BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Objek
kajian karya sastra dapat berupa karya sastra tulis maupun sastra lisan.
Sastra
tulis adalah sastra yang teksnya berisi cerita yang sudah ditulis atau
dibukukan,
sedangkan sastra lisan adalah cerita atau teks yang bersifat kelisanan,
dan
diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi berikutnya. Teks lisan yang
cukup
terkenal dalam masyarakat adalah cerita rakyat.
Cerita
rakyat adalah bagian dari hasil kebudayaan masyarakat pendukung
suatu
kebudayaan. Masyarakat atau kolektif mewariskan cerita rakyat secara turun
temurun,
secara tradisional, ada yang secara lisan sehingga cerita tersebut dapat
menjadi
versi-versi cerita yang berbeda menurut pembacanya (Danandjaja, 2002:
4).
Cerita rakyat mempunyai sifat kelisanan diturunkan dari generasi ke generasi
selanjutnya
melalui tradisi1.
Cerita
rakyat lahir dan berkembang dalam masyarakat yang tersebar di
berbagai
pelosok nusantara, termasuk yang lahir dan berkembang di Jawa
khususnya
dalam masyarakat Jawa Tengah. Salah satunya adalah cerita rakyat
tentang
Kitab Blawong.
Cerita
tentang Kitab Blawong terdapat pada masyarakat desa Pringapus
Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah. Cerita tersebut terkait dengan cerita magis2
tentang
sebuah Al Quran tulisan tangan yang ditulis Syekh Basyaruddin yaitu
seorang
penyebar agama Islam di Pringapus.
Dalam
perkembangannya, cerita tersebut mulai hilang dalam masyarakat.
Hal
tersebut menjadi catatan, mengingat cerita rakyat tersebut dahulu dipercaya
oleh
masyarakat karena benar-benar terjadi. Hal ini dibuktikan dengan
peninggalan
berupa makam, Al Quran, petilasan batu besar, kolah dan masjid
yang
ada di desa Pringapus.
(1)
Berdasarkan
pengamatan penulis sampai saat ini, cerita rakyat Kitab Blawong belum pernah
diteliti. Hal itu dibuktikan dengan tidak terdapat
dokumentasi
berbentuk apapun terkait dengan cerita mengenai kitab Blawong
pada
masyarakat maupun arsip Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten
Semarang.
Kondisi
di atas merupakan dasar bagi penulis untuk meneliti Cerita Rakyat
Kitab
Blawong (selanjutnya disingkat CRKB). Penelitian ini diarahkan pada
pendokumentasian
cerita dan penemuan makna CRKB bagi masyarakat desa
Pringapus
sendiri.
B.
Perumusan Masalah
Penelitian
tentang CRKB, difokuskan kepada pertanyaan-pertanyaan berikut:
pertama,
bagaimana tanggapan masyarakat terhadap CRKB termasuk versiversinya;
Atas
dasar tersebut selanjutnya pertanyaan kedua adalah bagaimana
resepsi
masyarakat; serta yang ketiga, bagaimana masyarakat memberi makna
terhadap
CRKB
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
pada rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.
Mengungkap penyebaran dan resepsi masyarakat Pringapus terhadap
CRKB
2.
Mengungkap makna CRKB dan relevansinya bagi masyarakat.
Untuk
dapat mencapai tujuan tersebut, akan penulis deskripsikan terlebih dahulu
suntingan
teks CRKB.
D.
Manfaat Penelitian
Manfaat
teoretis penelitian ini dalam kaitan pemanfaatan teori resepsi sastra
adalah
supaya dapat diketahui penyebaran dan resepsi masyarakat Pringapus
terhadap
keberadaan CRKB; serta dapat diketahuinya makna CRKB dan
relevansinya
bagi masyarakat Pringapus.
Sementara
manfaat praktis penelitian ini adalah diperoleh deskripsi cerita
KitabBlawong
secara
lengkap bagi masyarakat pendukung CRKB maupun
masyarakat
luas termasuk peneliti selanjutnya.
(2)
E.
Tinjauan Pustaka
1.
Penelitian Terdahulu
Beberapa
penelitian yang berobjek folklor, kajian cerita rakyatlah yang paling
banyak
diteliti (Danandjaja, 2002: 12). Penelitian terdahulu yang objek kajiannya
cerita
rakyat di antaranya adalah:
a.
Mudjahirin Thohir (Thohir, 1999) meneliti cerita Ki Joko Sungging pada
masyarakat
desa Sukodono Jepara dengan judul ”Fungsi Legenda Ki Joko
Sungging
bagi orang-orang Jepara”. Penelitian ini berupa
pendokumentasian
cerita rakyat milik masyarakat desa Sukodono Jepara
yang
berkisah tentang perjalanan Joko Sungging yang terkenal sangat
pandai
mengukir. Keahlian Joko Sungging tersebut terkenal sampai ke
istana
bahkan raja pun tertarik untuk menitahkan joko Sungging untuk
mengukir
permaisuri raja yang parasnya cantik jelita. Selain pandai
mengukir
ternyata Joko Sungging juga mempunyai kesaktian. Dia dapat
mengetahui-
tanpa melihat- bahwa sang permaisuri mempunyai tahi lalat
di
daerah kemaluannya. Ketika melihat patung permaisuri tersebut sang
raja
seketika marah dan menuduh Joko Sungging telah berbuat tidak
pantas
kepada sang permaisuri. Maka Joko Sungging dihukum oleh raja
karena
dianggap berselingkuh dengan permaisurinya lalu dibuang dengan
cara
diterbangkan bersama alat ukirnya. Akhir cerita dikisahkan joko
Sungging
terbang ke arah timur konon sampai ke negeri Jepang.
Sepanjang
tempat dia menjatuhkan alat ukirnya satu per satu sambil berkata bahwa kelak
tempat tersebut akan ramai dan warganya
bermatapencaharian
sesuai dengan alatnya yang jatuh, contoh pada saat
menjatuhkan
tatah dia berkata kalau kelak orang-orang yang tinggal di
daerah
tersebut akan pandai mengukir dan ternyata tempat tersebut adalah
daerah
Jepara.
Dari
studi Mudjahirin Thohir di atas, dapat diketahui bahwa fungsi
cerita
rakyat bagi folknya (yaitu masyarakat Jepara), ternyata tidak saja
menjadi
sumber identitas, dan perasaan superior, teapi juga mendorong
semangat.
Dalam hal ini cerita Ki Joko Sungging tersebut, mendorong
(3)
folknya
untuk menekuni dunia ukir.
b.
Dinas P dan K Jawa Tengah melakukan penelitian mengenai Upacaraupacara
Tradisional
yang ada Kaitannya dengan Ceritera Rakyat yang
terdapat
di Wilayah Jawa Tengah (1987 – 1988). Peneltian ini hanya berisi
inventarisasi
upacara tradisional yang terdapat di daerah Jawa tengah yang
mempunyai
cerita rakyat yang menyertai upacara tradisonal tersebut.
Penelitian
yang berobjek cerita yang terkandung dalam tradisi masyarakat
ini
tidak memfokuskan pada analisis cerita. Hasil penelitian hanaya berupa
suntingan
cerita saja dan prosesi upacara. Dengan demikian, dalam
penelitian
ini tidak ditemukan analisis cerita menggunakan teori apapun.
Objek
penelitian ini adalah upacara tradisional yang terdapat di daerah:
1.
Kabupaten Semarang yaitu upacara tradisional malam selikuran; 2.
Kabupaten
Grobogan; 3. Kabupaten Kudus; 4. Kotamadya Magelang; 5. Kabupaten Sragen; 6.
Kabupaten Batang; 7. Kabupaten Blora dan 8.
Kabupaten
Purbalingga
c.
Dwi Sulistyorini yang mengkaji mengenai ”Mitos Masyarakat terhadap
Cerita
Rakyat tentang Sumur dan Sedekah Laut di kecamatan Sarang
Kabupaten
Rembang”(1999). Dalam penelitian ini berisi tentang deskripsi
cerita
rakyat mengenai sebuah sumur yang dianggap keramat dan tradisi
sedekah
laut yang dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Sarang
Kabupaten
Rembang. Akan tetapi pada penelitiannya Dwi tidak
menganalisis
objek penelitiannya dengan teori apapun.
d.
Mugiharto meneliti cerita Joko Poleng dengan judul Skripsinya ”Cerita
Joko
Poleng Suatu Penelitian Sastra Lisan” (2000). Tinjauan tentang
Struktur
Sastra Sejarah Tema dan Fungsi. Penelitian ini hanya
mendeskripsikan
cerita rakyat tentang tokoh masyarakat di daerah Brebes
yang
dianggap sakti. Pada penelitian ini objek kajian dianalisis dari segi
struktural
saja bahkan analisis hanya pada tema cerita serta fungsi cerita
yang
ada. Mugiharto menggolongkan cerita yang ditelitinya sebagai cerita
(4)
sastra
sejarah karena dianggap pernah terjadi dan terdapat bukti peninggalan.
e.
Muayyanah dalam penelitian mengenai ”Ritual Mandi pada tanggal satu
Syura
di desa Nyatnyono” (2001). Pada penelitian ini Tarwiyah
mendeskripsikan
tentang tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat sekitar desa Nyatnyono
pada tanggal 1 Muharam yang dalam tradisi Jawa
disebut
Syura.
Pada
penelitian ini hanya diuraikan mengenai asal usul ritual mandi
yang
biasa diadakan pada tanggal 1 Muharam di daerah Nyatnyono
kecamatan
Ungaran kabupaten Semarang tanpa analisis yang lebih
mendalam
mengenai cerita yang menyertai ritual tersebut.
f.
Laura Andri Retno dalam penelitiannya mengkaji mengenai ”Mitos Cerita
Ondorante
yang berkembang dalam masyarakat desa Parenggan, Pati”
(2003).
Penelitian ini berisi tentang kepercayaan masyarakat di desa
Parenggan
kabupaten Pati tentang seorang tokoh yang dianggap sakti
bernama
Ondorante. Tokoh dalam cerita rakyat tersebut dianggap sebagai
leluhur
bagi masyarakat pendukungnya. Dalam cerita rakyat ini terdapat
beberapa
versi yang muncul dalam masyarakat yang percaya -berpihak
dengan
tokoh dan masyarakat yang tidak sependapat dengan tokoh. Bagi
masyarakat
yang kurang percaya dan tidak berpihak pada Ondorante
mengisahkan
bahwa Ondorante dikenal sebagai seseorang yang tidak mau
diatur
bahkan dapat disebut orang yang mbalelo ( Jawa: membelot)
terhadap
ajaran kebaikan yang dianut masyarakat saat itu. Akan tetapi bagi
masyarakat
yang percaya dan berpihak pada tokoh Ondorante
mengisahkan
bahwa sebenarnya dia adalah seseorang yang lembut hatinya
dan
memiliki kesaktian yang luar biasa. Konon, dia sulit untuk dikalahkan
tetapi
mempunyai satu kelemahan. Banyak pihak yang ingin menyingkirkan Ondorante
dengan berbagai cara. Akan tetapi biasanya
gagal
karena tidak mengetahui kelemahannya. Pada akhirnya Ondorante
terjebak
oleh seorang wanita yang diutus oleh lawannya untuk mengetahui
(5)
kelemahannya.
Ternyata kelemahannya adalah apabila ketika dibunuh, jasadnya harus dipotong
dan dibuang terpisah. Pada penelitian ini hanya dianalisis mengenai cerita
Ondorante
terkait
dengan mitos dan fungsi cerita bagi masyarakat Parenggan. Penulis
dalam
penelitian ini tidak menyertakan analisis lain menggunakan teori penelitian
sastra.
Penelitian-penelitian
tersebut di atas sebagian besar hanya mengkaji cerita rakyat
dari
segi struktural saja tanpa dianalisis secara mendalam. Oleh karena itu, pada
penelitian
ini, penulis akan menyajikan deskripsi cerita yang utuh dan akan
dianalisis
secara mendalam mengenai keberadaan cerita dan tanggapan
masyarakatnya
sehingga tujuan untuk mengungkap makna cerita berkaitan
dengan
keberadaan Kitab Blawong bagi masyarakat desa Pringapus sebagai
penikmat
cerita dapat tercapai.
BAB II
LANDASAN TEORI
Keseluruhan
proses berpikir untuk memahami objek dari berbagai sisi merupakan
penjelasan
tentang teori. Untuk itu, teori dapat didefinisikan sebagai seperangkat
penjelasan
logik yang memiliki nilai-nilai keilmiahan yang berguna dan relevan
untuk
dapat dipakai mendekati objek (masalah) yang akan dipelajari3.
Teori
yang penulis pergunakan, ialah teori yang umum digunakan dalam
studi-studi
Folklor sebagaimana dilakukan oleh Danandjaja (2000). Inti dari teori
yang
dikembangkan Danandjaja ialah (1). apa itu cerita rakyat, (2). apa isi dan
fungsinya,
serta (3). bagaimana memahaminya.
Cerita
rakyat merupakan bagian dari hasil kebudayaan masyarakat
pendukung
suatu kebudayaan (kolektifnya) yang diwariskan secara turun temurun,
secara
tradisional atau secara lisan sehingga menimbulkan timbulnya versi-versi
cerita
yang berbeda, baik secara lisan maupun yang sebagian lisan yang disertai
dengan
alat bantu pengingat atau mnemonic device (Danandjaja, 2002: 4).
Cerita
rakyat memiliki ciri-ciri: (1). bersifat lisan; (2). bersifat tradisional;
(3).
“ada” dalam versi-versi yang berbeda; (4). biasanya berkecenderungan untuk
mempunyai
bentuk berumus; (5). biasanya sudah tidak diketahui lagi nama
(6)
penciptanya
(anonim); (6). mempunyai fungsi dalam kolektif yang memilikinya;
(7).
bersifat pralogik; (8). menjadi milik bersama; (9). bersifat polos atau spontan
(Danandjaja,
2002 : 3 – 5 ).
CRKB
merupakan salah satu cerita rakyat yang memiliki hampir semua
ciri
cerita rakyat tersebut di atas. Dalam cerita prosa rakyat terdapat pembagian
yang menurut William R Bascom dapat dibagi menjadi tiga golongan besar,yaitu
mite
(myth), legenda (legend), dan dongeng (folktale) (Bascom,
1965b: 4).
William
R Bascom (dalam Danandjaja 2002: 50), mendefinisikan ketiga hal
tersebut
sebagai berikut:
Mite
merupakan
cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta
dianggap
suci oleh empunya cerita. Ditokohi oleh para para dewa atau
makhluk
setengah dewa. Peristiwa terjadi didunia lain atau di dunia yang
bukan
seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa
lampau.sedangkan
Legenda
adalah
prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan
Mite,
dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Ditokohi
manusia
walaupun adakalanya mempunyai sifat luar biasa. Dan seringkali
juga
dibantu makhluk-makhluk ajaib (gaib). Tempat terjadinya adalah dunia
seperti
yang kita kenal sekarang ini. Karena waktu terjadinya belum terlalu
lampau.
Dongeng
merupakan
prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi
oleh
yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun
tempat.
Penggolongan
di atas diperoleh identitas bahwa CRKB dipercaya dan
disakralkan
oleh masyarakat Pringapus karena dianggap benar terjadi dan terdapat
perlakuan
khusus terhadap peninggalan CRKB yang berujud Al Quran tulisan
tangan
tersebut. Masyarakat Pringapus menganggap bahwa CRKB benar-benar
(7)
pernah
terjadi dalam kehidupan masyarakat Pringapus pada masa lampau.
Berdasarkan
penggolongan R Bascom di atas CRKB masuk pada kategori
legenda.
CRKB masuk pada kategori legenda, CRKB dimasukkan pada kategori
legenda
dapat dijelaskan karena di dalam CRKB berisi cerita yang dianggap
benar
pernah terjadi di masa lampau tentang wali dan peninggalannya, yang
tokohnya
adalah manusia biasa akan tetapi memiliki kemampuan luar biasa.
Dalam
hal ini adalah seorang Waliullah bernama Syekh Basyaruddin beserta
peninggalannya yang berupa Al Quran yang dijuluki Kitab Blawong. Akan
tetapi
berdasarkan
teori yang disampaikan Van Peursen, CRKB dapat pula dimasukkan
dalam
tataran mitos. Hal ini dapat dijelaskan karena ciri mitos yang disampaikan
oleh
Van Peursen juga sesuai dengan ciri yang dimiliki oleh CRKB. Ciri mitos
menurut
Van Peursen adalah:
Berdasarkan
ciri-ciri yang dimiliki cerita rakyat, CRKB juga memiliki ciri
yaitu
bersifat lisan; bersifat tradisional; merupakan milik bersama masyarakat
Pringapus;
memiliki fungsi bagi masyarakatnya tersebut; dan juga tersebar dalam
beberapa
versi. Hal ini membuktikan bahwa cerita tersebut tumbuh dan
berkembang
dalam masyarakat Pringapus.
Berdasarkan
fenomena yang terdapat di masyarakat tersebut CRKB dapat
dimasukkan
dalam khasanah sastra nusantara maupun sastra daerah karena
memiliki
ciri sesuai definisi sastra daerah yaitu sastra yang lahir dan berkembang
secara
tradisional dalam masyarakat Indonesia. Cerita rakyat juga merupakan
karya
sastra yang beredar secara lisan (Danandjaja, 2002: 21) CRKB merupakan
salah
satu ujud sastra daerah yang berkaitan dengan kehidupan sosial
masyarakatnya,
dalam hal ini sebagai penikmat cerita atau pembaca.
Upaya
untuk mendapatkan tanggapan atau resepsi penikmat cerita
terhadap
CRKB dibutuhkan analisis yang sesuai, dalam hal ini teori yang tepat
untuk
menganalisi resepsi masyarakat terhadap CRKB adalah Teori Resepsi
Sastra.
Teori Resepsi Sastra pada tataran dasar secara singkat dapat disebut
sebagai
teori yang menjelaskan bahwa teks sastra (lisan maupun tulis) dengan
bertitik
tolak pada pembaca (penikmat) yang memberi reaksi atau tanggapan terhadap teks
(8)
tersebut
(Abdullah, 1994: 148). Resepsi sastra yang oleh Jauss disebut sebagai estetika
resepsi, adalah estetika (ilmu keindahan) yang didasarkan pada
tanggapan-tanggapan atau resepsi-resepsi pembaca terhadap karya sastra. Karya
sastra tidak mempunyai arti tanpa pembaca atau penikmat sastra yang
menanggapinya. Karya sastra mempunyai nilai karena ada pembaca yang menilai
(Pradopo,
1995: 206).
Estetika
Resepsi atau Resepsi Sastra memberikan perhatian utama kepada
pembaca
karya sastra di antara jalinan segitiga pengarang, karya sastra dan
masyarakat
pembaca (Jauss, 1974: 12). Pada penelitian ini objek analisis adalah
cerita
rakyat yang tergolong dalam kategori karya sastra lisan. Cerita rakyat
merupakan
irri tanda yang ada dalam masyarakat. Masyarakat berusaha untuk
memaknai
tanda ataupun makna yang terkandung dalam cerita yang berbentuk
cerita
lisan. Kemudian muncullah istilah horizon harapan yang berpijak dari
perbedaan
pemahaman masing–masing pembaca. Horizon harapan merupakan
interaksi
antara karya sastra dan pembaca atau penikmat dan mencakup
interpretasi
dalam masyarakat (Jauss, 1974: 204).
Seperti
irri yang dimiliki CRKB di atas, yaitu bersifat lisan; bersifat
tradisional;
merupakan milik bersama masyarakat Pringapus; dan memiliki fungsi
bagi
masyarakatnya tersebut. Ciri lain dari cerita lisan adalah adanya versi yang
bersumber
dari penambahan maupun pengurangan cerita akibat pengaruh
“kemampuan”
penerimaan cerita. Dalam hal ini dapat diuraikan menggunakan
teori
Resepsi Sastra pada tesis keempatnya Jauss yang disebut dengan dengan
“semangat
zaman” Tesis keempat Resepsi Sastra (Jauss, 1974:25). Tesis keempat ini
menjelaskan tentang penerimaan masing-masing periode terhadap sebuah
sastra
(dapat berupa cerita) yaitu perubahan yang terjadi pada setiap periode.
Dalam
teorinya tersebut Jauss mengklasifikasikan sastra sebagai sebuah
pengalaman
yang dimiliki oleh pembaca. Dalam kaitan dengan CRKB resepsi ini
dikategorikan
pada kemampuan penerimaan yang mencakup kemampuan
menerima,
memahami dan menceritakan kembali CRKB.
(9)
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini terdiri atas tiga tahapan penelitian menggunakan teori filologi yang
digabungkan
dengan metode folklor. Berdasarkan metode penelitian filologi,
maka
penelitian ini menggunakan langkah kerja filologis yaitu: (1). Inventarisasi
teks
(teks berupa cerita); (2). Deskripsi teks; (3). Transliterasi dan transkripsi
teks;
(4).
Suntingan teks. Sementara pada tahap kerja folklor dilakukan tiga tahap (1).
Pengumpulan
data (inventarisasi); (2). Penggolongan data (klasifikasi); dan
(3).
Analisis
data (Danandjaja,1980: 1). Dengan harapan mencapai tujuan penelitian
tersebut
di atas, maka penelitian ini dilakukan melalui proses penelitian folklor
secara
lengkap.
Proses
awal penelitian, dilakukan dengan inventarisasi teks, deskripsi
cerita,
dan transkripsi cerita untuk mendapatkan suntingan cerita yang lengkap
dan
utuh. Dari inventarisasi data tersebut diperoleh cerita yang tersebar dalam
memori
masyarakat Pringapus yang masih dalam ujud cerita lisan berbahasa
Jawa.
Proses selanjutnya adalah mentransliterasi dan mentranskripsi cerita dengan
mengubah
bahasa yang sesuai ke dalam Bahasa Indonesia. Dari semua langkah kerja yang
sudah dilakukan tersebut didapatkan suntingan cerita yang lengkap
tentang
CRKB.
Langkah
selanjutnya menemukan struktrur cerita yang ada dalam
masyarakat
Pringapus. Berdasarkan ciri-cirinya cerita tersebut tergolong
berstruktur
cerita rakyat.
1. Proses
Pengumpulan Data
Data
penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer adalah data
yang
diperoleh dari lapangan langsung, baik dalam bentuk observasi atas
sejumlah
peninggalan maupun wawancara kepada sejumlah informan tennag
cerita
yang ada. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku,
(10)
majalah,
jurnal, makalah, surat kabar, website dan sumber lain yang berkaitan
dengan objek penelitian.Data primer diperoleh dengan cara observasi dan
wawancara langsung
pada
masyarakat yang bersangkutan dalam hal ini masyarakat Pringapus. Diantaranya
mengenai tokoh cerita, alur cerita, tema cerita yang berkembang tentang CRKB.
Teknik wawancara penelitian terbagi dalam dua cara yaitu wawancara berstruktur
(dengan daftar pertanyaan yang sudah ditentukan) dan wawancara tidak
berstruktur (pertanyaan dapat diubah sesuai kondisi pada saat wawancara).
Kemudian
dilanjutkan dengan penyebaran angket atau kuesioner. Sedangkan
wawancara
tak berstruktur dilakukan dengan cara bertanya langsung kepada
masyarakat
dalam keadaan yang tidak formal (cenderung terbuka) dengan pertanyaan yang
beragam. penggunaan metode wawancara tak berstruktur ini
dilakukan
untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam.
Narasumber
dipilih dan diklasifikasikan berdasarkan empat (4) kriteria
yaitu:
(1). usia; (2). Pendidikan; (3). Ketaatan beragama; (4). Status
kependudukan
ada dua kategori: pertama. penduduk asli atau sudah tinggal di
Pringapus
lebih dari 25 tahun, dan kedua. Penduduk pendatang. Informan atau
narasumber
yang dipilih dalam penelitian didasarka pada kriteria berikut: (1).
Penguasaan
cerita (dipilih yang menguasai cerita) (2). Kemampuan mengutarakan
cerita
(3). Kemampuan berkomunikasi. Dengan kriteria tersebut diharapkan
mewakili
tanggapan masyarakat Pringapus terhadap CRKB sehingga akan
didapatkan
informasi yang bervariasi dan memperkaya cerita yang tersimpan
dalam
memori masyarakat Pringapus tentang CRKB.
2. Proses
Klasifikasi Data
Data
dan informasi yang telah diperoleh dari wawancara lapangan berujud
deskripsi
cerita, kemudian diklasifikasikan ke dalam beberapa klasifikasi.
Pengklasifikasian
dibagi berdasarkan perbedaan keutuhan cerita dari masingmasing
cerita
dengan kategori lengkap dan tidak lengkap. Fungsi dari
pengklasifikasian
cerita tersebut adalah untuk mengetahui sejauh mana
(11)
masyarakat
yang bersangkutan menerima dan memahami makna cerita yang
terkandung
dalam cerita rakyat tersebut.
3. Analisis
dan Penyampaian Data
Setelah
semua data diperoleh dan diklasifikasi ke dalam beberapa kategori,
langkah
selanjutnya adalah penganalisisan data dengan Teori Folklor, dan Teori
Resepsi
Sastra. Dengan memadukan teori-teori tersebut karena keduanya relevan
dengan
materi objek kajian yaitu cerita rakyat tentang Kitab Blawong sehingga
inti
di balik cerita dapat terungkap.
(12)
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,
Imran T. 1994. makalah ” Resepsi Sastra Teori dan Penerapannya”
dalam
buku Teori Penelitian sastra . Yogyakarta: IKIP Muhammmaditah
Yogyakarta.
Ahimsa-
Putera, Heddy Sri. 1995. ”Claude Levi-Strauss: Butir-butir Pemikiran
Peneliti
Budaya”. Yogyakarta. LkiS.
Baried,
S Baroroh dkk. 1985. Pengantar Teori Filologi. Jakarta. Pusat Pembinaan
dan
Pengembangan Bahasa Dep. P dan K.
——————————-.
1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta:
Universitas
Gajah Mada Press.
Damono,
Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.
Jakarta:
Pusat Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Danandjaja,
James. 1980. Berita Antropologi. Jakarta: Lembaga Antropologi
Fakultas
Sastra UI.
———————–.
2002. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain –
lain. Jakarta: PT Pustaka Utama
Grafiti.
Dinas
P dan K Jawa Tengah. 1987. ”Upacara-upacara Tradisional yang ada
Kaitannya
dengan Ceritera Rakyat yang terdapat di Wilayah Jawa
Tengah”
(1987 – 1988).Semarang.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Pas,
Octavio. 1997. Levi Strauss Empu Antropologi Struktural. Jakarta: LKiS.
Dundes,
Alan. 1965. The Study of Folklore.Ebglewood Cliffs, N,J: Prentice-
Hall,Inc.
Ekajati,
E Suhardi. 1982. Ceritera Dipati Ukur: Karya Sastra Sejarah Sunda.
Jakarta:
Pustaka Jaya.
Endraswara,
Suwardi. 2005. Tradisi Lisan Jawa. Yogyakarta. Narasi.
Ensiklopedi
Islam. 2002 cetakan kesepuluh. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.
Geertz,
Clifford . 1992. The Interpretation of Cultures. Yogyakarta: Kanisius.
Jauss,
H.Robert. 1982. Toward an Aesthetic of Reseption. University Minnesota
Tidak ada komentar:
Posting Komentar