BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah
1.1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu proses untuk membantu manusia dalam
mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan
permasalahan dengan sikap terbuka. Dengan kata laen , pendidikan merupakan
suatu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Sasaran pembangunan
dibidang pendidikan diarahkan untuk peningkatan mutu pendidikan itu sendiri,
baik pada lembaga pendidikan formal maupun pada lembaga pendidikan nonformal.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan ini , maka perlu adanya upaya untuk
peningkatan metode pengajaran , sebab mengajar merupakan tantangan yang selalu
dihadapi oleh setiap orang yang berkecimpung dalam profesi keguruan dan
pendidikan . Banyak upaya yang telah dilakukan , banyak pula keberhasilan yang
telah dicapai meskipun disadari bahwa apa yang telah dicapai meskipun disadari bahwa
apa yang telah dicapai belum sepenuhnya memberikan prestasi yang menggembirakan
sehingga menuntut renungan , pemikiran dan kerja keras untuk memecahkan
masalah-masalah yang dihadapi dalam bidang pendidikan khususnya di tingkatkan
sekolah menengah pertama (SMP).
Kemampuan siswa SMP menggunakan bahasa Indonesia secara baik
dan benar merupakan kunci kelancaran dan kesempurnaan dalam
proses komunikasi. Seorag siswa , dalam menyampaikan pikiran , perasaan dan
gagasan , harus mempunyai kemampuan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar sebagai sarananya yang tepat. Siswa SMP, dalam menyampaikan pikiran ,perasaan dan gagasan dapat
dituangkan dalam bentuk kalimat. Oleh karena itu, penyusun kalimat merupakan
hal yang penting dalam pemakaian bahasa.
Berdasarkan pernyataan tersebut, masalah
kalimat merupakan hal yang penting dan harus dikuasai oleh siswa SMP. Namun
kenyataannya, pemahaman siswa terhadap kalimat efektif belum menunjukan hasil
yang baik. Permasalahan ini disebabkan oleh kurang mempunyai siswa menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini dapat dilihat pada pemilihan kata
dan penggunaan kalimat yang tidak efektif.
Kalimat dikatakan efektif, apa bila mampu membuat proses
penyampaian dan penerimaan itu berlangsung secara sempurna, kalimat efektif
mampu membuat isi dan maksud yang disampaikan itu tergambar lengkap dalam
pikiran si penerima (pembaca), persis seperti apa yang disampaikan oleh
penulis.
Pembelajaran
kalimat khususnya kalimat efektif berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi di
sekolah menengah pertama (SMP) Kelas II memuat kompetensi dasar siswa mampu
menyunting tulisan sendiri atau orang lain ditinjau dari segi ketepatan ejaan
tanda baca pilihan kata, keefektifan kalimat dan keterpaduan paragrafnya. Pembelajaran
kalimat khususnya kalimat efektif berdasarkan kurikulum Berbasis Kompetensi di
sekolah menengah pertama (SMP) Kelas II
merupakan pembelajaran yang sangat penting. Oleh karena itu, mendapat perhatian
serius dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan
adalah dengan mengadakan kajian terhadap kemampuan siswa dalam membuat kalimat
efektif.
Khususnya di SMP Negeri 2 sawa, setela dilakukan para penelitian
diperoleh informasi bahwa kemampuan siswa dalam membuat kalimat efektif belum
memadai. Hal ini dibuktikan ketika siswa menyusun sebuah tulisan masi terdapat
penggunaan kata-kata yang tidak hemat dalam kalimat, pilihan kata yang kurang
tepat, kalimat yang disusun terkadang tidak lengkap dan tidak logis.
1.1.2 Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang,
maka yang merupakan masalah dalam penelitian ini adalah “ bagaimanakah
kemampuan membuat kalimat efektif siswa kelas II SMP Negeri sawa bila ditinjau
dari segi kelengkapan, kehematan, kelogisan dan pilihan kata ?”
1.1 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.1.1
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan
untuk mendiskripsikan kemampuan membuat kalimat efektif siswa kelas II SMP
Negeri 2 sawa.
1.2.2. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam
penelitian ini adalah :
1 dapat memberikan informasi faktual
mengenai kemampuan membuat kalimat –kalimat efektif siswa kelas II SMP Negeri 2
sawa
2 sebagai bahan masukan bagi guru
bahasa dan sastra Indonesia dalam rangka peningkatan kualitas pengajaran bahasa
Indonesia khususnya Pengajaran kalimat efektif di kelas II SMP
Negeri 2 sawa .
3
hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi peneliti dalam
usaha-usaha penelitian lanjutan yang sifatnya lebih luas dan mendalam.
1.2 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang Lingkup dalam penelitian ini adalah
kemampuan membuat kalimat efektif siswa kelas II SMP Negeri 2 sawa yang meliputi :
1. kemampuan membuat kalimat efektif ditinjau
dari aspek kelengkapan,
2. kemampuan membuat kalimat efektif ditinjau
dari aspek kehematan,
3. kemampuan membuat kalimat efektif ditinjau
dari aspek kelogisan,
4. kemampuan membuat kalimat efektif ditinjau
dari aspek pilihan kata (diksi).
1.3 Batasan Istilah
1. kemampuan membuat adalah kesanggupan yang
diperlihatkan oleh siswa dalam membuat kalimat. atau kalimat efektif adalah
kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan komentator secara tepat dan dapat
dipahami secara tepat pula oleh komunikan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pembelajaran Kalimat Efektif di Kelas II Berdasarkan kurikulum Berbasis Kompetensi
(2004)
Tujuan
mempelajari struktur kalimat bahasa indonesia adalah agar siswa SMP dapat
memahami dan menafsirkan makna kalimat
bahasa indonesia dan disesuaikannya dalam konteks dan situasi. Purwo (1997:9)
menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran struktur kalimat bahasa indonesia adalah
untuk memperlihatkan suatu sistem tentang susunan kalimat bahasa indonesia atas
fungsi-fungsinya, seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan. Dengan
mengetahui fungsi-fungsi kalimat itu seseorang siswa SMP dapat membuat kalimat
yang baik dan benar sesuai dengan kaidah dan aturan bahasa indonesia baku.
Menurut Sirait, (1986)
mengungkapkan bahwa dalam menyusun kalimat bahasa tulisan bahasa indonesia,
siswa harus mahir membuat kalimat yang sesuai sasarannya. Selanjutnya , Efendi
(1995:198) menjelaskan bahwa unsur-unsur kalimat yang digunakan harus saling
berhubungan secara terpadu sehinggadapat mengungkapkan pikiran dengan baik.
Dengan demikiaqn, pengajaran struktur kalimat bahasa indonesia dapat membantu siswa
SMP untuk lebih memahami proses komunikasi baik secara lisan maupun tulisan.
Siswa tidak membuat suatu kontaminasi dari sebuah kalimat, terutama dalam
menggunakan kalimat efektif.
Pembelajaran
kalimat khususnya Kalimat efektif berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi di
sekolah menengah pertama (SMP) kelas II memuat kompetensi dasar siswa mampu
menyunting tulisan sendiri atau tema dengan indikator siswa mampu memperbaiki
tulisan sendiri atau orang lain ditinjau dari segi ketepatan ejaan, tanda baca, pilihan
kata, kefektifan kalimat, dan keterpaduan paragrafnya.
Kriteria yang digunakan
di kelas II SMP Negeri 2 Sawa adlah ketuntasan belajar klasikal dan ketuntasan
belajar individual. Siswa dikatakan tuntas belajar indifidual jika mempunyai
ketuntasan 65% sedangkan ketuntasan klasikal jika secara keseluruhan siswa
mempunyai rata-rata mempunyai 85% (Depdikbud, 1994).
2.2 Kalimat
Batasan pengertian
kalimat yang dikemukakan para pakar bahasa sangat beragam. Keraragaman tersebut
disebabkan oleh adanya tinjauan dari sudut pandang yang berbeda-beda terhadap
objek yang sama.
Menurut Keraf (1984:377)
bahwa kalimat adalah suatu bagian ujaran yang didahului oleh kesenyapan,
sedangkan intonasinya menunjukan bagian ujaran yang lengkap Chaer (1988:377),
kalimat adalah satuan bahasa yang berisikan pikiran atau amanat yang lengkap.
Kalimat juga diartikan
suatu bahasa yang tersebar. Kalimat dilihat dari kedudukannya adlah otonom
(Sande, 1991:117), sedangkan Muliono, (1997:204) bahwa kalimat adalah bagian
terkecil ajaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran secara terbuka.
Selanjutnya, (Alwi, 2001:1) menjelaskan bahwa kalimat diartikan suatu bahasa
terkecil yang dapat mengungkapkan pikiran yang utuh. Pikiran yang utuh itu
diwujudkan dalam bentuk tulisan.
Kalimat adalah suatu
ucapan atau ungkapan kepada seseorang (sasaran) baik secara lisan maupun secara
tulisan yang dapat dimengerti atau mempunyai makna atau pengertian terhadap
penerima. Hal tersebut didukung oleh pendapat Badudu dalam Rusyana (1983:97)
bahwa kalimat selalu mengandung makna dan karena itu orang akan beraksi atas kalimat yang
dipahaminya (merupakan ciri batin kalimat).
Disamping itu juga
kalimat ditentukan berdasarkan arti yaitu subjek ( S ) dijelaskan sebagai hal
atau sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan dan predikat ( P ) sebagai unsure
kalaimat yang pembicaraan subjek, objek ( O ) dijelaskan sebagai unsur kalimat
yang menderita akibat tindakan tersebut kepada predikat, dan keterangan ( K )
dijelaskan unsur kalimat yang memberi keterangan kepada predikat ( Ramlan
1987:13).
2.3 Unsur-Unsur Kalimat
Keefektifan kalimat ditentukan pula oleh unsur kalimat yang
dikembangkan serta kejelasan masing-masing unsur kalimat. Unsur-unsur yang
dimaksudkan dalam bagian adalah sebagaimana dikemukakan oleh Razak (1992: 37)
seperti dibawah ini :
2.3.1 Subjek
Subjek adalah unsur yang diperkatakan dalam sebuah kalimat. Bagian subjek
kalimat sangat menentukan kejelasan makna sebuah kalimat subjek kalimat yang
posisi atau letaknya kurang tepat dalam kalimat yang menyebabkan kekaburan
makna kalimat tersebut.
Lebih
lanjut, bagian subjek kehadirannya ada yang berupa kata ada pula yang berupa
kelompok kata (frasa).
Contoh subjek berupa kata sebagai berikut :
Saya sudah
mulai diproses oleh pihak yang berwajib.
Contoh subjek yang berupa frasa sebagai berikut :
Seekor harimau tiba-tiba menerkam laki-laki itu.
2.3.2 Predikat
Predikat adalah bagian kalimat yang
berfungsi memberitahukan apa, mengapa, atau bagaimana subjek itu disebut
predikat. Slain itu predikat kalimat dapat diketahui pula dengan ciri-ciri
umumnya terletak bagian belakang subjek serta berkelas kata kerja (verba).
Seperti halnya juga subjek, kehadiran predikat ada yang berupa kata ada juga
yang berupa frasa.
Contoh predikat yang berupa kata sebagai berikut :
Saya melihat ke kiri ke kanan
lalu membacakan proposalku.
Contoh predikat yang berupa frasa sebagai berikut :
Saya mencoba memahami
penjelasan pak guru.
2.3.3 Objek
Kalau bagian subjek dan predikat kebanyakan muncul secara eksplisit dalam
kalimat, bagian objek tidaklah demikian halnya. Kehadiran objek dalam kalimat
tergantung pada jenis predikat kalimat. Kehadira objek dalam kalimat ada berupa
kata ada pula yang berupa frasa.
Contoh objek yang berupa kata sebagai berikut :
Saya sedang menimba ilmu di
sekolah ini.
Contoh objek yang berupa frasa sebagai berikut :
Kami ditugasi membaca majalah
sastra.
2.3.4 Pelengkap
Yang
dimaksud dengan bagian pelengkap dalam kalimat pada dasarnya mirip dengan
objek, yaitu sama-sama terletak dibagian belakang predikat dan berkelas kata
benda (nomina). Persamaan dan perbedaan antara objek dan pelengkap
Persamaannya:
Baik objek maupun pelengkap sama-sama berada dibelakang
predikat dengan berkelas kata nomina.
Perbedaannya:
Objek dapat berubah menjadi subjek sehingga predikatnya
berawalan pelengkap tidak dapat menjadi subjek.
Contoh: Lewis memukul Tyson = objek
Hal itu merupakan masalah besar = pelengkap
2.3.5 Keteranga Kalimat
Kalau objek
berfungsi melengkapi predikat, maka keterangan berfungsi memberi keterangan
predikat. Berdasarkan arti dan fungsinya dalam kalimat keterangan dapat
dibedakan :
1. Keteranaga kualitas yaitu keterangan
yang berfungsi menerangkan kualitas pekerjaan atau perbuatan yang dinyatakan
predikat. Contoh : tarian itu dibawakan
dengan lemah lembut
2.
Keterangan tujuan yaitu keterangan yang berfungsi menerangkan tujuan yang
dicapai dari perbuatan yang dinyatakan predikat. Contoh : Uang itu diperuntukkan buat mahasiswa kualifikasi.
3. Keterangan alat yaitu keterangan yang
menyatakan alat atau sesuatu perbuatan dilangsungkan, kata yang digunakan
dengan. Contoh :Lautan itu diseberangi dengan
perahu.
4.
Keterangan tempat yaitu keterangan yang menunjukan tempat atau arah suatu
perbuatan dilakukan. Kata-kata yang digunakan: di, ke, dalam, di dalam, ke
atas, pada dan sebagainya. Contoh Buronan
itu sempat lari ke daerah terpencil.
5. Keterangan waktu yaitu keterangan
yang menunjukan waktu atau peristiwa itu berlangsung. Kata-kata yang digunakan
seperti: sekarang, sebelum, pada saat, sesudah dan sebagainya. Contoh: menjelang akhir perkuliahan
mahasiswa memperlihatkan kemampuannya.
Keterangan keadaan yaitu keterangan
yang menunjukkan situasi atau keadaan suatu perbuatan dilakukan.
Contoh: Dengan spontan tertuduh menolak keputusan itu.
Keterangan alas an yaitu keterngan
yang menjelaskan sebab/alas an perbuatan,kata-kata yang digunakan: sebab, oleh
karena, sebab itu, dan sebagainya.
Contoh: karena jawaban yang berbelit-belit, sehingga dosen membentak.
Keterangan kualitatif yaiti
keterangan yang menunjukan keterangan perbuatan dilakukan.
Contoh: perbuatan itu dilakukan berulang-ulang
2.4 Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk
menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti
apa yang ada dalam pikiran pembaca atau penulis. Kalimat efektif sangat
mengutamakan keefektifan informasi itu sehingga kejelasan kalimat itu dapat
terjamin.
Kalimat
efektif adalah yang memenuhi syarat sebagai berikut: (1) secara tepat mewakili
gagasan atau perasaan pembicara atau penulis, (2) sanggup menimbulkan gagasan
yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar, seperti yang dipikirkan oleh
pembicara atau penulis. (Keraf,1980 : 35)
Sebuah
kalimat efektif mempunyai cirri-ciri khas, yaitu kesepadanan, ketegasan makna,
keparalelan, kehematan kata, kecematan penalaran, kepaduan gagasan, dan
kelogisan bahasa, kelengkapan dan pilihan kata (diksi).
2.4.1 Kesepadanan
Kesepadanan
yaitu keseimbangan antara pikiran dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan
kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan
pikiran yang baik (Mukti, 2002 : 8)
Kesepadanan
kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti yang tercantum dibawah ini :
1. Kalimat itu mempunyai subjek dan
predikat dengan jelas. Ketidak jelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu
saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek atau predikat suatu
kalimat dapat dilakukan dgn menghindarkan pemakaian kata dengan di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai,
tentang, mengenai, menurut dan sebagainya didepan subjek.
Contoh :
a.
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi
ini harus membayar uang kuliah. (efektif)
2.
Tidak
terdapat subjek yang ganda.
Contoh :
a.
Dalam penyusunan laporan iu saya
dibantu oleh para dosen
b.
Soal itu kurang jelas
Kalimat-kalimat
itu dapat diperbaiki dengan cara berikut :
a.
Penyusunan laporan itu, saya dibantu
oleh para dosen
b.
Soal itu bagi saya kurang jelas
3.
Kata
penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh :
a.
Kami dating agak terlambat. Sehingga
kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
b.
Kakaknya membeli sepeda motor Honda.
Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua
cara. Pertama, ubalah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua, gantilah
ungkapan penghubung intra kalimat menjadi ungkapan penghubung antara
kalimat,sebagai berikut.
a.
Kami dating agak terlambat sehingga
kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
Atau
Kami dating agak terlambat. Oleh
karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
b.
Kakaknya membeli sepeda motor Honda,
sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Atau
Kakaknya membili sepeda motor Honda.
Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki.
4.
Predikat
kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh :
a.
Bahasa Indonesia yang berasal dari
bahasa melayu.
b.
Sekolah kami yang terletak didepan
bioskop gunting.
Perbaikannya sebagai berikut :
a.
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa
melayu.
b.
Sekolah kami terletak didepan bioskop
gunting
2.4.2 Ketegasa
Ketegasan
atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat ada ide
yang yang perlu ditonjolkan. Kalimat
itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam
kalimat.
1). Meletakan kata yang ditonjolkan itu didepan kalimat
Contoh :
Presiden mengharapkan agar rakyat
membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanan ialah presiden
mengharapkan
Contoh :
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan
negaranya.
Penekanannya :harapan
presiden
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi
kalimat.
2). Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh :
Bukan seribu, sejuta, atau seratus,
tetapi berjuta-juta, telah disambungkan kepada anak –anak terlantar.
Seharusnya :
Bukan seratus, seribu, atau sejuta,
tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
3). Melakukan pengulangan kata
Saya suka dengan kecantikan mereka.
Saya suka akan kelembutan mereka.
4). Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
Contoh :
Anak itu malas dan curang, tetepi
rajin dan tekun.
5). mempergunakan partikel penekanan
Contoh :
Saudaralah yang bertanggung jawab.
2.4.3 Keparalelan
Keparalelan
adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya law
bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus
menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga
menggunakan verba.
Contoh :
a. Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara
luwes.
b. Tahap terakhir penyelesaian gedung
itu adalah kegiatan pengecatan
tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat a) tidak mempunyai kesejajaran karena dua
bentuk kata yang mewakili predikat terjadi dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan.
Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara penyejajaran kedua
bentuk itu.
Harga minyak dibekukan atau dinaikan secara
luwes.
Kalimat b) tidak memiliki kesejajaran karena kata
yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang, pengujia, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat
yang nominal, sebagai berikut.
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok,
pemasangan penerangan,pengujian sistem pengujian air, dan pengaturan tata
ruang.
2.4.4 Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata frasa,
atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu kehematan tidak berarti harus
menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Penghematan
disini membuat arti penghematan terhadap kata yang memanag tidak diperlukan,
sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu
diperhatikan.
1. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Perhatikan contoh :
a. Karena ia tidak diundang, dia
tidak datang ketempat itu.
b. Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.
2. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian
superordinat pada hiponim kata.
Kata merah suda mencakupi kata warna.
Kata pipit sudah mencakupi kata burung
Contoh :
Ia memakai baju warna merah
Dimana engkau menangkap burung pipit itu ?
3.
Penghematan
dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam suatu kalimat.
Kata naik bersinonim dengan kata ke
atas
Kata turun bersinonim dengan kata bawah
Kata hanya bersinonim dengan kata saja
Kata sejak bersinonim dengan dari
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah
ini.
a. Dia hanya membawa badannya saja.
b. Sejak dari pagi dia bermenung
Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi :
a. Dia hanya membawa badannya.
b. Sejak pagi dia bermenung.
4.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan
kata-kata yang berbentuk jamak. Misalnya :
Bentuk tidak baku Bentuk baku
Para tamu-tamu para tamu
Beberapa orang-orang beberapa orang
2.4.5 Kecermatan
Cermat
adalah bahwa kalimat itu menimbulkan tafsiran ganda, dan tepat dalam pilihan
kalimat. Perhatikan kalimat berikut :
a. Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah
b. Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan
Kalimat a) memiliki makna ganda, yaitu siapa yang
terkenal, mahasiswa atau perguruan tinggi. Kalimat b) memiliki ganda, yaitu berapa jumlah uang,
seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
Contoh :
Yang menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para
mentri.
kalimat ini salah pilihan katanya
karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritkan. Kalimat
ini dapat diubah menjadi :
yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para
hulubalang,dan para mentri
2.4.6 Kepaduan
Kepaduan adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat sehingga informasi yang
disampaikannya tidak terpecah-pecah.
1)
Kalimat
yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak
semetris. Oleh karena itu kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele
Misalnya :
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang karena
yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan secara tidak sadar
bertindak keluar dari kepribadian manusia indonesia dari sudut kemanusiaan yang
adil dan beradab.
2)
Kalimat
yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat
yang berpredikat pada pasif persona.
Surat itu saya suda baca.
Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan
Kalimat di atas tidak menunjukan
kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu
berbentuk :
Surat ini suda saya baca
Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan
3)
Kalimat
yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang
antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh :
Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat
Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.
Seharusnya :
Mereka membicarakan kehendak rakyat
Makalah ini akan
membahas desain interior pada rumah-rumah adat.
2.4.7 Kelogisan
Kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan
penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Contoh :
a. Waktu dan tempat kami persilahkan
b. Untuk mempersingkat waktu, kita teruskan acara ini.
Kalimat itu tidak logis (tidak masuk
akal). Yang logis adalah sebagai berikut :
a. Bapak menteri kami persilahkan .
b. Untuk menghemat waktu, kita teruskan acara ini.
2.4.8 Kelengkapan
Soedjito, 1990:95 mengatakan bahwa keefektifan suatu kalimatditentukan
pula oleh pola unsur kalimat. Kalimat efektif harus memiliki unsur-unsur yang
lengkap dan eksplisit. Untuk itu, kalimat efektif sekurang-kurangnya harus
mengandung unsur subjek dan predikat. Agar kelengkapan itu dapat terpenuhi,
subjek pada awal kalimat hendaknya tidak diawali kata depan, dan predikatnya
jelas, serta tidak terdapat pemenggalan kalimat majemuk. Kelengkapan unsur
kalimat meliputi beberapa hal :
a)Subjek tidak didahului kata depan
Sebagaimana
yang dikemukakan di atas,kalimat efektif harus tersusun sesuai dengan kaidah
yang berlaku. Dari segi kaidah tata bahasa,sekurang-kurangnya kalimat memiliki
unsur subjek dan predikat. Jika unsur subjek tidak ada kalimatnyapun tidak
memiliki kriteria sebagai kalimat efektif. Kalimat yang tidak bersubjek itu
umumnya terjadi karena penggunaan kata depan pada awal kalimat.
Contoh :
Bagi sejumlah binatang ternak, rumput
merupakan makanan yang utama (tidak bersubjek).
Mengenai hal ini beberapa data lain yang dijumpaipun menunjukkan gejala
yang serupa (tidak bersubjek)
Kalimat di atas tidak lengkap,supaya
lengkap kalimat ini harus diubah menjadi :
Sejumlah binatang ternak, rumput
merupakan makanan yang utama.
Beberapa data lain yang dijumpai pun
menunjukan gejala yang serupa.
(b) predikat kalimat jelasm
Kalimat yang
tidak berpredikat juga tidak disebut kalimat yang efektif, karena
unsure-unsurnya tidak lengkap.
Ayahnya yang menyukai surat kabar
kendari pos (tidak berpredikat)
Ayahnya menyukai surat kabar kendari
pos (efektif)
Beberapa mahasiswa diluar kelas
(tidak berpredikat)
Beberapa mahasisw berada diluar kelas
(efektif)
(c)Bagian kalimat majemuk tidak dipenggal
Pemakaian
bahasa sering ditemukan adanya bagian kalimat majemuk yang ditulis terpisah
dari bagian sebelumnya. Untuk jelasnya dapat dilihat contoh kalimat berikut
ini.
Pembangunan Mesjid Unhalu belum
dilaksanakan. Karena dana yang diusulkan belum turun.
Semua lapisan masyarakat diharapkan
ikut berpatisipasi sesuai dengan bidangnya masing-masing. Agar pembangunan yang
sedang dilaksanakan dapat berhasil dengan baik.
Kalimat-kalimat di atas tidak efektif
karena penulisannya dipenggal-penggal.
Kalimat-kalimat di atas dapat diubah menjadi :
Pembangunan Mesjid Unhalu belum
dilaksanakan karena dana yang diusulkan belum turun.
Semua lapisan masyarakat diharapkan
ikut berpatisipasi sesui dengan bidangnya masing-masing agar pembangunan yang
dilaksanakan dapat berhasil dengan baik.
2.4.9 Pilihan kata (diksi)
Pilihan kata (diksi) mencakup pengertian kata-kata yang mana dipakai
untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana bentuk pengelompokan kata-kata yang
tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling
baik digunakan dalam suatu kalimat.
Pilihan kata
(diksi) adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari
gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang
dimiliki masyarakat pendengar.
Untuk
lebih jelasnya dapat kita lihat kalimat di bawah ini :
Adik sudah dikasih pisang goreng sama
ibu (pemilihan diksi yang salah)
Peraturan itu dibikin oleh pemerintah
(pemilihan diksi yang salah)
Peraturan itu dibikin oleh pemerintah
(pilihan diksi yang salah)
Kalimat –kalimat di atas tidak
efektif karena salah pemilihan kata. Untuk mengefektifkan kalimat di atas dapat
menjadi :
Adik sudah diberi pisang goring oleh
ibu
Peraturan itu dibuat oleh pemerintah.
BAB III
3.1 Metode dan Jenis Penelitian
3.1.1
Metode
Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
deskriptif kuantitatif. Istilah deskriptif mengisaratkan bahwa penelitian yang
dilakukan semata-mata hanya untuk memberikan gambaran berdasarkan fakta atau
fenomena kemampuan siswa kelas II SMP Negeri 2 sawa membuat kalimat efektif
yang ditemukan dilapangan. Istilah kuantitatif mengisaratkan bahwa data dalam
penelitian ini merupakan angka-angka dan diolah berdasarkan prinsip-prinsip
statistic.
3.1.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian
lapangan. Dikatakan penelitian lapangan karena penelitian terlibat langsung di
lapangan atau ke sekolah tempat sampel untuk mengumpulkan data penelitian.
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas II SMP
Negeri 2 yang terdaftar pada tahun pelajaran 2006/2007 terdiri atas dua kelas
dengan jumlah siswa sebanyak 50 orang. Berikut disajikan keadaan populasi di
SMP Negeri 2 Sawa.
Tabel 1
Keadaan Populasi
Kelas
|
Jumlah Siswa
|
IIA
|
27
|
IIB
|
23
|
Jumlah
|
50
|
Teknik yang digunakan dalam
pengambilan sampel adalah total sampling.
Maksudnya seluru populasi akan menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu
50.
3.3 Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrument
tes tertulis yang berbentuk karangan, yaitu menyodorkan topik karangan untuk
dikembangkan menjadi sebuah karangan, hasil pemberian tugas mengarang kepada
responden itulah akan diperoleh data penelitian. Agar siswa lebih komunikatif,
maka ditentukan petunjuk penulisan karang sebagai berikut.
1. Tuliskan identitas anda di sudut
kanan pada lembar pekerjaan anda.
2. Persyaratan karangan :
a. Karangan hendaknya memiliki
pendahuluan. Isi dan penutup.
b. Panjang karang sekurang-sekurangnya 5
paragraf.
c. Gunakan bahasa Indonesia yang baik
dan benar
d. Waktu yang diberikan untuk menyusun
karangan tersebut adalah 2 x 45 menit ( 2 jam pelajaran ).
3. Pilihlah salah satu topic karangan
berikut ini kemudian kembangkan menjadi sebuah karangan utuh.
a. Manfaat perpustakaan sekolah.
b. Manfaat surat kabar.
c. Hemat energy.
d. Bencana alam.
3.4 Pengoreksian Data
Kalimat yang diperoleh dari karangan siswa setelah terkumpul,
diolah untuk menentukan kelengkapan unsur kaliamt, kehematan, pilihan kata
(diksi) yang tepat serta kelogisan kalimat. Langkah-langkah yang dilakukan
adalah sebagai berikut :
1. Member kode pada setiap lembaran
kerja siswa dengan member nomor urut.
2. Mengoreksi karangan siswa, karena ada
kemungkinan sebagian kata atau kalimat tidak terbaca.
3. Mengoreksi setiap kalimat untuk
menentukan kelengkapan unsure kalimat, pilihan kata (diksi) yang tepat aerta
kelogisan kalimat dengan rambu-rambu criteria sebagai berikut.
Untuk menilai kalimat efektif dalam karangan siswa digunakan skala
penilaian 1-4, skala penilaian tersebut mengacu pada pedoman dan cara penskoran
penulisan bahasa Indonesia yang ditetapkan oleh Pusat Penilaian Pendidikan
Departemen Pendidikan Nasional (2003 : 2-3) yang dimodifikasi sebagai berikut.
NO.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
1.
|
Kelengkapan unsure
kalimat
-
Semua kalimat dalam karangan siswa lengkap.
-
Ada 1 kalimat yang tidak lengkap
-
Ada 2 kalimat yang tidak lengkap
-
Lebih dari 2 kalimat yang tidak lengkap
|
1-4
4
3
2
1
|
2.
|
Kehematan
-
Semua kalimat dalam karangan siswa hemat.
-
Ada 1 kalimat yang tidak hemat.
-
Ada 2 kalimat yang tidak hemat
-
Lebih dari 2 kalimat yang tidak hemat
|
1-4
4
3
2
1
|
3.
|
Kelogisan
-
Semua kalimat dalam karangan siswa logis
-
Ada 1 kalimat yang tidak logis
-
Ada 2 kalimat yang tidak logis
-
Lebih dari 2 kalimat yang tidak logis
|
1-4
4
3
2
1
|
4.
|
Pilihan kata (diksi)
-
Semua kalimat dalam karangan siswa menggunakan pilihan kata yang tepat
-
Ada 1 kalimat yang tidak tepat penggunaan diksinya
-
Ada 2 kalimat yang tidak tepat penggunaan diksinya
-
Lebih dari 2 kalimat yang tidak tepat penggunaan diksinya
|
1-4
4
3
2
1
|
Skor maksimal
|
16
|
Sumber : pusat penilaian pendidikan
badan penelitian dan pengembangan Depdiknas, (2003 : 2-3 ).
Untuk mengetahui kemampuan siswa
membuat kalimat efektif dalam karangan dihitung dengan rumus sebagai berikut :
=skor perolehan x 100%
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif, dalam
pendeskripsian dilakukan teknik persentase. Criteria pengujian kemampuan
membuat kalimat efektif siswa kelas II SMP Negeri 2 sawa menggunakan analisis
presentase dengan standar keberhasilan ketuntas belajaran mengacu pada kurikulum
1994, yakni 65 % keberhasilan individual atau mendapat nilai minimal 6,5
(tuntas secara individual) dan 85 % :
% individu = jumlah skor yang diperoleh x 100 %
% klasikal = jumlah siswa dengan ketuntasan individu > 65 % (6,5) x 100 %
Kemampuan secara klasikal apa bila :
85 % - 100 % = mampu
0, - 84 % =
tidak mampu
Untuk menentukan kemampuan siswa kelas II SMP Negeri 2 sawa
dalam membuat kalimat efektif adalah :
Table 3
Kriteria Ketuntasan
Ketuntasan belajar
|
Presentase
|
Kategori
|
Individual
Klasikal
|
>65 % (6,5)
>85 % (8,5)
|
Tuntas
Tuntas
|
( Depdikbud, 1994 )
Tugas :
RETORIKA
VISI MISI
BUPATI BUTON
OLEH :
IMAWATI
A2D1 09 067
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar