. Legenda kebanyakan berisi tentang asal-usul terjadinya sesuatu yang ada
di dunia ini. Seperti asal-usul danau Toba, atau asla-usul gunung Sanbhampolulu
di Kabaena.
2.3.2
Mite
Istilah mite atau mitos dalam bahasa
Indonesia berasal dari bahasa Yunani “mythos”
yang berasal dari cerita dewata. Mitos
merupakan cerita masa lampau yang dimiliki bangsa-bangsa di dunia. Menurut
Bascom (Atmiawati, 2010:12) berpendapat bahwa mitos merupakan prosa rakyat yang
dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang punya cerita.
Mitos adalah cerita yang berkaitan dengan
dewa-dewa atau yang berkaitan dengan supranatural yang lain, juga sering
mengandung pendewaan manusia atau manusia keturunan dewa, Nurgiyantoro
(2005:24).
Mite disamping dianggap benar-benar
terjadi, juga diyakini kebenaran terjadinya, dan disajikan dalam bentuk
upacara-upacara suci. Mite ditokohi oleh dewa-dewa atau mahluk halus dan banyak
berlokasi di luar jangkauan panca indra manusia.
2.3.3 Donggeng
Dongeng pada dasarnya merupakan karya
prosa rakyat yang dihasilkan oleh masyarakat yang di dalam penuh dengan hal-hal
yang brupa khayalan dan diliputi unsure-unsur keajaiban. Nurgiantoro (2002:18)
memberi batasan bahwa dongeng adlah cerita rekaan yang penuh dengan fantasi,
sukar diterima dengan logika pikiran kita sekarang atau dengan kata lain
merupakan cerita yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama. Jadi dongeng
merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi, Ia
diceritakan sebagai hiburan, berisikan ajaran moral bahkan sindiran.
Selain itu, pada umumnya dongeng tidak terikan oleh waktu dan
tempat. Sebuah dongeng biasa mengunakan bahasa-bahasa klise dalam
pengungkapannya. Misalnya di awal cerita dimulai dengan kalimat “pada suatu
waktu” dan di akhiri dengan kalimat “demikianlah ceritanya”.
Stewig (Nurgiantoro, 2002:201) membagi
cerita rakyat dalam dua jenis :
a). Dongeng
klasik
Dongeng
klasik adalah dongeng yang ditokohi oleh manusia dan biasanya
adalah suka duka seseorang. Di Indonesia
dongeng biasa yang popular adalah bertipe Cinderella (tokoh wanita yang tidak
ada harapan hidupnya. Dongeng yang bertipe Cinderella ini bersifat universal
karena tidak hanya tersebat di Indonesia tapi juga di dunia.
b).
Dongeng modern
Dongeng
modern adalah dongeng fantasi modern. Sebagai genre dongeng modern,
cerita-erita itu sengaja dikreasikan oleh pengarang yang mencantumkan namanya.
Ia sengaja menulis sebagai salah satu bentuk karya sastra. Contoh cerita Herry
Potter (JK. Rowling)
2.2.4
Cerita
Binatang
Cerita binatang (fables) adalah salah
satu bentuk cerita yang ditokohi oleh binatang-binatang. Binatang-binatang itu
dalam cerita ini dapat bercerita dan berakal seperti manusia. Cerita binatang
seolah-olah hadir sebagai personifikasi manusia, baik yang menyangkut dengan
penokohan lengkap dengan karakternya maupun persoalan hidup yang
diungkapkannya. Di Indonesia, binatang-binarang itu adalah peladuk, kancil,
buanya atau kera ( Nurgiyantoro. 2002:190).
2.2.5
Cerita
Wayang
Wayang adalah sebuah wiracerita yang berpakem
pada dua karya besar, yakni Ramayana dan Mahabrata. Cerita wayang dan
pewayangan sebagaimana yang dikenal orang dewasa ini merupakan warisan budaya
nenek moyang yang telah bereksistensi sejak jaman prasejarah. Wayang telah
melewati berbagai peristiwa sejarah dari generasi ke generasi sebagai milik
bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.
2.2.6
Nilai-nilai
cerita Rakyat
Nilai
adalah hakikat suatu hal yang menyebapkan suatu hal tersebut pantas untuk
dijalankan oleh manusia, Anjarkora, dalam Evangelis (2001:89. Sesuatu dikatakan
bernilai apabila apabila sesuatu itu berguna antara lain nilai agama, nilai
sosial,dan nilai moral.
Suguhan
cerita rakyat pada akhirnya akan bermuara pada suatu misi, contoh-contoh atau
peringatan baik atau buruk. Sasaran akhir cerita adalah terjadinya proses
internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam cerita yang akan membentuk
perilaku, kepribadian, watak dan budi pekerti bagi pendengarnya. Ini karena
pada umumnya cerita rakyat mengandung nilai-nilai seperti ketekunan, kesabaran,
kejujuran, keikhlasan, kesetiaan, kepahlawanan, dan hormat pada orang tua dan
sesama manusia.
. Kajian Semiotik Roland Barthes
Semiotik atau ada yang menyebut dengan semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik inferensial (Sobur, 2004: 95). Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (Zoest, 1993: 1). Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Ahli sastra Teeuw (1984: 6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakannya menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun. Semiotik merupakan cabang ilmu yang relatif masih baru. Penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dipelajari secara lebih sistematis pada abad kedua puluh.
Salah satu tokoh semiotik terkenal ialah Roland Barthes. Ia menerapkan model Saussure dalam penelitiannya tentang karya-karya sastra dan gejala-gejala kebudayaan, seperti mode pakaian. Bagi Barthes komponen-komponen tanda penanda-petanda terdapat juga pada tanda-tanda bukan bahasa antara lain terdapat pada bentuk mite yakni keseluruhan sistem citra dan kepercayaan yang dibentuk masyarakat untuk mempertahankan dan menonjolkan identitasnya (Saussure,1988).
Barthes (dalam Saussure, 1988) menggunakan teori signifiant-signifie yang dikembangkan menjadi teori tentang metabahasa dan konotasi. Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin berkembang karena relasi ditetapkan oleh pemakai tanda. Menurut Barthes, ekspresi dapat berkembang dan membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama. Pengembangan ini disebut sebagai gejala metabahasa dan membentuk apa yang disebut kesinoniman (synonymy).
Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan awal yang dikenal dengan dengan istilah denotasi dan oleh Barthes disebut sistem primer. Kemudian pengembangannya disebut sistem sekunder. Sistem sekunder ke arah ekspresi disebut metabahasa. Sistem sekunder ke arah isi disebut konotasi yaitu pengembangan isi sebuah ekspresi. Konsep konotasi ini tentunya didasari tidak hanya oleh paham kognisi, melainkan juga oleh paham pragmatik yakni pemakai tanda dan situasi pemahamannya.
Dalam kaitan dengan pemakai tanda, kita juga dapat memasukkan perasaan sebagai (aspek emotif) sebagai salah satu faktor yang membentuk konotasi. Model Barthes demikian juga model Saussure tidak hanya diterapkan pada analisis bahasa sebagai salah satu aspek kebudayaan, tetapi juga dapat digunakan untuk menganalisis unsur-unsur kebudayaan.
Semiotik yang dikembangkan Barthes juga disebut dengan semiotika konotatif. Terapannya juga pada karya sastra tidak sekadar membatasi diri pada analisis secara semiosis, tetapi juga menerapkan pendekatan konotatif pada berbagai gejala kemasyarakatan. Di dalam karya sastra ia mencari arti ’kedua’ yang tersembunyi dari gejala struktur tertentu (Zoest, 1993: 4). Aliran semiotik yang dipelopori oleh Julia Kristeva disebut semiotika eksplanatif. Ciri aliran ini adalah adanya sasaran akhir untuk mengambil alih kedudukan filsafat. Karena begitu terarahnya pada sasaran, semiotik ini terkadang disebut ilmu total baru (de nieuwe totaalwetwnschap). Dalam semiotik ini pengertian tanda kehilangan tempat sentralnya. Tempat itu diduduki oleh pengertian produksi arti.
Penelitian yang menilai tanda terlalu statis, terlalu nonhistoris, dan terlalu reduksionalis, diganti oleh penelitian yang disebut praktek arti (betekenis praktijk). Para ahli semiotika jenis ini tanpa merasa keliru dalam bidang metodologi, mencampurkan analisis mereka dengan pengertian-pengertian dari dua aliran hermeutika yang sukses zaman itu, yakni psikoanalisis dan marxisme (Zoest, 1993: 5).
Bahasa dalam pemakaiannya bersifat bidimensional. Disebut dengan demikian, karena keberadaan makna selain ditentukan oleh kehadiran dan hubungan antarlambang kebahasaan itu sendiri, juga ditentukan oleh pemeran serta konteks sosial dan situasional yang melatarinya. Dihubungkan dengan fungsi yang dimiliki, bahasa memiliki fungsi eksternal juga fungsi internal. Oleh sebab itu selain dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan menciptakan komunikasi, juga untuk mengolah informasi dan dialog antardiri sendiri.
Kajian bahasa sebagai suatu kode dalam pemakaian berfokus pada (1) karakteristik hubungan antara bentuk, lambang atau kata satu dengan yang lainnya, (2) hubungan antar-bentuk kebahasaan dengan dunia luar yang di-acunya, (3) hubungan antara kode dengan pemakainya.
3. Simpulan
Dari analisis menggunakan metode lima kode Roland Barthes di atas, dapat disimpulkan mengenai amanat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita ini, yaitu:
1.Cinta akan muncul walaupun dengan waktu yang sangat singkat.
2.Cinta sejati tidak hanya muncul antara pria dan wanita tetapi juga muncul antara pria dan pria, walaupun itu dianggap tabu dalam masyarakat.
3.Hubungan sesama pria memang tidak gampang diterima di masyarakat. Apalagi di Indonesia yang mempunyai norma ketimuran.
4.Cinta sejati akan selalu hidup walapun telah terpisahkan oleh waktu.
4. Daftar Pustaka
Semiotik atau ada yang menyebut dengan semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik inferensial (Sobur, 2004: 95). Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (Zoest, 1993: 1). Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Ahli sastra Teeuw (1984: 6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakannya menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun. Semiotik merupakan cabang ilmu yang relatif masih baru. Penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dipelajari secara lebih sistematis pada abad kedua puluh.
Salah satu tokoh semiotik terkenal ialah Roland Barthes. Ia menerapkan model Saussure dalam penelitiannya tentang karya-karya sastra dan gejala-gejala kebudayaan, seperti mode pakaian. Bagi Barthes komponen-komponen tanda penanda-petanda terdapat juga pada tanda-tanda bukan bahasa antara lain terdapat pada bentuk mite yakni keseluruhan sistem citra dan kepercayaan yang dibentuk masyarakat untuk mempertahankan dan menonjolkan identitasnya (Saussure,1988).
Barthes (dalam Saussure, 1988) menggunakan teori signifiant-signifie yang dikembangkan menjadi teori tentang metabahasa dan konotasi. Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin berkembang karena relasi ditetapkan oleh pemakai tanda. Menurut Barthes, ekspresi dapat berkembang dan membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama. Pengembangan ini disebut sebagai gejala metabahasa dan membentuk apa yang disebut kesinoniman (synonymy).
Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan awal yang dikenal dengan dengan istilah denotasi dan oleh Barthes disebut sistem primer. Kemudian pengembangannya disebut sistem sekunder. Sistem sekunder ke arah ekspresi disebut metabahasa. Sistem sekunder ke arah isi disebut konotasi yaitu pengembangan isi sebuah ekspresi. Konsep konotasi ini tentunya didasari tidak hanya oleh paham kognisi, melainkan juga oleh paham pragmatik yakni pemakai tanda dan situasi pemahamannya.
Dalam kaitan dengan pemakai tanda, kita juga dapat memasukkan perasaan sebagai (aspek emotif) sebagai salah satu faktor yang membentuk konotasi. Model Barthes demikian juga model Saussure tidak hanya diterapkan pada analisis bahasa sebagai salah satu aspek kebudayaan, tetapi juga dapat digunakan untuk menganalisis unsur-unsur kebudayaan.
Semiotik yang dikembangkan Barthes juga disebut dengan semiotika konotatif. Terapannya juga pada karya sastra tidak sekadar membatasi diri pada analisis secara semiosis, tetapi juga menerapkan pendekatan konotatif pada berbagai gejala kemasyarakatan. Di dalam karya sastra ia mencari arti ’kedua’ yang tersembunyi dari gejala struktur tertentu (Zoest, 1993: 4). Aliran semiotik yang dipelopori oleh Julia Kristeva disebut semiotika eksplanatif. Ciri aliran ini adalah adanya sasaran akhir untuk mengambil alih kedudukan filsafat. Karena begitu terarahnya pada sasaran, semiotik ini terkadang disebut ilmu total baru (de nieuwe totaalwetwnschap). Dalam semiotik ini pengertian tanda kehilangan tempat sentralnya. Tempat itu diduduki oleh pengertian produksi arti.
Penelitian yang menilai tanda terlalu statis, terlalu nonhistoris, dan terlalu reduksionalis, diganti oleh penelitian yang disebut praktek arti (betekenis praktijk). Para ahli semiotika jenis ini tanpa merasa keliru dalam bidang metodologi, mencampurkan analisis mereka dengan pengertian-pengertian dari dua aliran hermeutika yang sukses zaman itu, yakni psikoanalisis dan marxisme (Zoest, 1993: 5).
Bahasa dalam pemakaiannya bersifat bidimensional. Disebut dengan demikian, karena keberadaan makna selain ditentukan oleh kehadiran dan hubungan antarlambang kebahasaan itu sendiri, juga ditentukan oleh pemeran serta konteks sosial dan situasional yang melatarinya. Dihubungkan dengan fungsi yang dimiliki, bahasa memiliki fungsi eksternal juga fungsi internal. Oleh sebab itu selain dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan menciptakan komunikasi, juga untuk mengolah informasi dan dialog antardiri sendiri.
Kajian bahasa sebagai suatu kode dalam pemakaian berfokus pada (1) karakteristik hubungan antara bentuk, lambang atau kata satu dengan yang lainnya, (2) hubungan antar-bentuk kebahasaan dengan dunia luar yang di-acunya, (3) hubungan antara kode dengan pemakainya.
3. Simpulan
Dari analisis menggunakan metode lima kode Roland Barthes di atas, dapat disimpulkan mengenai amanat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita ini, yaitu:
1.Cinta akan muncul walaupun dengan waktu yang sangat singkat.
2.Cinta sejati tidak hanya muncul antara pria dan wanita tetapi juga muncul antara pria dan pria, walaupun itu dianggap tabu dalam masyarakat.
3.Hubungan sesama pria memang tidak gampang diterima di masyarakat. Apalagi di Indonesia yang mempunyai norma ketimuran.
4.Cinta sejati akan selalu hidup walapun telah terpisahkan oleh waktu.
4. Daftar Pustaka
- Abrams, M.H. 1981. A Glosary of Literary Term. New York: Holt, Rinehart and Wiston.
- Aksana, Andrei. 2006. Lelaki Terindah. Jakarta: Gramedia.
- Aminuddin. 1988. Semantik : Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: Sinar Baru.
- Budiman, Manneke. 2002. “Indonesia: Perang Tanda” dalam Indonesia: Tanda yang Retak. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
- Endraswara, Suwardi. 2008a. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
- Endraswara, Suwardi. 2008b. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
- Hoed, Benny H. 2002. “Strukturalisme, Pragmatik dan Semiotik dalam Kajian Budaya,” dalam Indonesia: Tanda yang Retak. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
- Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
- Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
- Saussure, F. 1988. Course in General Linguistics. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
- Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosdakarya.
- Teeuw, A. 1984. Khasanah Sastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
- Widayani, Viena. 2006. Konsep Diri Pria Homoseksual (Studi Kasus di Kecamatan Kota Kabupaten Kudus). Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang.
- Zoest, Aart. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang kita Lakukan Dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
A.
Nilai
Berita
Sebuah
berita jika disajikan haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai berita
itu mencakup beberapa hal, seperti berikut.
1.
Objektif: berdasarkan fakta, tidak
memihak.
2.
Aktual: terbaru, belum
"basi".
3.
Luar biasa: besar, aneh, janggal,
tidak umum.
4.
Penting: pengaruh atau dampaknya
bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
5.
Jarak: familiaritas, kedekatan
(geografis, kultural, psikologis).
B.
Unsure-unsur berita
Berita yang baik umumnya harus
memenuhi unsur: 5 W + 1 H
Yakni: (Who, What, Where, When,
Why) + How
Atau : (Siapa, Apa, Dimana,
Kapan, Mengapa) + Bagaimana
Kriteria
Khusus:
1. kebijakan
redaksional/misi media. Masing-masing media memiliki kebijakan redaksional dan
misi yang berbeda.
2. Pendekatan
keamanan (ancaman pembredelan, dan sebagainya). Berita yang mengkritik keras
korupsi dan kolusi antara penguasa dan pengusaha bisa berujung pada pembredelan
atau teguran terhadap media yang bersangkutan. Atau bisa memakan korban
wartawan media itu sendiri, seperti kasus yang menyebabkan terbunuhnya wartwan
Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin.
3. kepekaan
masyarakat pembaca dan kemungkinan dampak negatif berita terhadap pembaca.
Misalnya untuk isu-isu yang menyangkut SARA (suku, Agama, Ras, dan antar
golongan). Atau bisa menyinggung perasaan atau martabat pembaca.
C. Proses
penulisan berita
1.
Penugasaan, apa yang layak diliput
2.
Pengumpulan, pastikan data yang cukup
3.
Evaluasi, terutama hal-hal yang penting
4.
Penulisan, penentuan pilihan kata/diksi
5.
Penyuntingan/ editor
D.
Macam Berita:
Dari
segi sifatnya, kita kenal dua macam: Hard News dan Soft News.
Hard News/Straight News:
berita yang lugas, singkat, langsung kepokok persoalan dan fakta-faktanya.
Biasanyaharus memenuhi unsur 5W+1H secara ketat dan harus cepat-cepat dimuat,
karena terlamba sedikit bisa basi. Istilah Hard News lebih mengacu pada isi
berita, sedangkan istilah Straight News lebih mengacu pada cara penulisannya
(struktur penulisanya).
Soft News:
beritayang dari segi struktur penulisannya relatif lebih luwes, dan dari segi
isi tidak terlalu berat. Soft news umumnyatidak terlalu lugas, tidak kaku, atau
ketat khususnya dalam soal waktunya. Misalnya tulisan untuk menggambarkan
kesulitan yang dihadapi rakyat kecil akibat krisis ekonomi. Selama krisis
ekonomi masih berlanjut, berita itu bisa diturunkan kapan saja. Biasanya lebih
banyak mengangkat aspek kemanusiaan (human interest).
Dari segi bentuknya,
soft news masih bisa kita perinci lagi menjadi dua: News Features dan Feature.
Feature adalah teknik
penulisan yang khas berbentuk luwes, tahan lama, menarik, strukturnya tidak
kaku, dan biasanya megangkat aspek kemanusiaan. Pada hakekatnya penulisan
feature adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata, ia
menghidupkan imajinasi pembaca, ia menarik pembaca kedalam cerita dengan
mengidentififkasikan diri dengan tokoh utama. Panjang tulisan feature
bervariasi dan boleh ditulis seberapa panjang pun, sejauh masih menarik.
Sedangkan News Feature
adalah Feature yang mengandung unsur berita. Misalnya tulisan yang menggambarkan
peristiwa penangkapan Tommy Suharto oleh polisi, yang diawali dengan penyadapan
telepon dengan bantuan Roy Suryo seorang pakar Multimedia dan Komunikasi,
pembongkaran ruang bawah tanah, sampai proses tertangkapnya disajikan secara
seru, menarik, dan dramatis. Seperti menonton film saja.
E. Struktur
penulisan berita
Ada
tiga bentuk susunan berita yaitu:
o paling
penting di bagian depan/awal dan seterusnya ke hal yang kurang penting, dan
ini adalah bentuk yang paling banyak
digunakan;
o bentuk
paralel yakni bentuk penulisan berita di mana bagian awal, tengah, dan akhir
memiliki bobot yang sama;
o
bentuk kronologis yakni bentuk penulisan berita
yang memaparkan informasi secara berurutan menurut proses waktu atau proses
peristiwanya .
F.
Cara penulisan teks berita
Penulisan berita harus memenuhi syarat
yaitu :
(1) berita yang ditulis harus berisi
fakta nyata,
(2) obyektif, berita yang ditulis harus sesuai dengan keadaan sebenarnya,
(3) berimbang, yakni berlandaskan pada kebenaran ilmu atau kebenaran
berita itu sendiri tanpa mengabdi pada sumber berita,
(2) obyektif, berita yang ditulis harus sesuai dengan keadaan sebenarnya,
(3) berimbang, yakni berlandaskan pada kebenaran ilmu atau kebenaran
berita itu sendiri tanpa mengabdi pada sumber berita,
(4)
akurat ,tepat dan jelas sasarannya,
(5)
berita yang ditulis hendaknya
lengkap/komplit.
N. 17 ciri utama bahasa berita yang berlaku
untuk semua bentuk media berkala tersebut. yakni :
sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata dan istilah asing, pilihan kata. (diksi) yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, sejauh mungkin menghindari pengunaan kata atau istilah-istilah teknis, dan tunduk kepada kaidah etika
sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata dan istilah asing, pilihan kata. (diksi) yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, sejauh mungkin menghindari pengunaan kata atau istilah-istilah teknis, dan tunduk kepada kaidah etika
A.
Definisi Wartawan
Wartawan
adalah orang yang hidup dan berkerja sebagai anggota redaksi surat kabar baik
sebagai redaksi yang bertanggung jawab terhadap isi berita maupun korespionden
yang mencari dan menyusun berita
B.
Jenis-jenis wartawan
1. Wartawan
yang tidak menerima amplop, yakni wartawan yang mengutamakan keprofesionalan
dalam menjalankan tugasnya sebagai wartawan.
2. Wartawan
yang menerima amplop, yakni menerima uang diluar gaji sebagai wartawan terutama
dalam pencarian berita yang sering meminta imabalan.
3. Wartawan
yang memperalat pers untuk mendapatkan uang
C.
Syarat-syarat wartawan
1. Tahu
yang menarik
2. Selalu
ingin tahu, dalam mecari berita selalu mangunakan 5 W + 1 H
3. Mampu
observasi
D.
Jenis –jenis observasi
1. Observasi
partisipankan, yakni wartawan terlibat langsuang dalam peliputan berita
2. Observasi
nonpartisipankan, yakni wartawan tidak terlibat langsung namun mengambil berita
melalui saksi yang akurat
3. Observasi
diam-diam, yakni wartawan yang mencari berita dengan menyamarkan diri dan
menyusup diam-diam terhadap obyek peliputan
E.
Sumber berita
1.
Observasi langsung dan tidak
langsung dari situasi berita.
2.
Proses wawancara.
3.
Pencarian atau penelitian
bahan-bahan melalui dokumen publik.
4.
Partisipasi dalam peristiwa.
F.
System Beat
a.
Keuntungannya :
1. Sumber
yakni pengembangan sumber menjadi keuntungan utama karena hubungan yang dekat
dengan sumber berita membuat wartawan mudah mendapatkan berita dengan akses
langsung
2. Kontinuitas,
yakni wartwan yang selalu bersama sumber berita menjadikan berita yang
diliputnya berkesimambungan dan pengembangan beritanya menjadi akurat, lengkap
dan bebas dari kekeliruan.
3. Pengamatan,
yakni peliputan yang rutin terhadap suatu berita akan membantu wartawan
mengenal lingkungan atau kondisi sehingga menghasilkan berita yang berkualitas
b.
Kekurangannya :
1. Perkoncoan
2. Prasangka
3. Lamur
4. Ego
5. Sempit
6. Melemah
G. Menulis
berita
Ada lima syarat menulis berita, yaitu:
1.
Kejujuran: apa yang dimuat dalam berita harus
merupakan fakta yang benar-benar terjadi. Wartawan tidak boleh memasukkan fiksi
ke dalam berita.
2.
Kecermatan: berita harus benar-benar seperti
kenyataannya dan ditulis dengan tepat. Seluruh pernyataan tentang fakta maupun
opini harus disebutkan sumbernya.
4.
Kelengkapan dan kejelasan:
Berita yang lengkap adalah berita yang memuat jawaban atas pertanyaan who, what, why, when, where, dan how.
Tulisan harus ringkas namun tetap jelas yaitu memuat semua informasi
penting.
Berita yang lengkap adalah berita yang memuat jawaban atas pertanyaan who, what, why, when, where, dan how.
Langganan:
Komentar (Atom)