Analisis sastra
|
Puisi sebagai salah satu
jenis sastra merupakan pernyataan
sastra yang paling inti. Segala unsur seni kesastraan mengental dalam puisi. Oleh karena itu, puisi dari dahulu hingga
sekarang merupakan pernyataan seni sastra yang
paling baku. Membaca puisi merupakan sebuah kenikmatan seni sastra yang khusus, bahkan
merupakan puncak kenikmatan seni sastra. Sehingga dari
dahulu hingga sekarang puisi selalu
diciptakan orang dan selalu dibaca,
dideklamasikan untuk lebih merasakan kenikmatan
seninga dan nilai kejiwaanya
yang tinggi. Dari dulu hinggga sekarang karya sastra puisi digemari
oleh semua aspek masyarakat. Karena kemajuan masyarakat dari waktu kewaktu
selalu meningkat, maka corak, sifat,
dan bentuk puisi selalu berubah,
mengikuti perkembangan selera, konsep estetika yang selalu
berubah dan kemajuan
intelektual yang selalu meningkat. Karena itu,
pada waktu sekarang wujud
puisi semakin kompleks dan semakin terasa sehingga lebih menyukarkan
pemahamnya. Begitu juga halnya corak dan wujud puisi Indonesia modern. Lebih-lebih hal ini disebabkan oleh hakekat puisi yang merupakan inti pernyataan yang padat
itu.
|
ya
benar-benar ekspresi jiwa, creatio, bukan mimiesis. Namun demikian kadang-kadang
penyair realis juga bersikap ekspresionalisme, yakni jika ekspresi jiwanya
itu tidak berlebih-lebihan, tetapi apa adanya. Ekspresi jiwa yang berlebihan
cenderung bersifat emosional adalah cirri-ciri kaum romantisme.
Sajak ekspresionalisme tidak
mengambarkan alam atau kenyataan, juga
bukan penggambarann kesan terhadap alam
atau kenyataan, tetapi cetusan langsung dari jiwa. Cetusan itu dapat bersifat mendarah daging, seperti sajak “aku” karya
Chairil Anwar di bawah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar