Sabtu, 26 Mei 2012


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang dan Masalah
1.1.1   Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka. Dengan kata laen , pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
 Sasaran pembangunan dibidang pendidikan diarahkan untuk peningkatan mutu pendidikan itu sendiri, baik pada lembaga pendidikan formal maupun pada lembaga pendidikan nonformal. Untuk meningkatkan mutu pendidikan ini , maka perlu adanya upaya untuk peningkatan metode pengajaran , sebab mengajar merupakan tantangan yang selalu dihadapi oleh setiap orang yang berkecimpung dalam profesi keguruan dan pendidikan . Banyak upaya yang telah dilakukan , banyak pula keberhasilan yang telah dicapai meskipun disadari bahwa apa yang telah dicapai meskipun disadari bahwa apa yang telah dicapai belum sepenuhnya memberikan prestasi yang menggembirakan sehingga menuntut renungan , pemikiran dan kerja keras untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam bidang pendidikan khususnya di tingkatkan sekolah menengah pertama (SMP).
Kemampuan siswa SMP menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar  merupakan  kunci kelancaran dan kesempurnaan dalam proses komunikasi. Seorag siswa , dalam menyampaikan pikiran , perasaan dan gagasan , harus mempunyai kemampuan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai sarananya yang tepat. Siswa SMP, dalam menyampaikan  pikiran ,perasaan dan gagasan dapat dituangkan dalam bentuk kalimat. Oleh karena itu, penyusun kalimat merupakan hal yang penting dalam pemakaian bahasa.
Berdasarkan pernyataan tersebut, masalah kalimat merupakan hal yang penting dan harus dikuasai oleh siswa SMP. Namun kenyataannya, pemahaman siswa terhadap kalimat efektif belum menunjukan hasil yang baik. Permasalahan ini disebabkan oleh kurang mempunyai siswa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini dapat dilihat pada pemilihan kata dan penggunaan kalimat yang tidak efektif.
Kalimat dikatakan efektif, apa bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung secara sempurna, kalimat efektif mampu membuat isi dan maksud yang disampaikan itu tergambar lengkap dalam pikiran si penerima (pembaca), persis seperti apa yang disampaikan oleh penulis.
     Pembelajaran kalimat khususnya kalimat efektif berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi di sekolah menengah pertama (SMP) Kelas II memuat kompetensi dasar siswa mampu menyunting tulisan sendiri atau orang lain ditinjau dari segi ketepatan ejaan tanda baca pilihan kata, keefektifan kalimat dan keterpaduan paragrafnya. Pembelajaran kalimat khususnya kalimat efektif berdasarkan kurikulum Berbasis Kompetensi di sekolah  menengah pertama (SMP) Kelas II merupakan pembelajaran yang sangat penting. Oleh karena itu, mendapat perhatian serius dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan mengadakan kajian terhadap kemampuan siswa dalam membuat kalimat efektif.
Khususnya di SMP Negeri 2 sawa, setela dilakukan para penelitian diperoleh informasi bahwa kemampuan siswa dalam membuat kalimat efektif belum memadai. Hal ini dibuktikan ketika siswa menyusun sebuah tulisan masi terdapat penggunaan kata-kata yang tidak hemat dalam kalimat, pilihan kata yang kurang tepat, kalimat yang disusun terkadang tidak lengkap dan tidak logis.
1.1.2  Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka yang merupakan masalah dalam penelitian ini adalah “ bagaimanakah kemampuan membuat kalimat efektif siswa kelas II SMP Negeri sawa bila ditinjau dari segi kelengkapan, kehematan, kelogisan dan pilihan kata ?”

1.1  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.1.1        Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan kemampuan membuat kalimat efektif siswa kelas II SMP Negeri 2 sawa.
1.2.2.  Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1      dapat memberikan informasi faktual mengenai kemampuan membuat kalimat –kalimat efektif siswa kelas II SMP Negeri 2      sawa
2      sebagai bahan masukan bagi guru bahasa dan sastra Indonesia dalam rangka peningkatan kualitas pengajaran bahasa    Indonesia khususnya  Pengajaran kalimat efektif di kelas II SMP Negeri 2 sawa .
3      hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi peneliti dalam usaha-usaha penelitian lanjutan yang sifatnya lebih  luas dan mendalam.

1.2  Ruang Lingkup Penelitian
Ruang Lingkup dalam penelitian ini adalah kemampuan membuat kalimat efektif siswa kelas II SMP          Negeri 2 sawa yang meliputi :
1.   kemampuan membuat kalimat efektif ditinjau dari aspek kelengkapan,
2.   kemampuan membuat kalimat efektif ditinjau dari aspek kehematan,
3.   kemampuan membuat kalimat efektif ditinjau dari aspek kelogisan,
4.   kemampuan membuat kalimat efektif ditinjau dari aspek pilihan kata (diksi).
1.3  Batasan Istilah
1.   kemampuan membuat adalah kesanggupan yang diperlihatkan oleh siswa dalam membuat kalimat. atau kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan komentator secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula oleh komunikan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1  Pembelajaran Kalimat Efektif di Kelas  II Berdasarkan kurikulum Berbasis Kompetensi (2004)
Tujuan mempelajari struktur kalimat bahasa indonesia adalah agar siswa SMP dapat memahami dan  menafsirkan makna kalimat bahasa indonesia dan disesuaikannya dalam konteks dan situasi. Purwo (1997:9) menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran struktur kalimat bahasa indonesia adalah untuk memperlihatkan suatu sistem tentang susunan kalimat bahasa indonesia atas fungsi-fungsinya, seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan. Dengan mengetahui fungsi-fungsi kalimat itu seseorang siswa SMP dapat membuat kalimat yang baik dan benar sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa indonesia baku.
Menurut Sirait, (1986) mengungkapkan bahwa dalam menyusun kalimat bahasa tulisan bahasa indonesia, siswa harus mahir membuat kalimat yang sesuai sasarannya. Selanjutnya , Efendi (1995:198) menjelaskan bahwa unsur-unsur kalimat yang digunakan harus saling berhubungan secara terpadu sehinggadapat mengungkapkan pikiran dengan baik. Dengan demikiaqn, pengajaran struktur kalimat bahasa indonesia dapat membantu siswa SMP untuk lebih memahami proses komunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Siswa tidak membuat suatu kontaminasi dari sebuah kalimat, terutama dalam menggunakan kalimat efektif.
Pembelajaran kalimat khususnya Kalimat efektif berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi di sekolah menengah pertama (SMP) kelas II memuat kompetensi dasar siswa mampu menyunting tulisan sendiri atau tema dengan indikator siswa mampu memperbaiki tulisan sendiri atau orang lain ditinjau  dari segi ketepatan ejaan, tanda baca, pilihan kata, kefektifan kalimat, dan keterpaduan paragrafnya.
Kriteria yang digunakan di kelas II SMP Negeri 2 Sawa adlah ketuntasan belajar klasikal dan ketuntasan belajar individual. Siswa dikatakan tuntas belajar indifidual jika mempunyai ketuntasan 65% sedangkan ketuntasan klasikal jika secara keseluruhan siswa mempunyai rata-rata mempunyai 85% (Depdikbud, 1994).
2.2 Kalimat
Batasan pengertian kalimat yang dikemukakan para pakar bahasa sangat beragam. Keraragaman tersebut disebabkan oleh adanya tinjauan dari sudut pandang yang berbeda-beda terhadap objek yang sama.
Menurut Keraf (1984:377) bahwa kalimat adalah suatu bagian ujaran yang didahului oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukan bagian ujaran yang lengkap Chaer (1988:377), kalimat adalah satuan bahasa yang berisikan pikiran atau amanat yang lengkap.
Kalimat juga diartikan suatu bahasa yang tersebar. Kalimat dilihat dari kedudukannya adlah otonom (Sande, 1991:117), sedangkan Muliono, (1997:204) bahwa kalimat adalah bagian terkecil ajaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran secara terbuka. Selanjutnya, (Alwi, 2001:1) menjelaskan bahwa kalimat diartikan suatu bahasa terkecil yang dapat mengungkapkan pikiran yang utuh. Pikiran yang utuh itu diwujudkan dalam bentuk tulisan.
Kalimat adalah suatu ucapan atau ungkapan kepada seseorang (sasaran) baik secara lisan maupun secara tulisan yang dapat dimengerti atau mempunyai makna atau pengertian terhadap penerima. Hal tersebut didukung oleh pendapat Badudu dalam  Rusyana (1983:97) bahwa kalimat selalu mengandung makna dan karena itu  orang akan beraksi atas kalimat yang dipahaminya (merupakan ciri batin kalimat).
Disamping itu juga kalimat ditentukan berdasarkan arti yaitu subjek ( S ) dijelaskan sebagai hal atau sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan dan predikat ( P ) sebagai unsure kalaimat yang pembicaraan subjek, objek ( O ) dijelaskan sebagai unsur kalimat yang menderita akibat tindakan tersebut kepada predikat, dan keterangan ( K ) dijelaskan unsur kalimat  yang  memberi keterangan kepada predikat ( Ramlan 1987:13).
2.3       Unsur-Unsur Kalimat
Keefektifan kalimat ditentukan pula oleh unsur kalimat yang dikembangkan serta kejelasan masing-masing unsur kalimat. Unsur-unsur yang dimaksudkan dalam bagian adalah sebagaimana dikemukakan oleh Razak (1992: 37) seperti dibawah ini :
2.3.1    Subjek
            Subjek adalah unsur yang diperkatakan dalam sebuah kalimat. Bagian subjek kalimat sangat menentukan kejelasan makna sebuah kalimat subjek kalimat yang posisi atau letaknya kurang tepat dalam kalimat yang menyebabkan kekaburan makna kalimat tersebut.
            Lebih lanjut, bagian subjek kehadirannya ada yang berupa kata ada pula yang berupa kelompok kata (frasa).
Contoh subjek berupa kata sebagai berikut :
Saya sudah mulai diproses oleh pihak yang berwajib.
Contoh subjek yang berupa frasa sebagai berikut :
Seekor harimau tiba-tiba menerkam laki-laki itu.
2.3.2    Predikat
Predikat adalah bagian kalimat yang berfungsi memberitahukan apa, mengapa, atau bagaimana subjek itu disebut predikat. Slain itu predikat kalimat dapat diketahui pula dengan ciri-ciri umumnya terletak bagian belakang subjek serta berkelas kata kerja (verba). Seperti halnya juga subjek, kehadiran predikat ada yang berupa kata ada juga yang berupa frasa.
Contoh predikat yang berupa kata sebagai berikut :
Saya melihat ke kiri ke kanan lalu membacakan proposalku.
Contoh predikat yang berupa frasa sebagai berikut :
Saya mencoba memahami penjelasan pak guru.

2.3.3    Objek
            Kalau bagian subjek dan predikat kebanyakan muncul secara eksplisit dalam kalimat, bagian objek tidaklah demikian halnya. Kehadiran objek dalam kalimat tergantung pada jenis predikat kalimat. Kehadira objek dalam kalimat ada berupa kata ada pula yang berupa frasa.
Contoh objek yang berupa kata sebagai berikut :
Saya sedang menimba ilmu di sekolah ini.
Contoh objek yang berupa frasa sebagai berikut :
Kami ditugasi membaca majalah sastra.
2.3.4    Pelengkap
            Yang dimaksud dengan bagian pelengkap dalam kalimat pada dasarnya mirip dengan objek, yaitu sama-sama terletak dibagian belakang predikat dan berkelas kata benda (nomina). Persamaan dan perbedaan antara objek dan pelengkap
Persamaannya:
Baik objek maupun pelengkap sama-sama berada dibelakang predikat dengan berkelas kata nomina.
Perbedaannya:
Objek dapat berubah menjadi subjek sehingga predikatnya berawalan pelengkap tidak dapat menjadi subjek.
Contoh: Lewis memukul Tyson = objek
Hal itu merupakan masalah besar = pelengkap


2.3.5    Keteranga Kalimat
            Kalau objek berfungsi melengkapi predikat, maka keterangan berfungsi memberi keterangan predikat. Berdasarkan arti dan fungsinya dalam kalimat keterangan dapat dibedakan :
1.    Keteranaga kualitas yaitu keterangan yang berfungsi menerangkan kualitas pekerjaan atau perbuatan yang dinyatakan predikat. Contoh : tarian itu dibawakan dengan lemah lembut
2.    Keterangan tujuan yaitu keterangan yang berfungsi menerangkan tujuan yang dicapai dari perbuatan yang dinyatakan predikat. Contoh : Uang itu diperuntukkan buat mahasiswa kualifikasi.
3.    Keterangan alat yaitu keterangan yang menyatakan alat atau sesuatu perbuatan dilangsungkan, kata yang digunakan dengan. Contoh :Lautan itu diseberangi dengan perahu.
4.    Keterangan tempat yaitu keterangan yang menunjukan tempat atau arah suatu perbuatan dilakukan. Kata-kata yang digunakan: di, ke, dalam, di dalam, ke atas, pada dan sebagainya. Contoh Buronan itu sempat lari ke daerah terpencil.
5.    Keterangan waktu yaitu keterangan yang menunjukan waktu atau peristiwa itu berlangsung. Kata-kata yang digunakan seperti: sekarang, sebelum, pada saat, sesudah dan sebagainya. Contoh: menjelang akhir perkuliahan mahasiswa memperlihatkan kemampuannya.
Keterangan keadaan yaitu keterangan yang menunjukkan situasi atau keadaan suatu perbuatan dilakukan.
Contoh: Dengan spontan tertuduh menolak keputusan itu.
Keterangan alas an yaitu keterngan yang menjelaskan sebab/alas an perbuatan,kata-kata yang digunakan: sebab, oleh karena, sebab itu, dan sebagainya.
Contoh: karena jawaban yang berbelit-belit, sehingga dosen membentak.
Keterangan kualitatif yaiti keterangan yang menunjukan keterangan perbuatan dilakukan.
Contoh:  perbuatan itu dilakukan berulang-ulang
2.4       Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembaca atau penulis. Kalimat efektif sangat mengutamakan keefektifan informasi itu sehingga kejelasan kalimat itu dapat terjamin.
            Kalimat efektif adalah yang memenuhi syarat sebagai berikut: (1) secara tepat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis, (2) sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar, seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis. (Keraf,1980 : 35)
            Sebuah kalimat efektif mempunyai cirri-ciri khas, yaitu kesepadanan, ketegasan makna, keparalelan, kehematan kata, kecematan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa, kelengkapan dan pilihan kata (diksi).
2.4.1    Kesepadanan
            Kesepadanan yaitu keseimbangan antara pikiran dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik (Mukti, 2002 : 8)
            Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti yang tercantum dibawah ini :
1.      Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Ketidak jelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek atau predikat suatu kalimat dapat dilakukan dgn menghindarkan pemakaian kata dengan di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut dan sebagainya didepan subjek.
Contoh :
a.    Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (efektif)
2.    Tidak terdapat subjek yang ganda.
Contoh :
a.    Dalam penyusunan laporan iu saya dibantu oleh para dosen
b.    Soal itu kurang jelas
Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara berikut :
a.    Penyusunan laporan itu, saya dibantu oleh para dosen
b.    Soal itu bagi saya kurang jelas
3.    Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh :
a.    Kami dating agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
b.    Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubalah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua, gantilah ungkapan penghubung intra kalimat menjadi ungkapan penghubung antara kalimat,sebagai berikut.
a.    Kami dating agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
Atau
Kami dating agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
b.    Kakaknya membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Atau
Kakaknya membili sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki.
4.    Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh :
a.    Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa melayu.
b.    Sekolah kami yang terletak didepan bioskop gunting.
Perbaikannya sebagai berikut :
a.    Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu.
b.    Sekolah kami terletak didepan bioskop gunting

2.4.2    Ketegasa
            Ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat ada ide yang yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
1). Meletakan kata yang ditonjolkan itu didepan kalimat
Contoh :
Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanan ialah presiden mengharapkan
Contoh :
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya :harapan presiden
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
2). Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh :
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta, telah disambungkan kepada anak –anak terlantar.
Seharusnya :
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
3). Melakukan pengulangan kata
Saya suka dengan kecantikan mereka. Saya suka akan kelembutan mereka.
4). Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
Contoh :
Anak itu malas dan curang, tetepi rajin dan tekun.
5). mempergunakan partikel penekanan
Contoh :
Saudaralah yang bertanggung jawab.
2.4.3    Keparalelan
            Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya law bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh :
a.      Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
b.      Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat  a) tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terjadi dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan.
Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara penyejajaran kedua bentuk itu.
            Harga minyak dibekukan atau dinaikan secara luwes.
            Kalimat  b) tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang, pengujia, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nominal, sebagai berikut.
            Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan,pengujian sistem pengujian air, dan pengaturan tata ruang.
2.4.4    Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Penghematan disini membuat arti penghematan terhadap kata yang memanag tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
1.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Perhatikan contoh :
a.      Karena ia tidak   diundang, dia tidak datang ketempat itu.
b.      Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.
2.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponim kata.
Kata merah suda mencakupi kata warna.    
Kata pipit sudah mencakupi kata burung
Contoh :
Ia memakai baju warna  merah
Dimana engkau menangkap burung pipit itu ?
3.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam suatu kalimat.
Kata naik bersinonim dengan kata ke atas
Kata turun bersinonim dengan kata bawah
Kata hanya bersinonim dengan kata saja
Kata sejak bersinonim dengan dari
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
a.      Dia hanya membawa badannya saja.
b.      Sejak dari pagi dia bermenung
Kalimat  ini dapat diperbaiki menjadi :
a.      Dia hanya membawa badannya.
b.      Sejak pagi dia bermenung.
4.      Penghematan  dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak. Misalnya :
Bentuk tidak baku                                           Bentuk baku
Para tamu-tamu                                         para tamu
Beberapa orang-orang                             beberapa orang
2.4.5    Kecermatan
            Cermat adalah bahwa kalimat itu menimbulkan tafsiran ganda, dan tepat dalam pilihan kalimat. Perhatikan kalimat berikut :
a.      Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah
b.      Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan
Kalimat  a) memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguruan tinggi. Kalimat  b) memiliki ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
Contoh :
Yang menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para mentri.
kalimat ini salah pilihan katanya karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritkan. Kalimat ini dapat diubah menjadi :
yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang,dan para mentri
2.4.6    Kepaduan
            Kepaduan adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
1)      Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak semetris. Oleh karena itu kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele
Misalnya :
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang karena yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan secara tidak sadar bertindak keluar dari kepribadian manusia indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab.
2)      Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat yang berpredikat pada pasif persona.
Surat itu saya suda baca.
Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan
            Kalimat di atas tidak menunjukan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk :
Surat ini suda saya baca
Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan
3)      Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh :
Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat
Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.
Seharusnya :
Mereka membicarakan kehendak rakyat
Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.
2.4.7    Kelogisan
            Kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Contoh :
a.      Waktu dan tempat kami persilahkan
b.      Untuk mempersingkat waktu, kita teruskan acara ini.
Kalimat itu tidak logis (tidak masuk akal). Yang logis adalah sebagai berikut :
a.      Bapak menteri kami persilahkan .
b.      Untuk menghemat waktu, kita teruskan acara ini.
2.4.8    Kelengkapan
            Soedjito, 1990:95 mengatakan bahwa keefektifan suatu kalimatditentukan pula oleh pola unsur kalimat. Kalimat efektif harus memiliki unsur-unsur yang lengkap dan eksplisit. Untuk itu, kalimat efektif sekurang-kurangnya harus mengandung unsur subjek dan predikat. Agar kelengkapan itu dapat terpenuhi, subjek pada awal kalimat hendaknya tidak diawali kata depan, dan predikatnya jelas, serta tidak terdapat pemenggalan kalimat majemuk. Kelengkapan unsur kalimat meliputi beberapa hal :
a)Subjek tidak didahului kata depan
            Sebagaimana yang dikemukakan di atas,kalimat efektif harus tersusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Dari segi kaidah tata bahasa,sekurang-kurangnya kalimat memiliki unsur subjek dan predikat. Jika unsur subjek tidak ada kalimatnyapun tidak memiliki kriteria sebagai kalimat efektif. Kalimat yang tidak bersubjek itu umumnya terjadi karena penggunaan kata depan pada awal kalimat.
Contoh :
Bagi sejumlah binatang ternak, rumput merupakan makanan yang utama (tidak bersubjek).
 Mengenai hal ini beberapa data lain yang dijumpaipun menunjukkan gejala yang serupa (tidak bersubjek)
            Kalimat di atas tidak lengkap,supaya lengkap kalimat ini harus diubah menjadi :
Sejumlah binatang ternak, rumput merupakan makanan yang utama.
Beberapa data lain yang dijumpai pun menunjukan gejala yang serupa.
(b) predikat kalimat jelasm
            Kalimat yang tidak berpredikat juga tidak disebut kalimat yang efektif, karena unsure-unsurnya tidak lengkap.
Ayahnya yang menyukai surat kabar kendari pos (tidak berpredikat)
Ayahnya menyukai surat kabar kendari pos (efektif)
Beberapa mahasiswa diluar kelas (tidak berpredikat)
Beberapa mahasisw berada diluar kelas (efektif)
(c)Bagian kalimat majemuk tidak dipenggal
            Pemakaian bahasa sering ditemukan adanya bagian kalimat majemuk yang ditulis terpisah dari bagian sebelumnya. Untuk jelasnya dapat dilihat contoh kalimat berikut ini.
Pembangunan Mesjid Unhalu belum dilaksanakan. Karena dana yang diusulkan belum turun.
Semua lapisan masyarakat diharapkan ikut berpatisipasi sesuai dengan bidangnya masing-masing. Agar pembangunan yang sedang dilaksanakan dapat berhasil dengan baik.
            Kalimat-kalimat di atas tidak efektif karena penulisannya dipenggal-penggal.
Kalimat-kalimat di atas dapat diubah menjadi :
Pembangunan Mesjid Unhalu belum dilaksanakan karena dana yang diusulkan belum turun.
Semua lapisan masyarakat diharapkan ikut berpatisipasi sesui dengan bidangnya masing-masing agar pembangunan yang dilaksanakan dapat berhasil dengan baik.
2.4.9    Pilihan kata (diksi)
            Pilihan kata (diksi) mencakup pengertian kata-kata yang mana dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana bentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu kalimat.
            Pilihan kata (diksi) adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang dimiliki masyarakat pendengar.
                                    Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat kalimat di bawah ini :
Adik sudah dikasih pisang goreng sama ibu (pemilihan diksi yang salah)
Peraturan itu dibikin oleh pemerintah (pemilihan diksi yang salah)
Peraturan itu dibikin oleh pemerintah (pilihan diksi yang salah)
            Kalimat –kalimat di atas tidak efektif karena salah pemilihan kata. Untuk mengefektifkan kalimat di atas dapat menjadi :
Adik sudah diberi pisang goring oleh ibu
Peraturan itu dibuat oleh pemerintah.









BAB III
3.1  Metode dan Jenis Penelitian
3.1.1        Metode Penelitian
 Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kuantitatif. Istilah deskriptif mengisaratkan bahwa penelitian yang dilakukan semata-mata hanya untuk memberikan gambaran berdasarkan fakta atau fenomena kemampuan siswa kelas II SMP Negeri 2 sawa membuat kalimat efektif yang ditemukan dilapangan. Istilah kuantitatif mengisaratkan bahwa data dalam penelitian ini merupakan angka-angka dan diolah berdasarkan prinsip-prinsip statistic.
  3.1.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian lapangan. Dikatakan penelitian lapangan karena penelitian terlibat langsung di lapangan atau ke sekolah tempat sampel untuk mengumpulkan data penelitian.
3.2     Populasi dan Sampel Penelitian
  Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas II SMP Negeri 2 yang terdaftar pada tahun pelajaran 2006/2007 terdiri atas dua kelas dengan jumlah siswa sebanyak 50 orang. Berikut disajikan keadaan populasi di SMP Negeri 2 Sawa.
Tabel 1
Keadaan Populasi
Kelas
Jumlah Siswa
IIA
27
IIB
23
Jumlah
50

Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah total sampling. Maksudnya seluru populasi akan menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu 50.
3.3  Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrument tes tertulis yang berbentuk karangan, yaitu menyodorkan topik karangan untuk dikembangkan menjadi sebuah karangan, hasil pemberian tugas mengarang kepada responden itulah akan diperoleh data penelitian. Agar siswa lebih komunikatif, maka ditentukan petunjuk penulisan karang sebagai berikut.
1.      Tuliskan identitas anda di sudut kanan pada lembar pekerjaan anda.
2.      Persyaratan karangan :
a.      Karangan hendaknya memiliki pendahuluan. Isi dan penutup.
b.      Panjang karang sekurang-sekurangnya 5 paragraf.
c.       Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
d.      Waktu yang diberikan untuk menyusun karangan tersebut adalah 2 x 45 menit ( 2 jam pelajaran ).
3.      Pilihlah salah satu topic karangan berikut ini kemudian kembangkan menjadi sebuah karangan utuh.
a.      Manfaat perpustakaan sekolah.
b.      Manfaat surat kabar.
c.       Hemat energy.
d.      Bencana alam.
3.4  Pengoreksian Data
Kalimat yang diperoleh dari karangan siswa setelah terkumpul, diolah untuk menentukan kelengkapan unsur kaliamt, kehematan, pilihan kata (diksi) yang tepat serta kelogisan kalimat. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Member kode pada setiap lembaran kerja siswa dengan member nomor urut.
2.      Mengoreksi karangan siswa, karena ada kemungkinan sebagian kata atau kalimat tidak terbaca.
3.      Mengoreksi setiap kalimat untuk menentukan kelengkapan unsure kalimat, pilihan kata (diksi) yang tepat aerta kelogisan kalimat dengan rambu-rambu criteria sebagai berikut.
Untuk menilai kalimat efektif  dalam karangan siswa digunakan skala penilaian 1-4, skala penilaian tersebut mengacu pada pedoman dan cara penskoran penulisan bahasa Indonesia yang ditetapkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional (2003 : 2-3) yang dimodifikasi sebagai berikut.
NO.
Aspek yang dinilai
Skor
1.
Kelengkapan unsure kalimat
-          Semua kalimat dalam karangan siswa lengkap.
-          Ada 1 kalimat yang tidak lengkap
-          Ada 2 kalimat yang tidak lengkap
-          Lebih dari 2 kalimat yang tidak lengkap
1-4
4
3
2
1
2.
Kehematan
-          Semua kalimat dalam karangan siswa hemat.
-          Ada 1 kalimat yang tidak hemat.
-          Ada 2 kalimat yang tidak hemat
-          Lebih dari 2 kalimat yang tidak hemat
1-4
4
3
2
1
3.
Kelogisan
-          Semua kalimat dalam karangan siswa logis
-          Ada 1 kalimat yang tidak logis
-          Ada 2 kalimat yang tidak logis
-          Lebih dari 2 kalimat yang tidak logis
1-4
4
3
2
1
4.
Pilihan kata (diksi)
-          Semua kalimat dalam karangan siswa menggunakan pilihan kata yang tepat
-          Ada 1 kalimat yang tidak tepat penggunaan diksinya
-          Ada 2 kalimat yang tidak tepat penggunaan diksinya
-          Lebih dari 2 kalimat yang tidak tepat penggunaan diksinya
1-4
4

3
2
1

Skor maksimal
16
Sumber : pusat penilaian pendidikan badan penelitian dan pengembangan Depdiknas, (2003 : 2-3 ).
Untuk mengetahui kemampuan siswa membuat kalimat efektif dalam karangan dihitung dengan rumus sebagai berikut :
=skor perolehan x 100%
3.5  Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif, dalam pendeskripsian dilakukan teknik persentase. Criteria pengujian kemampuan membuat kalimat efektif siswa kelas II SMP Negeri 2 sawa menggunakan analisis presentase dengan standar keberhasilan ketuntas belajaran mengacu pada kurikulum 1994, yakni 65 % keberhasilan individual atau mendapat nilai minimal 6,5 (tuntas secara individual) dan 85 % :
% individu = jumlah skor yang diperoleh x 100 %


% klasikal = jumlah siswa dengan ketuntasan individu >  65 % (6,5)  x 100 %


Kemampuan secara klasikal apa bila :
85 % - 100 % = mampu
0, - 84 %         = tidak mampu
Untuk menentukan kemampuan siswa kelas II SMP Negeri 2 sawa dalam membuat kalimat efektif adalah :



Table 3

Kriteria Ketuntasan

Ketuntasan belajar
Presentase
Kategori
Individual
Klasikal
>65 % (6,5)
>85 % (8,5)
Tuntas
Tuntas
( Depdikbud, 1994 )




















Tugas :
RETORIKA
VISI MISI
BUPATI BUTON



OLEH :
IMAWATI
A2D1 09 067



PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar