Sabtu, 26 Mei 2012




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Objek kajian karya sastra dapat berupa karya sastra tulis maupun sastra lisan.
Sastra tulis adalah sastra yang teksnya berisi cerita yang sudah ditulis atau
dibukukan, sedangkan sastra lisan adalah cerita atau teks yang bersifat kelisanan,
dan diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi berikutnya. Teks lisan yang
cukup terkenal dalam masyarakat adalah cerita rakyat.
Cerita rakyat adalah bagian dari hasil kebudayaan masyarakat pendukung
suatu kebudayaan. Masyarakat atau kolektif mewariskan cerita rakyat secara turun
temurun, secara tradisional, ada yang secara lisan sehingga cerita tersebut dapat
menjadi versi-versi cerita yang berbeda menurut pembacanya (Danandjaja, 2002:
4). Cerita rakyat mempunyai sifat kelisanan diturunkan dari generasi ke generasi
selanjutnya melalui tradisi1.
Cerita rakyat lahir dan berkembang dalam masyarakat yang tersebar di
berbagai pelosok nusantara, termasuk yang lahir dan berkembang di Jawa
khususnya dalam masyarakat Jawa Tengah. Salah satunya adalah cerita rakyat
tentang Kitab Blawong.
Cerita tentang Kitab Blawong terdapat pada masyarakat desa Pringapus
Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Cerita tersebut terkait dengan cerita magis2
tentang sebuah Al Quran tulisan tangan yang ditulis Syekh Basyaruddin yaitu
seorang penyebar agama Islam di Pringapus.
Dalam perkembangannya, cerita tersebut mulai hilang dalam masyarakat.
Hal tersebut menjadi catatan, mengingat cerita rakyat tersebut dahulu dipercaya
oleh masyarakat karena benar-benar terjadi. Hal ini dibuktikan dengan
peninggalan berupa makam, Al Quran, petilasan batu besar, kolah dan masjid
yang ada di desa Pringapus.
(1)
Berdasarkan pengamatan penulis sampai saat ini, cerita rakyat Kitab Blawong belum pernah diteliti. Hal itu dibuktikan dengan tidak terdapat
dokumentasi berbentuk apapun terkait dengan cerita mengenai kitab Blawong
pada masyarakat maupun arsip Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten
Semarang.
Kondisi di atas merupakan dasar bagi penulis untuk meneliti Cerita Rakyat
Kitab Blawong (selanjutnya disingkat CRKB). Penelitian ini diarahkan pada
pendokumentasian cerita dan penemuan makna CRKB bagi masyarakat desa
Pringapus sendiri.
B. Perumusan Masalah
Penelitian tentang CRKB, difokuskan kepada pertanyaan-pertanyaan berikut:
pertama, bagaimana tanggapan masyarakat terhadap CRKB termasuk versiversinya;
Atas dasar tersebut selanjutnya pertanyaan kedua adalah bagaimana
resepsi masyarakat; serta yang ketiga, bagaimana masyarakat memberi makna
terhadap CRKB
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengungkap penyebaran dan resepsi masyarakat Pringapus terhadap
CRKB
2. Mengungkap makna CRKB dan relevansinya bagi masyarakat.
Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, akan penulis deskripsikan terlebih dahulu
suntingan teks CRKB.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat teoretis penelitian ini dalam kaitan pemanfaatan teori resepsi sastra
adalah supaya dapat diketahui penyebaran dan resepsi masyarakat Pringapus
terhadap keberadaan CRKB; serta dapat diketahuinya makna CRKB dan
relevansinya bagi masyarakat Pringapus.
Sementara manfaat praktis penelitian ini adalah diperoleh deskripsi cerita
KitabBlawong secara lengkap bagi masyarakat pendukung CRKB maupun
masyarakat luas termasuk peneliti selanjutnya.
(2)
E. Tinjauan Pustaka
1. Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian yang berobjek folklor, kajian cerita rakyatlah yang paling
banyak diteliti (Danandjaja, 2002: 12). Penelitian terdahulu yang objek kajiannya
cerita rakyat di antaranya adalah:
a. Mudjahirin Thohir (Thohir, 1999) meneliti cerita Ki Joko Sungging pada
masyarakat desa Sukodono Jepara dengan judul ”Fungsi Legenda Ki Joko
Sungging bagi orang-orang Jepara”. Penelitian ini berupa
pendokumentasian cerita rakyat milik masyarakat desa Sukodono Jepara
yang berkisah tentang perjalanan Joko Sungging yang terkenal sangat
pandai mengukir. Keahlian Joko Sungging tersebut terkenal sampai ke
istana bahkan raja pun tertarik untuk menitahkan joko Sungging untuk
mengukir permaisuri raja yang parasnya cantik jelita. Selain pandai
mengukir ternyata Joko Sungging juga mempunyai kesaktian. Dia dapat
mengetahui- tanpa melihat- bahwa sang permaisuri mempunyai tahi lalat
di daerah kemaluannya. Ketika melihat patung permaisuri tersebut sang
raja seketika marah dan menuduh Joko Sungging telah berbuat tidak
pantas kepada sang permaisuri. Maka Joko Sungging dihukum oleh raja
karena dianggap berselingkuh dengan permaisurinya lalu dibuang dengan
cara diterbangkan bersama alat ukirnya. Akhir cerita dikisahkan joko
Sungging terbang ke arah timur konon sampai ke negeri Jepang.
Sepanjang tempat dia menjatuhkan alat ukirnya satu per satu sambil berkata bahwa kelak tempat tersebut akan ramai dan warganya
bermatapencaharian sesuai dengan alatnya yang jatuh, contoh pada saat
menjatuhkan tatah dia berkata kalau kelak orang-orang yang tinggal di
daerah tersebut akan pandai mengukir dan ternyata tempat tersebut adalah
daerah Jepara.
Dari studi Mudjahirin Thohir di atas, dapat diketahui bahwa fungsi
cerita rakyat bagi folknya (yaitu masyarakat Jepara), ternyata tidak saja
menjadi sumber identitas, dan perasaan superior, teapi juga mendorong
semangat. Dalam hal ini cerita Ki Joko Sungging tersebut, mendorong
(3)
folknya untuk menekuni dunia ukir.
b. Dinas P dan K Jawa Tengah melakukan penelitian mengenai Upacaraupacara
Tradisional yang ada Kaitannya dengan Ceritera Rakyat yang
terdapat di Wilayah Jawa Tengah (1987 – 1988). Peneltian ini hanya berisi
inventarisasi upacara tradisional yang terdapat di daerah Jawa tengah yang
mempunyai cerita rakyat yang menyertai upacara tradisonal tersebut.
Penelitian yang berobjek cerita yang terkandung dalam tradisi masyarakat
ini tidak memfokuskan pada analisis cerita. Hasil penelitian hanaya berupa
suntingan cerita saja dan prosesi upacara. Dengan demikian, dalam
penelitian ini tidak ditemukan analisis cerita menggunakan teori apapun.
Objek penelitian ini adalah upacara tradisional yang terdapat di daerah:
1. Kabupaten Semarang yaitu upacara tradisional malam selikuran; 2.
Kabupaten Grobogan; 3. Kabupaten Kudus; 4. Kotamadya Magelang; 5. Kabupaten Sragen; 6. Kabupaten Batang; 7. Kabupaten Blora dan 8.
Kabupaten Purbalingga
c. Dwi Sulistyorini yang mengkaji mengenai ”Mitos Masyarakat terhadap
Cerita Rakyat tentang Sumur dan Sedekah Laut di kecamatan Sarang
Kabupaten Rembang”(1999). Dalam penelitian ini berisi tentang deskripsi
cerita rakyat mengenai sebuah sumur yang dianggap keramat dan tradisi
sedekah laut yang dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Sarang
Kabupaten Rembang. Akan tetapi pada penelitiannya Dwi tidak
menganalisis objek penelitiannya dengan teori apapun.
d. Mugiharto meneliti cerita Joko Poleng dengan judul Skripsinya ”Cerita
Joko Poleng Suatu Penelitian Sastra Lisan” (2000). Tinjauan tentang
Struktur Sastra Sejarah Tema dan Fungsi. Penelitian ini hanya
mendeskripsikan cerita rakyat tentang tokoh masyarakat di daerah Brebes
yang dianggap sakti. Pada penelitian ini objek kajian dianalisis dari segi
struktural saja bahkan analisis hanya pada tema cerita serta fungsi cerita
yang ada. Mugiharto menggolongkan cerita yang ditelitinya sebagai cerita
(4)
sastra sejarah karena dianggap pernah terjadi dan terdapat bukti peninggalan.
e. Muayyanah dalam penelitian mengenai ”Ritual Mandi pada tanggal satu
Syura di desa Nyatnyono” (2001). Pada penelitian ini Tarwiyah
mendeskripsikan tentang tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat sekitar desa Nyatnyono pada tanggal 1 Muharam yang dalam tradisi Jawa
disebut Syura.
Pada penelitian ini hanya diuraikan mengenai asal usul ritual mandi
yang biasa diadakan pada tanggal 1 Muharam di daerah Nyatnyono
kecamatan Ungaran kabupaten Semarang tanpa analisis yang lebih
mendalam mengenai cerita yang menyertai ritual tersebut.
f. Laura Andri Retno dalam penelitiannya mengkaji mengenai ”Mitos Cerita
Ondorante yang berkembang dalam masyarakat desa Parenggan, Pati”
(2003). Penelitian ini berisi tentang kepercayaan masyarakat di desa
Parenggan kabupaten Pati tentang seorang tokoh yang dianggap sakti
bernama Ondorante. Tokoh dalam cerita rakyat tersebut dianggap sebagai
leluhur bagi masyarakat pendukungnya. Dalam cerita rakyat ini terdapat
beberapa versi yang muncul dalam masyarakat yang percaya -berpihak
dengan tokoh dan masyarakat yang tidak sependapat dengan tokoh. Bagi
masyarakat yang kurang percaya dan tidak berpihak pada Ondorante
mengisahkan bahwa Ondorante dikenal sebagai seseorang yang tidak mau
diatur bahkan dapat disebut orang yang mbalelo ( Jawa: membelot)
terhadap ajaran kebaikan yang dianut masyarakat saat itu. Akan tetapi bagi
masyarakat yang percaya dan berpihak pada tokoh Ondorante
mengisahkan bahwa sebenarnya dia adalah seseorang yang lembut hatinya
dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Konon, dia sulit untuk dikalahkan
tetapi mempunyai satu kelemahan. Banyak pihak yang ingin menyingkirkan Ondorante dengan berbagai cara. Akan tetapi biasanya
gagal karena tidak mengetahui kelemahannya. Pada akhirnya Ondorante
terjebak oleh seorang wanita yang diutus oleh lawannya untuk mengetahui
(5)
kelemahannya. Ternyata kelemahannya adalah apabila ketika dibunuh, jasadnya harus dipotong dan dibuang terpisah. Pada penelitian ini hanya dianalisis mengenai cerita Ondorante
terkait dengan mitos dan fungsi cerita bagi masyarakat Parenggan. Penulis
dalam penelitian ini tidak menyertakan analisis lain menggunakan teori penelitian sastra.
Penelitian-penelitian tersebut di atas sebagian besar hanya mengkaji cerita rakyat
dari segi struktural saja tanpa dianalisis secara mendalam. Oleh karena itu, pada
penelitian ini, penulis akan menyajikan deskripsi cerita yang utuh dan akan
dianalisis secara mendalam mengenai keberadaan cerita dan tanggapan
masyarakatnya sehingga tujuan untuk mengungkap makna cerita berkaitan
dengan keberadaan Kitab Blawong bagi masyarakat desa Pringapus sebagai
penikmat cerita dapat tercapai.
BAB II
LANDASAN TEORI
Keseluruhan proses berpikir untuk memahami objek dari berbagai sisi merupakan
penjelasan tentang teori. Untuk itu, teori dapat didefinisikan sebagai seperangkat
penjelasan logik yang memiliki nilai-nilai keilmiahan yang berguna dan relevan
untuk dapat dipakai mendekati objek (masalah) yang akan dipelajari3.
Teori yang penulis pergunakan, ialah teori yang umum digunakan dalam
studi-studi Folklor sebagaimana dilakukan oleh Danandjaja (2000). Inti dari teori
yang dikembangkan Danandjaja ialah (1). apa itu cerita rakyat, (2). apa isi dan
fungsinya, serta (3). bagaimana memahaminya.
Cerita rakyat merupakan bagian dari hasil kebudayaan masyarakat
pendukung suatu kebudayaan (kolektifnya) yang diwariskan secara turun temurun,
secara tradisional atau secara lisan sehingga menimbulkan timbulnya versi-versi
cerita yang berbeda, baik secara lisan maupun yang sebagian lisan yang disertai
dengan alat bantu pengingat atau mnemonic device (Danandjaja, 2002: 4).
Cerita rakyat memiliki ciri-ciri: (1). bersifat lisan; (2). bersifat tradisional;
(3). “ada” dalam versi-versi yang berbeda; (4). biasanya berkecenderungan untuk
mempunyai bentuk berumus; (5). biasanya sudah tidak diketahui lagi nama
(6)
penciptanya (anonim); (6). mempunyai fungsi dalam kolektif yang memilikinya;
(7). bersifat pralogik; (8). menjadi milik bersama; (9). bersifat polos atau spontan
(Danandjaja, 2002 : 3 – 5 ).
CRKB merupakan salah satu cerita rakyat yang memiliki hampir semua
ciri cerita rakyat tersebut di atas. Dalam cerita prosa rakyat terdapat pembagian yang menurut William R Bascom dapat dibagi menjadi tiga golongan besar,yaitu
mite (myth), legenda (legend), dan dongeng (folktale) (Bascom, 1965b: 4).
William R Bascom (dalam Danandjaja 2002: 50), mendefinisikan ketiga hal
tersebut sebagai berikut:
Mite merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta
dianggap suci oleh empunya cerita. Ditokohi oleh para para dewa atau
makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi didunia lain atau di dunia yang
bukan seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa
lampau.sedangkan
Legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan
Mite, dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Ditokohi
manusia walaupun adakalanya mempunyai sifat luar biasa. Dan seringkali
juga dibantu makhluk-makhluk ajaib (gaib). Tempat terjadinya adalah dunia
seperti yang kita kenal sekarang ini. Karena waktu terjadinya belum terlalu
lampau.
Dongeng merupakan prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi
oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun
tempat.
Penggolongan di atas diperoleh identitas bahwa CRKB dipercaya dan
disakralkan oleh masyarakat Pringapus karena dianggap benar terjadi dan terdapat
perlakuan khusus terhadap peninggalan CRKB yang berujud Al Quran tulisan
tangan tersebut. Masyarakat Pringapus menganggap bahwa CRKB benar-benar
(7)
pernah terjadi dalam kehidupan masyarakat Pringapus pada masa lampau.
Berdasarkan penggolongan R Bascom di atas CRKB masuk pada kategori
legenda. CRKB masuk pada kategori legenda, CRKB dimasukkan pada kategori
legenda dapat dijelaskan karena di dalam CRKB berisi cerita yang dianggap
benar pernah terjadi di masa lampau tentang wali dan peninggalannya, yang
tokohnya adalah manusia biasa akan tetapi memiliki kemampuan luar biasa.
Dalam hal ini adalah seorang Waliullah bernama Syekh Basyaruddin beserta peninggalannya yang berupa Al Quran yang dijuluki Kitab Blawong. Akan tetapi
berdasarkan teori yang disampaikan Van Peursen, CRKB dapat pula dimasukkan
dalam tataran mitos. Hal ini dapat dijelaskan karena ciri mitos yang disampaikan
oleh Van Peursen juga sesuai dengan ciri yang dimiliki oleh CRKB. Ciri mitos
menurut Van Peursen adalah:
Berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki cerita rakyat, CRKB juga memiliki ciri
yaitu bersifat lisan; bersifat tradisional; merupakan milik bersama masyarakat
Pringapus; memiliki fungsi bagi masyarakatnya tersebut; dan juga tersebar dalam
beberapa versi. Hal ini membuktikan bahwa cerita tersebut tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat Pringapus.
Berdasarkan fenomena yang terdapat di masyarakat tersebut CRKB dapat
dimasukkan dalam khasanah sastra nusantara maupun sastra daerah karena
memiliki ciri sesuai definisi sastra daerah yaitu sastra yang lahir dan berkembang
secara tradisional dalam masyarakat Indonesia. Cerita rakyat juga merupakan
karya sastra yang beredar secara lisan (Danandjaja, 2002: 21) CRKB merupakan
salah satu ujud sastra daerah yang berkaitan dengan kehidupan sosial
masyarakatnya, dalam hal ini sebagai penikmat cerita atau pembaca.
Upaya untuk mendapatkan tanggapan atau resepsi penikmat cerita
terhadap CRKB dibutuhkan analisis yang sesuai, dalam hal ini teori yang tepat
untuk menganalisi resepsi masyarakat terhadap CRKB adalah Teori Resepsi
Sastra. Teori Resepsi Sastra pada tataran dasar secara singkat dapat disebut
sebagai teori yang menjelaskan bahwa teks sastra (lisan maupun tulis) dengan
bertitik tolak pada pembaca (penikmat) yang memberi reaksi atau tanggapan terhadap teks
(8)
tersebut (Abdullah, 1994: 148). Resepsi sastra yang oleh Jauss disebut sebagai estetika resepsi, adalah estetika (ilmu keindahan) yang didasarkan pada tanggapan-tanggapan atau resepsi-resepsi pembaca terhadap karya sastra. Karya sastra tidak mempunyai arti tanpa pembaca atau penikmat sastra yang menanggapinya. Karya sastra mempunyai nilai karena ada pembaca yang menilai
(Pradopo, 1995: 206).
Estetika Resepsi atau Resepsi Sastra memberikan perhatian utama kepada
pembaca karya sastra di antara jalinan segitiga pengarang, karya sastra dan
masyarakat pembaca (Jauss, 1974: 12). Pada penelitian ini objek analisis adalah
cerita rakyat yang tergolong dalam kategori karya sastra lisan. Cerita rakyat
merupakan irri tanda yang ada dalam masyarakat. Masyarakat berusaha untuk
memaknai tanda ataupun makna yang terkandung dalam cerita yang berbentuk
cerita lisan. Kemudian muncullah istilah horizon harapan yang berpijak dari
perbedaan pemahaman masing–masing pembaca. Horizon harapan merupakan
interaksi antara karya sastra dan pembaca atau penikmat dan mencakup
interpretasi dalam masyarakat (Jauss, 1974: 204).
Seperti irri yang dimiliki CRKB di atas, yaitu bersifat lisan; bersifat
tradisional; merupakan milik bersama masyarakat Pringapus; dan memiliki fungsi
bagi masyarakatnya tersebut. Ciri lain dari cerita lisan adalah adanya versi yang
bersumber dari penambahan maupun pengurangan cerita akibat pengaruh
“kemampuan” penerimaan cerita. Dalam hal ini dapat diuraikan menggunakan
teori Resepsi Sastra pada tesis keempatnya Jauss yang disebut dengan dengan
“semangat zaman” Tesis keempat Resepsi Sastra (Jauss, 1974:25). Tesis keempat ini menjelaskan tentang penerimaan masing-masing periode terhadap sebuah
sastra (dapat berupa cerita) yaitu perubahan yang terjadi pada setiap periode.
Dalam teorinya tersebut Jauss mengklasifikasikan sastra sebagai sebuah
pengalaman yang dimiliki oleh pembaca. Dalam kaitan dengan CRKB resepsi ini
dikategorikan pada kemampuan penerimaan yang mencakup kemampuan
menerima, memahami dan menceritakan kembali CRKB.
(9)
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini terdiri atas tiga tahapan penelitian menggunakan teori filologi yang
digabungkan dengan metode folklor. Berdasarkan metode penelitian filologi,
maka penelitian ini menggunakan langkah kerja filologis yaitu: (1). Inventarisasi
teks (teks berupa cerita); (2). Deskripsi teks; (3). Transliterasi dan transkripsi teks;
(4). Suntingan teks. Sementara pada tahap kerja folklor dilakukan tiga tahap (1).
Pengumpulan data (inventarisasi); (2). Penggolongan data (klasifikasi); dan (3).
Analisis data (Danandjaja,1980: 1). Dengan harapan mencapai tujuan penelitian
tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan melalui proses penelitian folklor
secara lengkap.
Proses awal penelitian, dilakukan dengan inventarisasi teks, deskripsi
cerita, dan transkripsi cerita untuk mendapatkan suntingan cerita yang lengkap
dan utuh. Dari inventarisasi data tersebut diperoleh cerita yang tersebar dalam
memori masyarakat Pringapus yang masih dalam ujud cerita lisan berbahasa
Jawa. Proses selanjutnya adalah mentransliterasi dan mentranskripsi cerita dengan
mengubah bahasa yang sesuai ke dalam Bahasa Indonesia. Dari semua langkah kerja yang sudah dilakukan tersebut didapatkan suntingan cerita yang lengkap
tentang CRKB.
Langkah selanjutnya menemukan struktrur cerita yang ada dalam
masyarakat Pringapus. Berdasarkan ciri-cirinya cerita tersebut tergolong
berstruktur cerita rakyat.
1. Proses Pengumpulan Data
Data penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer adalah data
yang diperoleh dari lapangan langsung, baik dalam bentuk observasi atas
sejumlah peninggalan maupun wawancara kepada sejumlah informan tennag
cerita yang ada. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku,
(10)
majalah, jurnal, makalah, surat kabar, website dan sumber lain yang berkaitan dengan objek penelitian.Data primer diperoleh dengan cara observasi dan wawancara langsung
pada masyarakat yang bersangkutan dalam hal ini masyarakat Pringapus. Diantaranya mengenai tokoh cerita, alur cerita, tema cerita yang berkembang tentang CRKB. Teknik wawancara penelitian terbagi dalam dua cara yaitu wawancara berstruktur (dengan daftar pertanyaan yang sudah ditentukan) dan wawancara tidak berstruktur (pertanyaan dapat diubah sesuai kondisi pada saat wawancara).
Kemudian dilanjutkan dengan penyebaran angket atau kuesioner. Sedangkan
wawancara tak berstruktur dilakukan dengan cara bertanya langsung kepada
masyarakat dalam keadaan yang tidak formal (cenderung terbuka) dengan pertanyaan yang beragam. penggunaan metode wawancara tak berstruktur ini
dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam.
Narasumber dipilih dan diklasifikasikan berdasarkan empat (4) kriteria
yaitu: (1). usia; (2). Pendidikan; (3). Ketaatan beragama; (4). Status
kependudukan ada dua kategori: pertama. penduduk asli atau sudah tinggal di
Pringapus lebih dari 25 tahun, dan kedua. Penduduk pendatang. Informan atau
narasumber yang dipilih dalam penelitian didasarka pada kriteria berikut: (1).
Penguasaan cerita (dipilih yang menguasai cerita) (2). Kemampuan mengutarakan
cerita (3). Kemampuan berkomunikasi. Dengan kriteria tersebut diharapkan
mewakili tanggapan masyarakat Pringapus terhadap CRKB sehingga akan
didapatkan informasi yang bervariasi dan memperkaya cerita yang tersimpan
dalam memori masyarakat Pringapus tentang CRKB.
2. Proses Klasifikasi Data
Data dan informasi yang telah diperoleh dari wawancara lapangan berujud
deskripsi cerita, kemudian diklasifikasikan ke dalam beberapa klasifikasi.
Pengklasifikasian dibagi berdasarkan perbedaan keutuhan cerita dari masingmasing
cerita dengan kategori lengkap dan tidak lengkap. Fungsi dari
pengklasifikasian cerita tersebut adalah untuk mengetahui sejauh mana
(11)
masyarakat yang bersangkutan menerima dan memahami makna cerita yang
terkandung dalam cerita rakyat tersebut.
3. Analisis dan Penyampaian Data
Setelah semua data diperoleh dan diklasifikasi ke dalam beberapa kategori,
langkah selanjutnya adalah penganalisisan data dengan Teori Folklor, dan Teori
Resepsi Sastra. Dengan memadukan teori-teori tersebut karena keduanya relevan
dengan materi objek kajian yaitu cerita rakyat tentang Kitab Blawong sehingga
inti di balik cerita dapat terungkap.
(12)
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Imran T. 1994. makalah ” Resepsi Sastra Teori dan Penerapannya”
dalam buku Teori Penelitian sastra . Yogyakarta: IKIP Muhammmaditah
Yogyakarta.
Ahimsa- Putera, Heddy Sri. 1995. ”Claude Levi-Strauss: Butir-butir Pemikiran
Peneliti Budaya”. Yogyakarta. LkiS.
Baried, S Baroroh dkk. 1985. Pengantar Teori Filologi. Jakarta. Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa Dep. P dan K.
——————————-. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada Press.
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.
Jakarta: Pusat Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Danandjaja, James. 1980. Berita Antropologi. Jakarta: Lembaga Antropologi
Fakultas Sastra UI.
———————–. 2002. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain –
lain. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.
Dinas P dan K Jawa Tengah. 1987. ”Upacara-upacara Tradisional yang ada
Kaitannya dengan Ceritera Rakyat yang terdapat di Wilayah Jawa
Tengah” (1987 – 1988).Semarang. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Pas, Octavio. 1997. Levi Strauss Empu Antropologi Struktural. Jakarta: LKiS.
Dundes, Alan. 1965. The Study of Folklore.Ebglewood Cliffs, N,J: Prentice-
Hall,Inc.
Ekajati, E Suhardi. 1982. Ceritera Dipati Ukur: Karya Sastra Sejarah Sunda.
Jakarta: Pustaka Jaya.
Endraswara, Suwardi. 2005. Tradisi Lisan Jawa. Yogyakarta. Narasi.
Ensiklopedi Islam. 2002 cetakan kesepuluh. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.
Geertz, Clifford . 1992. The Interpretation of Cultures. Yogyakarta: Kanisius.
Jauss, H.Robert. 1982. Toward an Aesthetic of Reseption. University Minnesota

Tidak ada komentar:

Posting Komentar