1. PENGERTIAN
ILMU JURNALISTIK
Ilmu jurnalistik
adalah bagian dari ilmu publisistik (to publish = publikasi). Publisistik
sendiri merupakan bagian dari ilmu komunikasi. Makna jurnalistik adalah hal
ihwal yang berhubungan dengan persurat-kabaran (media massa cetak = pers).
Secara lebih sederhana, jurnalistik sering diartikan sebagai ilmu tentang
tulis-menulis di media massa. Padanan ilmu jurnalistik adalah pengetahuan
kewartawanan. Hingga jurnalis juga dipadankan dengan wartawan, yang merupakan
profesi untuk memperoleh informasi guna disebarluaskan ke masyarakat melalui
media massa cetak. Sekarang profesi jurnalis / wartawan tidak hanya terkait
dengan media massa cetak, melainkan juga radio, televisi, kantor berita dan
multi media (web site).
pada dasarnya sama yaitu diartikan sebagai laporan. Dan dari
pengertianada beberapa versi. Kalau dalam
dari sejarah Islam cikal bakal jurnalistik yang pertamakali didunia
adalah pada zaman Nabi Nuh.Suhandang dalam bukunya juga menerangkan sejarah
Nabi Nuh teerutama dalammenyinggung tentang
kejurnalistikan. Dikisahkan bahwa pada waktu itu sebelum AllahSWT menurunkan
banjir yang sangat hebatkepada kaum yang kafir, maka datanglahmaiakat utusan
Allah SWT kepada Nabi Nuh agar ia memberitahukan cara membuatkapal sampai selesai.
Kapal yang akan dibuatnya sebagai alat untuk evakuasi Nabi Nuh beserta
sanak keluarganya, seluruh pengikutnya yang shaleh dan segala macam hewanmasing-masing
satu pasang. Tidak lama kamudian, seusainya Nabi Nuh membuat kapal,hujan lebat pun turun berhari-hari tiada hentinya.
Demikian pula angin dan badai tiadahenti, menghancurkan segala apa yang ada di
dunia kecuali kapal Nabi Nuh. Dunia pundengan
cepat menjadi lautan yang sangat besar dan luas. Saat itu Nabi Nuh bersamaoranng-orang yang beriman lainnya dan hewan-hewan
itu telah naik kapal, dan berlayar dengan selamat diatas gelombang
lautan banjir yang sangat dahsyat.Hari larut berganti malam, hingga hari
berganti hari, minggu berganti minggu. Namun air tetap menggenang dalam,
seakan-akan tidak berubah sejak semula. Sementaraitu Nabi Nuh beserta lainnya yang ada dikapal mulai khawatir dan gelisah
karena persediaan makanan mulai
menipis.
Masing-masing penumpang pun mulai
bertanya-tanya, apakah air bah itu memang tyidak berubah atau bagaimana? Hanya
kepastiantentang hal itu saja rupanya yang bisa menetramkan karisuan hati
mereka. Denganmenngetahui situasi dan kondisi itu mereka mengharapkan dapat memperoleh
landasan berfikir untuk melakukan
tindak lanjut dalam menghadapi penderitaanya, terutama dalammelakukan
penghematan yang cermat.Guna memenuhi keperluan dan keinginan para penumpang
kapalnya itu Nabi Nuhmengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk meneliti
keadaan air dan kemungkinanadanya makanan. Setelah beberapa lama burung itu
terbang mengamati keadaan air, dankian kemari mencari makanan, tetapi sia-sia
belaka. Burung dara itu hanya melihat daundan
ranting pohon zaitun (olijf) yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu
pundi patuknya dan dibawanya pulang ke kapal. Atas datangnya kembali
burung itu denganmembawa ranting zaitun. Nabi
Nuh mengambil kesimpulan bahwa air bah sudah mulaisurut, namun seluruh
permukaan bumi masih tertutup air, sehingga burung dara itu puntidak menemukan
tempat untuk istirahat demikianlah kabar dan berita itu disampaikankepada
seluruh anggota penumpangnya.
Atas dasar fakta tersebut, para ahli sejarah menamakan Nabi
Nuh sebagai seorang pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) yang
pertama kali di dunia. Bahkan sejalandengan teknik-teknik dan caranya mencari
serta menyiarkan kabar (warta berita di zamansekarang dengan lembaga kantor
beritannya). Mereka menunjukan bahwa sesungguhnya kantor berita yang pertama di
dunia adalah Kapal Nabi Nuh
.Data selanjutnya
diperolah para ahli sejarah negara Romawi pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi (Imam Agung)
mencatat segala kejadian penting yangdiketahuinya pada annals (papan
tulis yang digantungkan di serambi rumahnya). Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang
yang lewat danmemerlukannya.Pengumuman sejenis itu dilanjutkan oleh
Julius Caesar pada zaman kejayaannya. Caesar
mengumumkan hasil persidangan senat, berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang
perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya,dengan jalan menuliskannya
pada papan pengumuman berupa papan tulis pada masa itu (60 SM) dikenal dengan acta diurna dan diletakkan di Forum Romanum
(StadionRomawi) untuk diketahui oleh
umum. Terhadap isi acta diurna tersebut setiap orang boleh
membacanya, bahkan juga boleh mengutipnya untuk kemudian disebarluaskan
dandikabarkan ke tempat lain.Baik hikayat Nabi Nuh menurut keterangan Flavius
Josephus maupun munculnyaacta diurna belum merupakan suatu penyiaran atau
penerbitan sebagai harian, akan tetapi jelas
terlihat merupakan gejala awal perkembangan jurnalistik. Dari kejadian
tersenutdapat kita ketahui adanya suatu kegiatanyang mempunyai prinsip-prinsip
komunikasimassa pada umumnya dan kejuruan jurnalistik pada khususnya. Karena
itu tidak herankalau Nabi Nuh dikenal sebagai wartawan pertama di dunia.
Demikian pula acta diurnal sebagai cikal bakal lahirnya surat
kabar harian. Seiring kemajuan teknologi informasi maka yang bermula dari
laporan harianmaka tercetak manjadi surat
kabar harian. Dari media cetak berkembang ke mediaelektronik, dari kemajuan elektronik terciptalah
media informasi berupa radio. Tidak cukup dengan radio yang hanya berupa
suara muncul pula terobosan baru berupa mediaaudio visual yaitu TV (televisi). Media informasi tidak puas hanya
dengan televisi,lahirlah berupa
internet, sebagai jaringan yang bebas dan tidak terbatas. Dan sekarangdengan
perkembangan teknologi telah melahirkan banyak media (multimedia).
Sejarah
Jurnalistik
Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang
sifatnya informatif saja.Itu terbukti pada
Acta Diurna sebagai produk jurnalistik pertama pada zaman RomawiKuno,
ketika kaisar Julius Caesar berkuasa.Sekilas
tentang pengertian dan perkembangan jurnalistik, Assegaff sedikitmenceritakan
sedikit sejarah. Bahwa jurnalistik berasal dari kata Acta Diurna, yang terbitdi zaman Romawi, dimana berita-berita dan
pengumuman ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang di kala itu
disebut Forum Romanum. Namun asal kata jurnalistik adalah“Journal” atau “Du jour” yang berarti hari, di mana
segala berita atau warta sehari itu termuat
dalam lembaran tercetak.Karena kemajuan teknologi danditemukannyapencetakan
surat kabar dengan system silinder (rotasi), maka istilah “pers muncul”,
sehingga orang lalu mensenadakan istilah “jurnalistik” dengan “pers”.Sejarah
yang pasti tentang jurnalistik tidak begitu jelas sumbernya, namun
yang pasti jurnaliatik
2. TEMPAT
BELAJAR ILMU JURNALISTIK
Secara formal, ilmu jurnalistik bisa dipelajari di perguruan tinggi negeri maupun swasta, melalui program diploma, strata 1, 2 (magister) dan 3 (Phd. / Dr.) Umumnya jurnalistik hanya menjadi Satuan Mata Kuliah (SKS) dari jurusan publisistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Namun ada beberapa perguruan tinggi, yang menjadikan jurnalistik sebagai salah satu jurusan di Fakultas Publisistik, bersamaan dengan Advertising dan Public Relation (PR = kehumasan).
3. KARYA
JURNALISTIK MULAI DITULIS
Karya jurnalistik mulai dibuat sejak
jaman Mesir Kuno, yakni ketika kultur manusia mengenal peradaban menulis.
Bentuk tulisan yang pertama berkembang adalah reportase (to report =
melaporkan). Peninggalan karya jurnalistik tertua (1.500 SM), berupa manuskrip
berhuruf hieroglyph di atas daun papyrus (paper = kertas) dan relief dinding
batu di salah satu kuil di Mesir. Isi manuskrip adalah perjalanan seorang Raja
Mesir (Fira’un) untuk menaklukkan kota Megido (sekarang Lebanon). Pada
jaman Julius Caesar (Romawi, 100 – 44 SM), laporan pandangan mata dari medan
perang ditulis dan dipasang secara periodik di papan pengumuman di kota.
Menuliskan hasil perjalanan, juga dilakukan oleh para “jurnalisâ€Â
Cina kuno yang berlayar bersama para pedagang dan penyebar agama Budha.
4. PERKEMBANGAN
ILMU JURNALISTIK
Ilmu jurnalistik berkembang sejak abad XV,
bersamaan dengan diketemukannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg dari Jerman.
Sejak itu berkembanglah penerbitan buku. Selain buku juga terbit media berkala
secara periodik dan dicetak massal untuk dijual ke masyarakat luas. Bersamaan
dengan berkembangnya media massa cetak, berkembang pulalah ilmu jurnalistik.
Apakah
untuk menjadi wartawan profesional, seseorang harus memiliki pendidikan formal
seperti halnya dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal? Tidak
harus. Siapa pun bisa berprofesi sebagai wartawan, asalkan memiliki
keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh media massa tempatnya
bekerja (wartawan tetap) dan yang akan dikirimi tulisan/foto (wartawan free
lance, kontributor tetap). Jadi profesi wartawan berbeda dengan dokter,
pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal yang harus memiliki pendidikan
khusus dengan standar internasional.
Selain
melalui pendidikan formal di perguruan tinggi, di manakah seseorang bisa
belajar ilmu jurnalistik? Biasanya calon wartawan dengan pendidikan strata 1
berbagai jurusan, setelah diterima bekerja di perusahaan media massa, akan
dididik (diberi bekal ilmu jurnalistik) melalui program in house training.
Selain itu, cukup banyak kursus dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan
oleh lembaga-lembaga swasta, yang terbuka untuk umum. Seseorang yang berminat
belajar ilmu jurnalistik bisa mengikuti training-training di lembaga swasta
tersebut.
5. DUNIA MEDIA MASSA
Media
massa atau kadang hanya disebut sebagai media, adalah peralatan (sarana) untuk
menyebarkan informasi ke masyarakat. Media massa ada yang bersifat komersial
(dijual dan menerima iklan). Ada pula yang bersifat non komersial dan dibiayai
oleh lembaga penyelenggaranya. Biasanya media massa non komersial
diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kenegaraan, keagamaan, pemerhati
lingkungan dan sosial kemasyarakatan, atau sebagai alat promosi dan PR bagi
perusahaan besar. Misalnya majalah maskapai penerbangan yang ditaruh di
masing-masing kursi pesawat.
Ada
berapa macamkah media massa saat ini? Saat ini kita mengenal media massa cetak,
media massa radio, media massa film (bioskup), media massa televisi, kantor
berita, media massa luar ruang (poster, spanduk, billboard, balon) dan multi
media (internet/web site).
Media
massa manakah yang paling terkait dengan pekerjaan jurnalistik? Yang paling
terkait dengan pekerjaan jurnalistik adalah media massa cetak, radio, tivi dan
kantor berita. Sementara film, media luar ruang dan multi media kurang terkait
dengan kerja jurnalistik secara langsung.
Media
massa manakah yang paling berpengaruh saat ini? Media massa yang paling
berpengaruh saat ini adalah televisi. Sebab daya jangkau televisi sangat luas,
serentak dan cepat. Nomor dua media massa cetak. Media massa radio pernah
berperan sangat besar pada waktu perang dunia I maupun II. Sebab pada saat itu
media televisi belum berkembang seperti sekarang. Media kantor berita biasanya
hanya berbentuk buletin atau kalau sekarang berupa web site. Fokus kantor
berita internasional saat ini adalah fotografi.
Mungkinkah
salah satu bentuk media massa itu akan mati karena desakan jenis media yang
lebih kuat? Tidak mungkin. Sebab masing-masing memiliki kekuatan yang tidak
tergantikan. Contohnya media radio yang pernah sangat berpengaruh pada era
perang dunia II, kemudian surut karena terdesak media televisi pada tahun
1980an. Namun media radio kembali menemukan perannya ketika lalulintas di kota
besar menghadapi masalah kemacetan. Di sinilah radio kembali memegang peranan
penting dan menemukan pasarnya. Media radio cocok untuk masyarakat/orang yang
sedang melakukan sesuatu hingga tidak mungkin membaca atau menonton tivi.
Misalnya mereka yang sedang mengemudikan mobil, bekerja di pabrik, kebun dll.
Media Massa Cetak
Apa
sajakah yang dikatagorikan sebagai media massa cetak? Yang dikatagorikan
sebagai media massa cetak adalah koran, tabloid, majalah, bulletin, jurnal dan
news letter.
Apakah
yang membedakan media massa cetak dengan buku? Media massa cetak diterbitkan
secara periodik, dengan nama penerbitan sama, diberi nomor serta tanggal terbit
dan memuat isi yang bersifat faktual. Sementara buku tidak terbit secara
periodik dan memuat isi yang tidak bersifat faktual.
Bagaimanakah
periodisasi terbitnya media massa cetak? Periodisasi terbitnya media massa
cetak pada umumnya adalah: harian, mingguan, dua mingguan, bulanan, dua
bulanan, tiga bulanan, empat bulanan, tengah tahunan dan tahunan. Media massa
yang terbit harian, umumnya koran. Sementara yang terbitnya dua bulanan sampai
setahun sekali umumnya jurnal. Periodisasi yang paling banyak digunakan, selain
harian adalah mingguan dan bulanan. Biasanya tabloid dan majalah menggunakan
pola terbit mingguan dan bulanan.
Bagaimanakah
media massa cetak dibuat? Media massa cetak dibuat dengan cara mencari dan
mengumpulkan bahan, baik bahan tertulis, gambar dan foto. Pekerjaan ini
dilakukan oleh para wartawan. Bahan itu diolah menjadi tulisan oleh redaksi,
untuk selanjutnya ditata dalam halaman-halaman penerbitan, dibuat film dan
plate lalu dicetak, untuk majalah harus dijilid dan kemudian diedarkan. Baik
secara cuma-cuma maupun dijual.
Bagaimanakah
media massa cetak diedarkan?
Media massa cetak diedarkan secara cuma-cuma oleh lembaga kenegaraan/pemerintahan, keagamaan, perusahaan dll. Media massa cetak yang diedarkan secara komersial, bisa dijual di agen koran/majalah (di lapak), dijual para pengasong di jalan raya, di toko buku dan dilanggan oleh konsumen. Pelanggan bisa menerima penerbitan media massa melalui jasa pos, hantaran atau loper yang dipekerjakan oleh agen.
Media massa cetak diedarkan secara cuma-cuma oleh lembaga kenegaraan/pemerintahan, keagamaan, perusahaan dll. Media massa cetak yang diedarkan secara komersial, bisa dijual di agen koran/majalah (di lapak), dijual para pengasong di jalan raya, di toko buku dan dilanggan oleh konsumen. Pelanggan bisa menerima penerbitan media massa melalui jasa pos, hantaran atau loper yang dipekerjakan oleh agen.
Bagaimanakah
penerbitan media massa cetak dibiayai?
Media massa cetak non komersial, dibiayai oleh anggaran lembaga yang menerbitkannya, karena akan diedarkan secara cuma-cuma. Media massa cetak komersial, dibiayai dari penjualan media massa tersebut, uang langganan dan jasa penjualan halaman untuk dipasangi iklan. Ada pula pemasukan dari advertorial (iklan dalam bentuk artikel). Media massa tertentu, juga memperoleh pendapatan dari produk pendukungnya (barang promosi). Bahkan kadang-kadang produk pendukung ini justru bisa mendatangkan pemasukan lebih tinggi.
Media massa cetak non komersial, dibiayai oleh anggaran lembaga yang menerbitkannya, karena akan diedarkan secara cuma-cuma. Media massa cetak komersial, dibiayai dari penjualan media massa tersebut, uang langganan dan jasa penjualan halaman untuk dipasangi iklan. Ada pula pemasukan dari advertorial (iklan dalam bentuk artikel). Media massa tertentu, juga memperoleh pendapatan dari produk pendukungnya (barang promosi). Bahkan kadang-kadang produk pendukung ini justru bisa mendatangkan pemasukan lebih tinggi.
Apakah
untuk menerbitkan media massa cetak memerlukan ijin khusus?
Sebelum tahun 1998, penerbitan media massa cetak memerlukan ijin khusus yang pengurusannya sangat rumit dan berbelit serta memerlukan dana besar. Hingga pada waktu itu SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) memiliki nilai komersial yang sangat tinggi. Setelah tahun 1998, penerbitan media massa cetak bisa dilakukan dengan bebas oleh siapa saja.
Sebelum tahun 1998, penerbitan media massa cetak memerlukan ijin khusus yang pengurusannya sangat rumit dan berbelit serta memerlukan dana besar. Hingga pada waktu itu SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) memiliki nilai komersial yang sangat tinggi. Setelah tahun 1998, penerbitan media massa cetak bisa dilakukan dengan bebas oleh siapa saja.
Wartawan,
Redaktur dan Penulis Lepas
Apakah
yang dimaksud sebagai wartawan, redaktur dan penulis lepas?
Wartawan, jurnalis atau reporter adalah profesi untuk memperoleh informasi dengan mendatangi sumbernya. Istilah yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan ini adalah meliput. Hasil liputan para wartawan, akan ditulis dan diserahkan ke redaktur untuk diseleksi, diolah lagi dan disajikan dalam bentuk tulisan di media cetak, siaran radio atau televisi. Penulis/wartawan lepas (free lance) adalah penulis berita, reportase, artikel, feature dan bentuk tulisan lain yang tidak terikat (bekerja) di satu lembaga. Penulis/wartawan lepas bisa bekerja di rumah masing-masing dan mengirimkan hasil tulisannya ke media manapun.
Wartawan, jurnalis atau reporter adalah profesi untuk memperoleh informasi dengan mendatangi sumbernya. Istilah yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan ini adalah meliput. Hasil liputan para wartawan, akan ditulis dan diserahkan ke redaktur untuk diseleksi, diolah lagi dan disajikan dalam bentuk tulisan di media cetak, siaran radio atau televisi. Penulis/wartawan lepas (free lance) adalah penulis berita, reportase, artikel, feature dan bentuk tulisan lain yang tidak terikat (bekerja) di satu lembaga. Penulis/wartawan lepas bisa bekerja di rumah masing-masing dan mengirimkan hasil tulisannya ke media manapun.
Ada
berapa macamkah wartawan yang biasa melayani media massa?
Sesuai dengan medianya, ada wartawan media massa cetak (koran, tabloid, majalah); wartawan radio, wartawan televisi dan wartawan kantor berita. Kalau dilihat dari jenis pekerjaannya ada wartawan biasa yang pekerjaannya menulis berita dan ada wartawan foto yang pekerjaannya memotret.
Sesuai dengan medianya, ada wartawan media massa cetak (koran, tabloid, majalah); wartawan radio, wartawan televisi dan wartawan kantor berita. Kalau dilihat dari jenis pekerjaannya ada wartawan biasa yang pekerjaannya menulis berita dan ada wartawan foto yang pekerjaannya memotret.
Dengan
berkembangnya media televisi, kemudian dikenal pula reporter yang pekerjaannya
mewawancarai sumber berita dan cameraman yang tugasnya mengambil gambar audio visual
dari peristiwa atau sumber. Dilihat dari prestasinya, ada wartawan biasa dan
ada pula wartawan senior. Yang disebut wartawan senior, bukan mereka yang sudah
menggeluti profesi kewartawanan cukup lama atau usianya sudah tua, melainkan
yang mampu mencapai prestasi kerja kewartawanan dan diakui oleh masyarakat.
Apakah
beda wartawan dengan redaktur? Wartawan adalah pemburu informasi di lapangan,
sementara redaktur adalah juru masak yang memberi order peliputan, mengumpulkan
hasil liputan dan mengolahnya menjadi tulisan. Di koran-koran besar, wartawan
dikelompokkan sesuai dengan rubrik yang ditangani. Misalnya wartawan ekonomi,
politik, olahraga, budaya dll. Masing-masing rubrik dikepalai oleh redaktur
yang disebut desk.
Apakah
yang disebut pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, redaktur pracetak dan sekretaris
redaksi? Pemimpin redaksi adalah pemegang kekuasaan tertinggi di bagian redaksi
sebuah media massa. Pekerjaan utamanya adalah membuat kebijakan dan
meneruskannya ke redaktur pelaksana untuk diaplikasikan pada kegiatan
sehari-hari. Di koran besar, redaktur pelaksana memimpin desk yang
masing-masing dibantu oleh wartawan rubrik. Selain itu ada wartawan non desk
yang biasanya langsung berada di bawah redaktur pelaksana atau pemimpin
redaksi. Redaktur pracetak adalah redaksi yang pekerjaannya menangani lay out
penerbitan pers termasuk segi artistiknya. Di koran-koran pagi biasanya juga
dikenal istilah redaktur malam. Yakni redaksi yang bertugas pada malam hari
sebelum batas deadline koran untuk naik cetak. Sekretaris redaksi adalah kepala
rumahtangga redaksi. Urusannya mulai dari administrasi naskah, uang transpor,
honor, kegiatan rapat dll. Sekretaris redaksi bertanggungjawab langsung kepada
pemimpin redaksi.
Manakah
yang jenjangnya lebih tinggi: wartawan atau redaktur/redaktur pelaksana? Wartawan
dan redaksi adalah jenis pekerjaan yang berbeda. Wartawan adalah jenjang
profesi. Sama dengan dosen, dokter, pengacara dll. yang jenjangnya sangat
tergantung dari keahlian dan prestasinya dalam menjalankan profesi. Sementara
redaktur (desk), redaktur pelaksana, pemimpin redaksi, redaktur pracetak dan
sekretaris redaksi berikut para wakilnya adalah jenjang struktural. Hingga bisa
saja penghasilan seorang wartawan senior dalam satu perusahaan pers, lebih
tinggi dari redaktur bahkan redaktur pelaksananya. Sama halnya dengan di rumah
sakit atau perguruan tinggi, yang gaji dokter spesialis atau guru besarnya
lebih tinggi dari kepala bagian atau kepala jurusan.
`Bagaimanakah
caranya agar seseorang bisa menjadi wartawan/penulis lepas? Caranya harus
dengan menulis berita, hasil reportase, artikel feature atau bentuk tulisan
lain dan mengirimkannya ke media massa. Semakin sering karya seseorang dimuat
media massa, maka kredibilitasnya akan semakin baik. Namun yang bisa benar-benar
menjadi wartawan/penulis lepas, dalam arti hidup dari honorarium menulis,
hanyalah mereka yang sudah mampu meraih status sebagai wartawan senior.
Apakah
penyair, cerpenis dan novelis yang karyanya sering muncul di media massa bisa
dikatagorikan sebagai penulis lepas (free lance)?
Tidak bisa. Sebab mereka lebih lazim disebut sasterawan. Yang mereka tulis pun karya fiksi. Istilah penulis lepas, lazim digunakan hanya untuk menyebut penulis berita, artikel dan feature yang tidak terikat bekerja di satu perusahaan pers.
Tidak bisa. Sebab mereka lebih lazim disebut sasterawan. Yang mereka tulis pun karya fiksi. Istilah penulis lepas, lazim digunakan hanya untuk menyebut penulis berita, artikel dan feature yang tidak terikat bekerja di satu perusahaan pers.
Pendidikan Menulis dan Jurnalis
Ada
berapa macamkah pendidikan menulis dan jurnalis?
Pendidikan menulis (dalam arti mengarang, menyusun tulisan), sudah mulai diajarkan sejak di bangku SD. Pelajaran menulis ini terus berlanjut sampai ke jenjang perguruan tinggi. Di sini, keterampilan menulis sangat diperlukan dalam rangka menyusun karya ilmiah sebagai bagian dari tugas akhir maupun hasil penelitian. Sementara pendidikan jurnalis (kewartawanan) hanya diajarkan secara formal di jurusan publisistik atau jurnalistik di perguruan tinggi yang membuka jurusan ini, baik untuk program diploma maupun strata. Selain pendidikan formal, menulis dan kewartawanan juga diajarkan di berbagai lembaga pelatihan/training. Media massa besar, baik cetak, radio, televisi dan kantor berita juga mengajarkan keterampilan menulis dan jurnalis melalui program in house training.
Pendidikan menulis (dalam arti mengarang, menyusun tulisan), sudah mulai diajarkan sejak di bangku SD. Pelajaran menulis ini terus berlanjut sampai ke jenjang perguruan tinggi. Di sini, keterampilan menulis sangat diperlukan dalam rangka menyusun karya ilmiah sebagai bagian dari tugas akhir maupun hasil penelitian. Sementara pendidikan jurnalis (kewartawanan) hanya diajarkan secara formal di jurusan publisistik atau jurnalistik di perguruan tinggi yang membuka jurusan ini, baik untuk program diploma maupun strata. Selain pendidikan formal, menulis dan kewartawanan juga diajarkan di berbagai lembaga pelatihan/training. Media massa besar, baik cetak, radio, televisi dan kantor berita juga mengajarkan keterampilan menulis dan jurnalis melalui program in house training.
Profesi
apa sajakah yang terkait dengan kegiatan tulis menulis?
Profesi yang terkait dengan kegiatan tulis menulis antara lain sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis naskah drama), wartawan, kolumnis, esais, penulis teks iklan (copy writer), penulis script program radio/tivi, penulis skenario film/sinetron dan ghost writer (penulis pidato, sambutan, artikel dan buku untuk seorang tokoh).
Profesi yang terkait dengan kegiatan tulis menulis antara lain sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis naskah drama), wartawan, kolumnis, esais, penulis teks iklan (copy writer), penulis script program radio/tivi, penulis skenario film/sinetron dan ghost writer (penulis pidato, sambutan, artikel dan buku untuk seorang tokoh).
Apakah
mereka yang sudah memiliki status penulis/wartawan berarti tidak perlu belajar
lagi? Mereka yang sudah meraih predikat
sebagai penulis/wartawan profesional pun tetap harus terus-menerus belajar.
Baik secara formal, non formal maupun informal. Pendidikan menulis secara
formal di perguruan tinggi, hanya terbatas menyangkut profesi jurnalis (non
fiksi). Sementara sasterawan, tidak ada sekolah formalnya. Fakultas sastra di
perguruan tinggi, hanya sebatas mengajarkan ilmu sastra. Bukan mendidik
mahasiswa untuk menjadi sasterawan.
Dalam pendidikan menulis dan
jurnalis, manakah yang lebih penting: belajar atau berlatih? Berlatih jelas
lebih penting. Sebab kegiatan menulis atau menjadi wartawan, lebih memerlukan
keterampilan (skill) dan bukan sekadar pengetahuan. Selain dengan berlatih,
skill juga akan datang secara otomatis kalau seseorang terus-menerus bekerja
sambil memperbaiki diri. Keterampilan apa pun, hanya akan meningkat apabila
seseorang telah memiliki “jam terbang†cukup banyak.
Mengapa
informasi mengenai pendidikan tulis menulis dan kewartawanan sampai sekarang
sangat jarang sampai ke masyarakat? Sebab dunia tulis menulis memang hanya
digeluti oleh sedikit orang. Kebanyakan penulis buku petunjuk praktis menulis
dan kewartawanan, justru mereka yang tidak memiliki pengetahuan ilmu
jurnalistik. Misalnya sasterawan yang kebetulan juga wartawan, menulis buku
petunjuk untuk menjadi penulis/wartawan. Atau dosen perguruan tinggi membuat
buku petunjuk praktis “Menulis Ilmiah Populer di Media Masaâ€Â.
Sementara mereka yang memiliki pengetahuan jurnalistik cukup baik, jarang yang
mau menyusun buku petunjuk.
Development Journalism (jurnalistik pembangunan). Atau
dalam istilah kita ”pers pembangunan,” yaitu jurnalistik yang mengutamakan
peranan pers dalam rangka pembangunan nasional negara dan bangsanya. Untuk yang
terakhir ini dalam sejarah jurnalistik Indonesia, dilabelkan kepada siapa
(media massa) saja yang lebih memihak kepada penguasa Orde Baru.
Sebenarnya ada satu lagi yang belum tercover, yaitu Investigative
Journalism, di Indonesia salah satu tokoh yang mempelopori jenis jurnalisme
ini adalah Mas Bondan Winarno, yang sekarang masyhur lewat acara ”wisata
kuliner” di sebuah stasiun TV suasta Indonesia, yang terkenal dengan
kata-katanya: ”mak nyus, pemirsa..”. Mas Bondan ikut berkontribusi dalam
memopulerkan model jurnalisme investigasi ini lewat media massa Suara
Pembaruan dan secara mengagumkan dapat kita lihat pada kedua karya
investigasinya, Neraka di Laut Jawa yang terbit pada tahun 1980-an dan Bre-X:
Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang terbit pada Juli 1997. Jurnalistik menjadikan investigasi sebagai
rohnya. Akan tetapi bagi beberapa kalangan jurnalisme investigasi bisa
dimasukkan ke dalam Adversary Journalism dan Crusade Journalism.
6. MEDIA MASSA
Dalam tulisan di atas terlihat bahwa jurnalistik elektronik
dimasukkan dalam jenis tersendiri. Sebenarnya hal ini lebih bisa dipahami bahwa
media massa elektronik merupakan media massa yang muncul belakangan setalah
media massa cetak, karena pengaruh dari modernitas dan perkembangan teknologi.
Baiklah di ”pelangi kedua” ini kita akan melihat pemaparan JB. Wahyudi. yang
begitu cerdas mengurai serta membedakan praktek jurnalistik yang dilakukan di
media massa yang berbeda. Dalam konteks ini kita akan melihat pemaparannya
tentang media massa cetak, radio dan TV. Gagasannya berikut disampaikan dalam
tabel:
No
|
Media Cetak
|
Media Radio
|
Media TV
|
1
|
Proses
percetakan
|
Proses
pemancaran/tranmisi
|
Proses
pemancaran/tranmisi
|
2
|
Isi
pesan tercetak, dapat dibaaca dimana dan kapan saja.
|
Isi
pesan audio dapat didengar sekilas sewaktu ada siaran
|
Isi
pesan audiovisual dapat dilihat dan didengar sekilas sewaktu ada siaran
|
3
|
Isi
pesan dapat dibaca berulang-ulang
|
Tidak
dapat diulang
|
Tidak
dapat diulang
|
4
|
Hanya
menyajikan peristiwa/pendapat yang telah terjadi
|
Dapat
menyajikan peristiwa/pendapat yang telah dan sedanng terjadi
|
Dapat
menyajikan peristiwa/pendapat yang telah dan sedanng terjadi
|
5
|
Tidak
dapat menyajikan pendapat narasumber secara langsung (audio).
|
Dapat
menyajikan pendapat (audio) narasumber secara langsung (orisinal)
|
Dapat
menyajikan pendapat (audiovisual) narasumber secara langsung (orisinal)
|
6
|
Penulis
dibatasi oleh kolom dan halaman
|
Penulisan
dibatasi oleh detik, menit dan jam
|
Penulisan
dibatasi oleh detik, menit dan jam
|
7
|
Makna
berkala dibatasi oleh hari, minggu dan bulan
|
Makna
berkala dibatasi oleh detik, menit dan jam
|
Makna
berkala dibatasi oleh detik, menit dan jam
|
8
|
Distribusi
melalui transportasi darat/laut/udara
|
Distribusi
melalui pemancar/tranmisi
|
Distribusi
melalui pemancar/tranmisi
|
9
|
Bahasa
yang digunakan (cenderung) formal
|
Bahasa
yang digunakan formal dan nonformal (bahasa tutur)
|
Bahasa
yang digunakan formal dan nonformal (bahasa tutur)
|
10
|
Kalimat
dapat panjang dan terperinci
|
Kalimat
singkat, padat, sederhana dan jelas
|
Kalimat
singkat, padat, sederhana dan jelas
|
Empat Dasar Manajemen Media Massa
Pertama, yang perlu diperhatikan bagi siapapun yang akan mengelola
penerbitan media massa adalah menentukan visi dan misi serta menentukan jenis
jurnalistik yang dipilih (pilihan lihat pada ”pelangi pertama”).
Kedua,
melakukan positioning, yaitu penentuan pangsa pasar atau sasaran pembaca
(konsumen). Positioning atau penentuan target pasar ini akan menuntun
bagian redaksi dalam memilih dan menyajikan berita. Langkah ini kemudian
diikuti dengan menciptakan atau membina ”pembaca perintis”. Adapun
tahap-tahap yang dapaat dilakukan sebuah media untuk eksis dan menjadi besar
anatar lain:
- Menumbuhkan fanatisme pembaca.
- Menciptakan kesetiaan pembaca.
- Menjadikan media tersebut sebagai labang status atau ”gengsi,” dimana pembaca merasa bangga membeli dan membaca media tersebut.
Tahapan-tahapan ini biasanya dilakukan dengan dukungan,
sebuah survei pembaca, untuk mengetahui keinginan dan aspirasi mereka.
Ketiga, memperhatikan
betul empat P (4P):
- Product, kualitas media, meliputi rubrikasi, isi berita, layout/setting, artistik, perwajahan (cover), dan sebagainya sehingga menarik dan dibeli/dibaca orang.
- Promotion, yaitu upaya media tersebut menarik minat orang untuk membeli dan membaca (berlangganan).
- Please, yaitu kualitas pelayanan media tersebut, dalam hal ini bagian sirkulasi, untuk menyenangkan (to please) dan memudahkan orang untuk mendapatkan media yang bersangkutan. Juga bisa berarti kualitas pelayanan redakasi atau bagian lain terhadap pembaca.
- Price, yaitu harga media tersebut, apakah terjangkau oleh pembeli, sesuai dengan kualitas produk dan pelayanan, dan sebagainya.
Keempat, eksistensi media juga bergantung pada kondisi internal media
itu sendiri. Media yang baik dan prospektif untuk maju dan besar, antara lain
memperhatikan penuh tiga kunci sukses sebuah media (3S):
- Sehat SDM, yakni tenaga-tenaga pengelola media tersebut berkualitas dan profesional di bidangnya, yang ditunjang dengan gaji yang memadai bagi mereka.
- Sehat Manajemen, yakni manajemen media tersebut dilakukan dengan baik, terencana, terarah dan terkendali.
- Sehat Sarana, yakni terpenuhinya sarana atau segala fasilitas yang diperukan bagi kelancaran kerja media tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar