Minggu, 27 Mei 2012


Analisis sastra

Puisi sebagai salah satu jenis sastra merupakan  pernyataan sastra yang paling inti. Segala unsur seni kesastraan  mengental dalam puisi.  Oleh karena itu, puisi dari dahulu hingga sekarang  merupakan  pernyataan seni sastra  yang  paling baku.  Membaca  puisi merupakan  sebuah kenikmatan  seni sastra yang khusus, bahkan merupakan  puncak  kenikmatan seni sastra. Sehingga dari dahulu hingga sekarang  puisi selalu diciptakan  orang dan selalu dibaca, dideklamasikan  untuk lebih merasakan  kenikmatan  seninga dan nilai kejiwaanya  yang tinggi. Dari dulu hinggga sekarang karya sastra puisi digemari oleh semua aspek masyarakat. Karena kemajuan masyarakat dari waktu kewaktu selalu meningkat, maka corak, sifat,  dan bentuk puisi selalu berubah,  mengikuti perkembangan selera, konsep estetika  yang selalu  berubah  dan kemajuan intelektual  yang selalu meningkat.  Karena itu,  pada waktu sekarang  wujud puisi  semakin kompleks  dan semakin terasa sehingga lebih  menyukarkan  pemahamnya. Begitu juga halnya corak dan wujud puisi  Indonesia modern. Lebih-lebih  hal ini disebabkan  oleh hakekat puisi  yang merupakan inti pernyataan yang padat itu. 
ya  benar-benar ekspresi jiwa, creatio, bukan mimiesis. Namun demikian  kadang-kadang  penyair realis juga  bersikap  ekspresionalisme, yakni jika ekspresi jiwanya itu tidak berlebih-lebihan, tetapi apa adanya. Ekspresi jiwa yang berlebihan cenderung bersifat emosional adalah cirri-ciri kaum romantisme.
Sajak ekspresionalisme tidak mengambarkan  alam atau kenyataan, juga bukan penggambarann  kesan terhadap alam atau kenyataan, tetapi cetusan langsung dari jiwa. Cetusan itu dapat bersifat  mendarah daging, seperti sajak “aku” karya Chairil Anwar di bawah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar