Sabtu, 26 Mei 2012


PENGGUNAA N HURUF  KAPITAL  DALAM  MENGARANG BEBAS
SISWA KELAS V SD NEGERI 020 SEBENGKOK TARAKAN
TAHUN PEMBELAJARAN 2008/2009
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang berkaitan dengan pengungkapan pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan tersebut adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis sebagai keterampilan berbahasa yang bersifat produktif-aktif merupakan salah satu kompetensi dasar berbahasa yang harus dimiliki siswa agar terampil berkomunikasi secara tertulis. Siswa akan terampil mengorganisasikan gagasan dengan runtut, menggunakan kosakata yang tepat dan sesuai, memperhatikan ejaan dan tanda baca yang benar, serta menggunakan ragam kalimat yang variatif dalam menulis jika memiliki kompetensi menulis yang baik.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan di kelas, ditemukan bahwa menulis kerap kali menjadi suatu hal yang kurang diminati dan kurang mendapat respon yang baik dari siswa. Siswa tampak mengalami kesulitan ketika harus menulis. Siswa tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika pembelajaran menulis dimulai. Mereka terkadang sulit sekali menggunakan ejaan yang tepat di didalam karangan. Siswa kerap menghadapi sindrom kertas kosong (blank page syndrome) tidak tahu apa yang akan ditulisnya. Mereka takut salah, takut berbeda dengan apa yang diinstruksikan gurunya.
Keterampilan menulis di kelas terkadang juga hanya diajarkan pada saat
-1-
pembelajaran menulis saja, pahadal pembelajan keterampilan menulis dapat dipadukan atau diintegrasikan dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Pengintegrasian itu dapat bersifat internal dan eksternal. Pengintegrasian internal berati pembelajaran menulis diintegrasikan dalam pembelajaran keterampilan bebahasa yang lain. Menulis dapat pula diintegrasikan secara eksternal dengan mata pelajaran lain diluar mata pelajaran bahasa Indonesia.
Kecenderungan lain yang terjadi adalah pola pembelajaran menulis di kelas yang dikembangkan dengan sangat terstruktur dan mekanis, mulai dari menentukan topik, membuat kerangka, menentukan ide pokok paragraf, kalimat utama, kalimat penjelas, ketepatan penggunaan pungtuasi dan sebagainya. Pola tersebut selalu berulang tiap kali pembelajaran menulis. Pola tersebut tidak salah, tetapi pola itu menjadi kurang bermakna jika diterapkan tanpa variasi strategi dan teknil lain. Akibatnya, waktu pembelajaran pun lebih tersita untuk kegiatan tersebut, sementara kegiatan menulis yang sebenarnya tidak terlaksana atau sekedar menjadi tugas di rumah. Kegiatan menulis seperti ini bagi siswa menjadi suatu kegiatan yang prosedural dan menjadi tidak menarik. Penekanan pada hal yang bersifat mekanis adakalanya membuat kreatifitas menulis tidak berkembang karena hal itu tidak mengizinkan gagasan tercurah secara alami. Bahkan, Tompokins (1994:105) menegaskan bahwa terlalu menuntut kesempurnaan hasil tulisan dari siswa justru dapat menghentikan kemauan siswa untuk menulis.
Pembelajaran menulis juga sering membingungkan siswa karena
-2-
pemilahan-pemilihan yang kaku dalam mengajarkan jenis-jenis tulisan atau jenis-jenis paragraf, seperti narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi. Pengategorian yang kaku itu membuat siswa menulis terlalu berhati-hati karena takut salah, tidak sesuai dengan jenis karangan yang dituntut. Padahal, ketakutan untuk berbuat salah tersebut dapat mematikan kreativitas siswa untuk menulis.
Dalam pelajaran bahasa Indonesia, Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tertulis. Menulis merupakan suatu kegiatan bahasa yang produktif dan ekspresif. Seorang penulis haruslah terampil memanfaatkan, mempergunakan struktur bahasa, kosakata, dan ejaan bahasa yang tepat. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik menulis secara teratur.
Keterampilan menulis merupakan ciri dari orang yang memiliki tingkat intelektual yang tinggi. Keterampilan menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa (menulis, membaca, berbicara, dan mendengarkan). Menulis bukanlah pekerjaan yang mudah, menulis haruslah penuh ketelitian, kesabaran, keuletan, serta mampu mencari dan menemukan ide, gagasan yang dapat dituangkan ke dalam tulisan.
Di lingkungan pendidikan (sekolah), tingkat kemampuan siswa dalam menyerap serta memahami pelajaran sangatlah berbeda. Ada siswa yang begitu cepat mengerti pelajaran, tetapi ada juga yang lambat. Jika guru mampu melihat
-3-
potensi ini, sepatutnya siswa diarahkan dan dibekali ilmu yang sesuai dengan daya tangkapnya, sehingga kemampuan siswa akan benar-benar dapat diketahui dan diukur untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam menulis karangan.
Pelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada saat ini lebih cenderung diarahkan pada hal-hal yang bersifat praktik. Siswa dituntut terampil dalam menulis, membaca, mendengarkan, dan berbicara. Menulis karangan, tidak semua siswa dapat mengerjakannya dengan baik. Mereka cenderung merasa bingung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar