Sabtu, 26 Mei 2012


1.      PENGERTIAN ILMU JURNALISTIK

Ilmu jurnalistik adalah bagian dari ilmu publisistik (to publish = publikasi). Publisistik sendiri merupakan bagian dari ilmu komunikasi. Makna jurnalistik adalah hal ihwal yang berhubungan dengan persurat-kabaran (media massa cetak = pers). Secara lebih sederhana, jurnalistik sering diartikan sebagai ilmu tentang tulis-menulis di media massa. Padanan ilmu jurnalistik adalah pengetahuan kewartawanan. Hingga jurnalis juga dipadankan dengan wartawan, yang merupakan profesi untuk memperoleh informasi guna disebarluaskan ke masyarakat melalui media massa cetak. Sekarang profesi jurnalis / wartawan tidak hanya terkait dengan media massa cetak, melainkan juga radio, televisi, kantor berita dan multi media (web site).
pada dasarnya sama yaitu diartikan sebagai laporan. Dan dari pengertianada beberapa versi. Kalau dalam dari sejarah Islam cikal bakal jurnalistik yang pertamakali didunia adalah pada zaman Nabi Nuh.Suhandang dalam bukunya juga menerangkan sejarah Nabi Nuh teerutama dalammenyinggung tentang kejurnalistikan. Dikisahkan bahwa pada waktu itu sebelum AllahSWT menurunkan banjir yang sangat hebatkepada kaum yang kafir, maka datanglahmaiakat utusan Allah SWT kepada Nabi Nuh agar ia memberitahukan cara membuatkapal sampai selesai. Kapal yang akan dibuatnya sebagai alat untuk evakuasi Nabi Nuh beserta sanak keluarganya, seluruh pengikutnya yang shaleh dan segala macam hewanmasing-masing satu pasang. Tidak lama kamudian, seusainya Nabi Nuh membuat kapal,hujan lebat pun turun berhari-hari tiada hentinya. Demikian pula angin dan badai tiadahenti, menghancurkan segala apa yang ada di dunia kecuali kapal Nabi Nuh. Dunia pundengan cepat menjadi lautan yang sangat besar dan luas. Saat itu Nabi Nuh bersamaoranng-orang yang beriman lainnya dan hewan-hewan itu telah naik kapal, dan berlayar dengan selamat diatas gelombang lautan banjir yang sangat dahsyat.Hari larut berganti malam, hingga hari berganti hari, minggu berganti minggu. Namun air tetap menggenang dalam, seakan-akan tidak berubah sejak semula. Sementaraitu Nabi Nuh beserta lainnya yang ada dikapal mulai khawatir dan gelisah karena persediaan makanan mulai menipis.
Masing-masing penumpang pun mulai bertanya-tanya, apakah air bah itu memang tyidak berubah atau bagaimana? Hanya kepastiantentang hal itu saja rupanya yang bisa menetramkan karisuan hati mereka. Denganmenngetahui situasi dan kondisi itu mereka mengharapkan dapat memperoleh landasan berfikir untuk melakukan tindak lanjut dalam menghadapi penderitaanya, terutama dalammelakukan penghematan yang cermat.Guna memenuhi keperluan dan keinginan para penumpang kapalnya itu Nabi Nuhmengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk meneliti keadaan air dan kemungkinanadanya makanan. Setelah beberapa lama burung itu terbang mengamati keadaan air, dankian kemari mencari makanan, tetapi sia-sia belaka. Burung dara itu hanya melihat daundan ranting pohon zaitun (olijf) yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pundi patuknya dan dibawanya pulang ke kapal. Atas datangnya kembali burung itu denganmembawa ranting zaitun. Nabi Nuh mengambil kesimpulan bahwa air bah sudah mulaisurut, namun seluruh permukaan bumi masih tertutup air, sehingga burung dara itu puntidak menemukan tempat untuk istirahat demikianlah kabar dan berita itu disampaikankepada seluruh anggota penumpangnya.
 
Atas dasar fakta tersebut, para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai seorang pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) yang pertama kali di dunia. Bahkan sejalandengan teknik-teknik dan caranya mencari serta menyiarkan kabar (warta berita di zamansekarang dengan lembaga kantor beritannya). Mereka menunjukan bahwa sesungguhnya kantor berita yang pertama di dunia adalah Kapal Nabi Nuh
.Data selanjutnya diperolah para ahli sejarah negara Romawi pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi (Imam Agung) mencatat segala kejadian penting yangdiketahuinya pada annals (papan tulis yang digantungkan di serambi rumahnya). Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat danmemerlukannya.Pengumuman sejenis itu dilanjutkan oleh Julius Caesar pada zaman kejayaannya. Caesar mengumumkan hasil persidangan senat, berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya,dengan jalan menuliskannya pada papan pengumuman berupa papan tulis pada masa itu (60 SM) dikenal dengan acta diurna dan diletakkan di Forum Romanum (StadionRomawi) untuk diketahui oleh umum. Terhadap isi acta diurna tersebut setiap orang boleh membacanya, bahkan juga boleh mengutipnya untuk kemudian disebarluaskan dandikabarkan ke tempat lain.Baik hikayat Nabi Nuh menurut keterangan Flavius Josephus maupun munculnyaacta diurna belum merupakan suatu penyiaran atau penerbitan sebagai harian, akan tetapi jelas terlihat merupakan gejala awal perkembangan jurnalistik. Dari kejadian tersenutdapat kita ketahui adanya suatu kegiatanyang mempunyai prinsip-prinsip komunikasimassa pada umumnya dan kejuruan jurnalistik pada khususnya. Karena itu tidak herankalau Nabi Nuh dikenal sebagai wartawan pertama di dunia.
 Demikian pula acta diurnal sebagai cikal bakal lahirnya surat kabar harian. Seiring kemajuan teknologi informasi maka yang bermula dari laporan harianmaka tercetak manjadi surat kabar harian. Dari media cetak berkembang ke mediaelektronik, dari kemajuan elektronik terciptalah media informasi berupa radio. Tidak cukup dengan radio yang hanya berupa suara muncul pula terobosan baru berupa mediaaudio visual yaitu TV (televisi). Media informasi tidak puas hanya dengan televisi,lahirlah berupa internet, sebagai jaringan yang bebas dan tidak terbatas. Dan sekarangdengan perkembangan teknologi telah melahirkan banyak media (multimedia). 
Sejarah Jurnalistik

Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informatif saja.Itu terbukti pada Acta Diurna sebagai produk jurnalistik pertama pada zaman RomawiKuno, ketika kaisar Julius Caesar berkuasa.Sekilas tentang pengertian dan perkembangan jurnalistik, Assegaff sedikitmenceritakan sedikit sejarah. Bahwa jurnalistik berasal dari kata Acta Diurna, yang terbitdi zaman Romawi, dimana berita-berita dan pengumuman ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang di kala itu disebut Forum Romanum. Namun asal kata jurnalistik adalah“Journal” atau “Du jour” yang berarti hari, di mana segala berita atau warta sehari itu termuat dalam lembaran tercetak.Karena kemajuan teknologi danditemukannyapencetakan surat kabar dengan system silinder (rotasi), maka istilah “pers muncul”, sehingga orang lalu mensenadakan istilah “jurnalistik” dengan “pers”.Sejarah yang pasti tentang jurnalistik tidak begitu jelas sumbernya, namun yang pasti jurnaliatik

2.      TEMPAT BELAJAR ILMU JURNALISTIK

      Secara formal, ilmu jurnalistik bisa dipelajari di perguruan tinggi negeri maupun swasta, melalui program diploma, strata 1, 2 (magister) dan 3 (Phd. / Dr.) Umumnya jurnalistik hanya menjadi Satuan Mata Kuliah (SKS) dari jurusan publisistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Namun ada beberapa perguruan tinggi, yang menjadikan jurnalistik sebagai salah satu jurusan di Fakultas Publisistik, bersamaan dengan Advertising dan Public Relation (PR = kehumasan).

3.      KARYA JURNALISTIK MULAI DITULIS
        Karya jurnalistik mulai dibuat sejak jaman Mesir Kuno, yakni ketika kultur manusia mengenal peradaban menulis. Bentuk tulisan yang pertama berkembang adalah reportase (to report = melaporkan). Peninggalan karya jurnalistik tertua (1.500 SM), berupa manuskrip berhuruf hieroglyph di atas daun papyrus (paper = kertas) dan relief dinding batu di salah satu kuil di Mesir. Isi manuskrip adalah perjalanan seorang Raja Mesir (Fira’un) untuk menaklukkan kota Megido (sekarang Lebanon). Pada jaman Julius Caesar (Romawi, 100 – 44 SM), laporan pandangan mata dari medan perang ditulis dan dipasang secara periodik di papan pengumuman di kota. Menuliskan hasil perjalanan, juga dilakukan oleh para “jurnalis” Cina kuno yang berlayar bersama para pedagang dan penyebar agama Budha.
4.      PERKEMBANGAN ILMU JURNALISTIK
 Ilmu jurnalistik berkembang sejak abad XV, bersamaan dengan diketemukannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg dari Jerman. Sejak itu berkembanglah penerbitan buku. Selain buku juga terbit media berkala secara periodik dan dicetak massal untuk dijual ke masyarakat luas. Bersamaan dengan berkembangnya media massa cetak, berkembang pulalah ilmu jurnalistik.
Apakah untuk menjadi wartawan profesional, seseorang harus memiliki pendidikan formal seperti halnya dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal? Tidak harus. Siapa pun bisa berprofesi sebagai wartawan, asalkan memiliki keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh media massa tempatnya bekerja (wartawan tetap) dan yang akan dikirimi tulisan/foto (wartawan free lance, kontributor tetap). Jadi profesi wartawan berbeda dengan dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal yang harus memiliki pendidikan khusus dengan standar internasional.
Selain melalui pendidikan formal di perguruan tinggi, di manakah seseorang bisa belajar ilmu jurnalistik? Biasanya calon wartawan dengan pendidikan strata 1 berbagai jurusan, setelah diterima bekerja di perusahaan media massa, akan dididik (diberi bekal ilmu jurnalistik) melalui program in house training. Selain itu, cukup banyak kursus dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta, yang terbuka untuk umum. Seseorang yang berminat belajar ilmu jurnalistik bisa mengikuti training-training di lembaga swasta tersebut.
5.  DUNIA MEDIA MASSA
Media massa atau kadang hanya disebut sebagai media, adalah peralatan (sarana) untuk menyebarkan informasi ke masyarakat. Media massa ada yang bersifat komersial (dijual dan menerima iklan). Ada pula yang bersifat non komersial dan dibiayai oleh lembaga penyelenggaranya. Biasanya media massa non komersial diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kenegaraan, keagamaan, pemerhati lingkungan dan sosial kemasyarakatan, atau sebagai alat promosi dan PR bagi perusahaan besar. Misalnya majalah maskapai penerbangan yang ditaruh di masing-masing kursi pesawat.
Ada berapa macamkah media massa saat ini? Saat ini kita mengenal media massa cetak, media massa radio, media massa film (bioskup), media massa televisi, kantor berita, media massa luar ruang (poster, spanduk, billboard, balon) dan multi media (internet/web site).
Media massa manakah yang paling terkait dengan pekerjaan jurnalistik? Yang paling terkait dengan pekerjaan jurnalistik adalah media massa cetak, radio, tivi dan kantor berita. Sementara film, media luar ruang dan multi media kurang terkait dengan kerja jurnalistik secara langsung.
Media massa manakah yang paling berpengaruh saat ini? Media massa yang paling berpengaruh saat ini adalah televisi. Sebab daya jangkau televisi sangat luas, serentak dan cepat. Nomor dua media massa cetak. Media massa radio pernah berperan sangat besar pada waktu perang dunia I maupun II. Sebab pada saat itu media televisi belum berkembang seperti sekarang. Media kantor berita biasanya hanya berbentuk buletin atau kalau sekarang berupa web site. Fokus kantor berita internasional saat ini adalah fotografi.
Mungkinkah salah satu bentuk media massa itu akan mati karena desakan jenis media yang lebih kuat? Tidak mungkin. Sebab masing-masing memiliki kekuatan yang tidak tergantikan. Contohnya media radio yang pernah sangat berpengaruh pada era perang dunia II, kemudian surut karena terdesak media televisi pada tahun 1980an. Namun media radio kembali menemukan perannya ketika lalulintas di kota besar menghadapi masalah kemacetan. Di sinilah radio kembali memegang peranan penting dan menemukan pasarnya. Media radio cocok untuk masyarakat/orang yang sedang melakukan sesuatu hingga tidak mungkin membaca atau menonton tivi. Misalnya mereka yang sedang mengemudikan mobil, bekerja di pabrik, kebun dll.
 Media Massa Cetak
Apa sajakah yang dikatagorikan sebagai media massa cetak? Yang dikatagorikan sebagai media massa cetak adalah koran, tabloid, majalah, bulletin, jurnal dan news letter.
Apakah yang membedakan media massa cetak dengan buku? Media massa cetak diterbitkan secara periodik, dengan nama penerbitan sama, diberi nomor serta tanggal terbit dan memuat isi yang bersifat faktual. Sementara buku tidak terbit secara periodik dan memuat isi yang tidak bersifat faktual.
Bagaimanakah periodisasi terbitnya media massa cetak? Periodisasi terbitnya media massa cetak pada umumnya adalah: harian, mingguan, dua mingguan, bulanan, dua bulanan, tiga bulanan, empat bulanan, tengah tahunan dan tahunan. Media massa yang terbit harian, umumnya koran. Sementara yang terbitnya dua bulanan sampai setahun sekali umumnya jurnal. Periodisasi yang paling banyak digunakan, selain harian adalah mingguan dan bulanan. Biasanya tabloid dan majalah menggunakan pola terbit mingguan dan bulanan.
Bagaimanakah media massa cetak dibuat? Media massa cetak dibuat dengan cara mencari dan mengumpulkan bahan, baik bahan tertulis, gambar dan foto. Pekerjaan ini dilakukan oleh para wartawan. Bahan itu diolah menjadi tulisan oleh redaksi, untuk selanjutnya ditata dalam halaman-halaman penerbitan, dibuat film dan plate lalu dicetak, untuk majalah harus dijilid dan kemudian diedarkan. Baik secara cuma-cuma maupun dijual.
Bagaimanakah media massa cetak diedarkan?
Media massa cetak diedarkan secara cuma-cuma oleh lembaga kenegaraan/pemerintahan, keagamaan, perusahaan dll. Media massa cetak yang diedarkan secara komersial, bisa dijual di agen koran/majalah (di lapak), dijual para pengasong di jalan raya, di toko buku dan dilanggan oleh konsumen. Pelanggan bisa menerima penerbitan media massa melalui jasa pos, hantaran atau loper yang dipekerjakan oleh agen.
Bagaimanakah penerbitan media massa cetak dibiayai?
Media massa cetak non komersial, dibiayai oleh anggaran lembaga yang menerbitkannya, karena akan diedarkan secara cuma-cuma. Media massa cetak komersial, dibiayai dari penjualan media massa tersebut, uang langganan dan jasa penjualan halaman untuk dipasangi iklan. Ada pula pemasukan dari advertorial (iklan dalam bentuk artikel). Media massa tertentu, juga memperoleh pendapatan dari produk pendukungnya (barang promosi). Bahkan kadang-kadang produk pendukung ini justru bisa mendatangkan pemasukan lebih tinggi.
Apakah untuk menerbitkan media massa cetak memerlukan ijin khusus?
Sebelum tahun 1998, penerbitan media massa cetak memerlukan ijin khusus yang pengurusannya sangat rumit dan berbelit serta memerlukan dana besar. Hingga pada waktu itu SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) memiliki nilai komersial yang sangat tinggi. Setelah tahun 1998, penerbitan media massa cetak bisa dilakukan dengan bebas oleh siapa saja.
Wartawan, Redaktur dan Penulis Lepas
Apakah yang dimaksud sebagai wartawan, redaktur dan penulis lepas?
Wartawan, jurnalis atau reporter adalah profesi untuk memperoleh informasi dengan mendatangi sumbernya. Istilah yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan ini adalah meliput. Hasil liputan para wartawan, akan ditulis dan diserahkan ke redaktur untuk diseleksi, diolah lagi dan disajikan dalam bentuk tulisan di media cetak, siaran radio atau televisi. Penulis/wartawan lepas (free lance) adalah penulis berita, reportase, artikel, feature dan bentuk tulisan lain yang tidak terikat (bekerja) di satu lembaga. Penulis/wartawan lepas bisa bekerja di rumah masing-masing dan mengirimkan hasil tulisannya ke media manapun.
Ada berapa macamkah wartawan yang biasa melayani media massa?
Sesuai dengan medianya, ada wartawan media massa cetak (koran, tabloid, majalah); wartawan radio, wartawan televisi dan wartawan kantor berita. Kalau dilihat dari jenis pekerjaannya ada wartawan biasa yang pekerjaannya menulis berita dan ada wartawan foto yang pekerjaannya memotret.
Dengan berkembangnya media televisi, kemudian dikenal pula reporter yang pekerjaannya mewawancarai sumber berita dan cameraman yang tugasnya mengambil gambar audio visual dari peristiwa atau sumber. Dilihat dari prestasinya, ada wartawan biasa dan ada pula wartawan senior. Yang disebut wartawan senior, bukan mereka yang sudah menggeluti profesi kewartawanan cukup lama atau usianya sudah tua, melainkan yang mampu mencapai prestasi kerja kewartawanan dan diakui oleh masyarakat.
Apakah beda wartawan dengan redaktur? Wartawan adalah pemburu informasi di lapangan, sementara redaktur adalah juru masak yang memberi order peliputan, mengumpulkan hasil liputan dan mengolahnya menjadi tulisan. Di koran-koran besar, wartawan dikelompokkan sesuai dengan rubrik yang ditangani. Misalnya wartawan ekonomi, politik, olahraga, budaya dll. Masing-masing rubrik dikepalai oleh redaktur yang disebut desk.
Apakah yang disebut pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, redaktur pracetak dan sekretaris redaksi? Pemimpin redaksi adalah pemegang kekuasaan tertinggi di bagian redaksi sebuah media massa. Pekerjaan utamanya adalah membuat kebijakan dan meneruskannya ke redaktur pelaksana untuk diaplikasikan pada kegiatan sehari-hari. Di koran besar, redaktur pelaksana memimpin desk yang masing-masing dibantu oleh wartawan rubrik. Selain itu ada wartawan non desk yang biasanya langsung berada di bawah redaktur pelaksana atau pemimpin redaksi. Redaktur pracetak adalah redaksi yang pekerjaannya menangani lay out penerbitan pers termasuk segi artistiknya. Di koran-koran pagi biasanya juga dikenal istilah redaktur malam. Yakni redaksi yang bertugas pada malam hari sebelum batas deadline koran untuk naik cetak. Sekretaris redaksi adalah kepala rumahtangga redaksi. Urusannya mulai dari administrasi naskah, uang transpor, honor, kegiatan rapat dll. Sekretaris redaksi bertanggungjawab langsung kepada pemimpin redaksi.
Manakah yang jenjangnya lebih tinggi: wartawan atau redaktur/redaktur pelaksana? Wartawan dan redaksi adalah jenis pekerjaan yang berbeda. Wartawan adalah jenjang profesi. Sama dengan dosen, dokter, pengacara dll. yang jenjangnya sangat tergantung dari keahlian dan prestasinya dalam menjalankan profesi. Sementara redaktur (desk), redaktur pelaksana, pemimpin redaksi, redaktur pracetak dan sekretaris redaksi berikut para wakilnya adalah jenjang struktural. Hingga bisa saja penghasilan seorang wartawan senior dalam satu perusahaan pers, lebih tinggi dari redaktur bahkan redaktur pelaksananya. Sama halnya dengan di rumah sakit atau perguruan tinggi, yang gaji dokter spesialis atau guru besarnya lebih tinggi dari kepala bagian atau kepala jurusan.
`Bagaimanakah caranya agar seseorang bisa menjadi wartawan/penulis lepas? Caranya harus dengan menulis berita, hasil reportase, artikel feature atau bentuk tulisan lain dan mengirimkannya ke media massa. Semakin sering karya seseorang dimuat media massa, maka kredibilitasnya akan semakin baik. Namun yang bisa benar-benar menjadi wartawan/penulis lepas, dalam arti hidup dari honorarium menulis, hanyalah mereka yang sudah mampu meraih status sebagai wartawan senior.
Apakah penyair, cerpenis dan novelis yang karyanya sering muncul di media massa bisa dikatagorikan sebagai penulis lepas (free lance)?
Tidak bisa. Sebab mereka lebih lazim disebut sasterawan. Yang mereka tulis pun karya fiksi. Istilah penulis lepas, lazim digunakan hanya untuk menyebut penulis berita, artikel dan feature yang tidak terikat bekerja di satu perusahaan pers.

 Pendidikan Menulis dan Jurnalis
Ada berapa macamkah pendidikan menulis dan jurnalis?
Pendidikan menulis (dalam arti mengarang, menyusun tulisan), sudah mulai diajarkan sejak di bangku SD. Pelajaran menulis ini terus berlanjut sampai ke jenjang perguruan tinggi. Di sini, keterampilan menulis sangat diperlukan dalam rangka menyusun karya ilmiah sebagai bagian dari tugas akhir maupun hasil penelitian. Sementara pendidikan jurnalis (kewartawanan) hanya diajarkan secara formal di jurusan publisistik atau jurnalistik di perguruan tinggi yang membuka jurusan ini, baik untuk program diploma maupun strata. Selain pendidikan formal, menulis dan kewartawanan juga diajarkan di berbagai lembaga pelatihan/training. Media massa besar, baik cetak, radio, televisi dan kantor berita juga mengajarkan keterampilan menulis dan jurnalis melalui program in house training.
Profesi apa sajakah yang terkait dengan kegiatan tulis menulis?
Profesi yang terkait dengan kegiatan tulis menulis antara lain sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis naskah drama), wartawan, kolumnis, esais, penulis teks iklan (copy writer), penulis script program radio/tivi, penulis skenario film/sinetron dan ghost writer (penulis pidato, sambutan, artikel dan buku untuk seorang tokoh).
Apakah mereka yang sudah memiliki status penulis/wartawan berarti tidak perlu belajar lagi?  Mereka yang sudah meraih predikat sebagai penulis/wartawan profesional pun tetap harus terus-menerus belajar. Baik secara formal, non formal maupun informal. Pendidikan menulis secara formal di perguruan tinggi, hanya terbatas menyangkut profesi jurnalis (non fiksi). Sementara sasterawan, tidak ada sekolah formalnya. Fakultas sastra di perguruan tinggi, hanya sebatas mengajarkan ilmu sastra. Bukan mendidik mahasiswa untuk menjadi sasterawan.
            Dalam pendidikan menulis dan jurnalis, manakah yang lebih penting: belajar atau berlatih? Berlatih jelas lebih penting. Sebab kegiatan menulis atau menjadi wartawan, lebih memerlukan keterampilan (skill) dan bukan sekadar pengetahuan. Selain dengan berlatih, skill juga akan datang secara otomatis kalau seseorang terus-menerus bekerja sambil memperbaiki diri. Keterampilan apa pun, hanya akan meningkat apabila seseorang telah memiliki “jam terbang” cukup banyak.
Mengapa informasi mengenai pendidikan tulis menulis dan kewartawanan sampai sekarang sangat jarang sampai ke masyarakat? Sebab dunia tulis menulis memang hanya digeluti oleh sedikit orang. Kebanyakan penulis buku petunjuk praktis menulis dan kewartawanan, justru mereka yang tidak memiliki pengetahuan ilmu jurnalistik. Misalnya sasterawan yang kebetulan juga wartawan, menulis buku petunjuk untuk menjadi penulis/wartawan. Atau dosen perguruan tinggi membuat buku petunjuk praktis “Menulis Ilmiah Populer di Media Masa”. Sementara mereka yang memiliki pengetahuan jurnalistik cukup baik, jarang yang mau menyusun buku petunjuk.

Development Journalism (jurnalistik pembangunan). Atau dalam istilah kita ”pers pembangunan,” yaitu jurnalistik yang mengutamakan peranan pers dalam rangka pembangunan nasional negara dan bangsanya. Untuk yang terakhir ini dalam sejarah jurnalistik Indonesia, dilabelkan kepada siapa (media massa) saja yang lebih memihak kepada penguasa Orde Baru.
Sebenarnya ada satu lagi yang belum tercover, yaitu Investigative Journalism, di Indonesia salah satu tokoh yang mempelopori jenis jurnalisme ini adalah Mas Bondan Winarno, yang sekarang masyhur lewat acara ”wisata kuliner” di sebuah stasiun TV suasta Indonesia, yang terkenal dengan kata-katanya: ”mak nyus, pemirsa..”. Mas Bondan ikut berkontribusi dalam memopulerkan model jurnalisme investigasi ini lewat media massa Suara Pembaruan dan secara mengagumkan dapat kita lihat pada kedua karya investigasinya, Neraka di Laut Jawa yang terbit pada tahun 1980-an dan Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang terbit pada Juli 1997. Jurnalistik menjadikan investigasi sebagai rohnya. Akan tetapi bagi beberapa kalangan jurnalisme investigasi bisa dimasukkan ke dalam Adversary Journalism dan Crusade Journalism.
6. MEDIA MASSA
Dalam tulisan di atas terlihat bahwa jurnalistik elektronik dimasukkan dalam jenis tersendiri. Sebenarnya hal ini lebih bisa dipahami bahwa media massa elektronik merupakan media massa yang muncul belakangan setalah media massa cetak, karena pengaruh dari modernitas dan perkembangan teknologi. Baiklah di ”pelangi kedua” ini kita akan melihat pemaparan JB. Wahyudi. yang begitu cerdas mengurai serta membedakan praktek jurnalistik yang dilakukan di media massa yang berbeda. Dalam konteks ini kita akan melihat pemaparannya tentang media massa cetak, radio dan TV. Gagasannya berikut disampaikan dalam tabel:
No
Media Cetak
Media Radio
Media TV
1
Proses percetakan
Proses pemancaran/tranmisi
Proses pemancaran/tranmisi
2
Isi pesan tercetak, dapat dibaaca dimana dan kapan saja.
Isi pesan audio dapat didengar sekilas sewaktu ada siaran
Isi pesan audiovisual dapat dilihat dan didengar sekilas sewaktu ada siaran
3
Isi pesan dapat dibaca berulang-ulang
Tidak dapat diulang
Tidak dapat diulang
4
Hanya menyajikan peristiwa/pendapat yang telah terjadi
Dapat menyajikan peristiwa/pendapat yang telah dan sedanng terjadi
Dapat menyajikan peristiwa/pendapat yang telah dan sedanng terjadi
5
Tidak dapat menyajikan pendapat narasumber secara langsung (audio).
Dapat menyajikan pendapat (audio)  narasumber secara langsung (orisinal)
Dapat menyajikan pendapat (audiovisual)  narasumber secara langsung (orisinal)
6
Penulis dibatasi oleh kolom dan halaman
Penulisan dibatasi oleh detik, menit dan jam
Penulisan dibatasi oleh detik, menit dan jam
7
Makna berkala dibatasi oleh hari, minggu dan bulan
Makna berkala dibatasi oleh detik, menit dan jam
Makna berkala dibatasi oleh detik, menit dan jam
8
Distribusi melalui transportasi darat/laut/udara
Distribusi melalui pemancar/tranmisi
Distribusi melalui pemancar/tranmisi
9
Bahasa yang digunakan (cenderung) formal
Bahasa yang digunakan formal dan nonformal (bahasa tutur)
Bahasa yang digunakan formal dan nonformal (bahasa tutur)
10
Kalimat dapat panjang dan terperinci
Kalimat singkat, padat, sederhana dan jelas
Kalimat singkat, padat, sederhana dan jelas
Empat Dasar Manajemen Media Massa
Pertama, yang perlu diperhatikan bagi siapapun yang akan mengelola penerbitan media massa adalah menentukan visi dan misi serta menentukan jenis jurnalistik yang dipilih (pilihan lihat pada ”pelangi pertama”).
 Kedua, melakukan positioning, yaitu penentuan pangsa pasar atau sasaran pembaca (konsumen). Positioning atau penentuan target pasar ini akan menuntun bagian redaksi dalam memilih dan menyajikan berita. Langkah ini kemudian diikuti dengan menciptakan atau membina ”pembaca perintis”.  Adapun tahap-tahap yang dapaat dilakukan sebuah media untuk eksis dan menjadi besar anatar lain:
  1. Menumbuhkan fanatisme pembaca.
  2. Menciptakan kesetiaan pembaca.
  3. Menjadikan media tersebut sebagai labang status atau ”gengsi,” dimana pembaca merasa bangga membeli dan membaca media tersebut.
Tahapan-tahapan ini biasanya dilakukan dengan dukungan, sebuah survei pembaca, untuk mengetahui keinginan dan aspirasi mereka.
Ketiga, memperhatikan betul empat P (4P):
  1. Product, kualitas media, meliputi rubrikasi, isi berita, layout/setting, artistik, perwajahan (cover), dan sebagainya sehingga menarik dan dibeli/dibaca orang.
  2. Promotion, yaitu upaya media tersebut menarik minat orang untuk membeli dan membaca (berlangganan).
  3. Please, yaitu kualitas pelayanan media tersebut, dalam hal ini bagian sirkulasi, untuk menyenangkan (to please) dan memudahkan orang untuk mendapatkan media yang bersangkutan. Juga bisa berarti kualitas pelayanan redakasi atau bagian lain terhadap pembaca.
  4. Price, yaitu harga media tersebut, apakah terjangkau oleh pembeli, sesuai dengan kualitas produk dan pelayanan, dan sebagainya.
Keempat, eksistensi media juga bergantung pada kondisi internal media itu sendiri. Media yang baik dan prospektif untuk maju dan besar, antara lain memperhatikan penuh tiga kunci sukses sebuah media (3S):
  1. Sehat SDM, yakni tenaga-tenaga pengelola media tersebut berkualitas dan profesional di bidangnya, yang ditunjang dengan gaji yang memadai bagi mereka.
  2. Sehat Manajemen, yakni manajemen media tersebut dilakukan dengan baik, terencana, terarah dan terkendali.
  3. Sehat Sarana, yakni terpenuhinya sarana atau segala fasilitas yang diperukan bagi kelancaran kerja media tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar