1.2 Ciri-Ciri Cerita Rakyat
Ciri-ciri
cerita rakyat antara lain :
a).
Disampaikan secara lisan. Salah satu sifat cerita rakyat yang utama
terletak pada cara penyampaianya. Pada lazimnya cerita rakyat disampaikan
melalui tuturan. Ia dituturkan secara individu kepada seorang individu atau
sekelompok individu.
b).
Sering kali mengalami perubahan. Cerita rakyat merupakan suatu yang dinamik,
dimana ia akan mengalami perubahan seperti penambahan atau pengurangan, menurut
peredaraan waktu.
Oleh
karena itu, kita menjumpai berbagai variasi untuk cerita rakyat di tempat yang
berlainan.
c).
Merupakan kepunyaan bersama. Soal hak
cipta tidak ada pada cerita rakyat. Tak
seorang pun yang mengaku sebagai pengarang cerita rakyat tertentu sehingga cerita
rakyat bersifat anomim.
d).
Sering memiliki unsur irama. Cerita pelipur lara senantiasa disampaiakan
pencerita senantiasa mengandung unsur irama yang menarik. Pengaturan ini agar
cerita lebih menghibur juga untuk memudahkan penceritaanya.
2.3 Jenis-Jenis Cerita Rakyat
2.3.1
Legenda
Legenda adalah cerita yang dipercaya
oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci
atau sakral yang membedakanya dengan mitos. Menurut WR. Bascom legenda adalah
cerita yang mempunyai cirri-ciri mirip dengan mite yakni dianggap benar-benar
terjadi, tetapi tidak dianggap suci.
Legenda sering memiliki keterkaitan
dengan sejarah dan kurang keterkaitan dengan masala supranatural. Legenda dapat
dipahami sebagai cerita magis yang sering dikaitkan dengan seorang, tokoh, peristiwa, dan tempat-tempat nyata,
Michael (Nurgiantoro, 2005:182).
Oleh karena itu orang sering menganggap
legenda sebagai cerita yang bersifat
historis walau fakta yang dianggap fakta itu kadar kesejaraannya masih perlu
dipertanyakan.
Rahman dalam Iper (2006:65) mengatakan
legenda dianggap benar-benar terjadi, ditokohkan manusia sakti dan berlokasi di
dunia. Legenda kebanyakan berisi tentang asal-usul terjadinya sesuatu yang ada
di dunia ini. Seperti asal-usul danau Toba, atau asla-usul gunung Sanbhampolulu
di Kabaena.
2.3.2
Mite
Istilah mite atau mitos dalam bahasa
Indonesia berasal dari bahasa Yunani “mythos”
yang berasal dari cerita dewata. Mitos
merupakan cerita masa lampau yang dimiliki bangsa-bangsa di dunia. Menurut
Bascom (Atmiawati, 2010:12) berpendapat bahwa mitos merupakan prosa rakyat yang
dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang punya cerita.
Mitos adalah cerita yang berkaitan dengan
dewa-dewa atau yang berkaitan dengan supranatural yang lain, juga sering
mengandung pendewaan manusia atau manusia keturunan dewa, Nurgiyantoro
(2005:24).
Mite disamping dianggap benar-benar
terjadi, juga diyakini kebenaran terjadinya, dan disajikan dalam bentuk
upacara-upacara suci. Mite ditokohi oleh dewa-dewa atau mahluk halus dan banyak
berlokasi di luar jangkauan panca indra manusia.
2.3.3 Donggeng
Dongeng pada dasarnya merupakan karya
prosa rakyat yang dihasilkan oleh masyarakat yang di dalam penuh dengan hal-hal
yang brupa khayalan dan diliputi unsure-unsur keajaiban. Nurgiantoro (2002:18)
memberi batasan bahwa dongeng adlah cerita rekaan yang penuh dengan fantasi,
sukar diterima dengan logika pikiran kita sekarang atau dengan kata lain
merupakan cerita yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama. Jadi dongeng
merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi, Ia
diceritakan sebagai hiburan, berisikan ajaran moral bahkan sindiran.
Selain itu, pada umumnya dongeng tidak terikan oleh waktu dan
tempat. Sebuah dongeng biasa mengunakan bahasa-bahasa klise dalam
pengungkapannya. Misalnya di awal cerita dimulai dengan kalimat “pada suatu
waktu” dan di akhiri dengan kalimat “demikianlah ceritanya”.
Stewig (Nurgiantoro, 2002:201) membagi
cerita rakyat dalam dua jenis :
a). Dongeng
klasik
Dongeng
klasik adalah dongeng yang ditokohi oleh manusia dan biasanya
adalah suka duka seseorang. Di Indonesia
dongeng biasa yang popular adalah bertipe Cinderella (tokoh wanita yang tidak
ada harapan hidupnya. Dongeng yang bertipe Cinderella ini bersifat universal
karena tidak hanya tersebat di Indonesia tapi juga di dunia.
b).
Dongeng modern
Dongeng
modern adalah dongeng fantasi modern. Sebagai genre dongeng modern,
cerita-erita itu sengaja dikreasikan oleh pengarang yang mencantumkan namanya.
Ia sengaja menulis sebagai salah satu bentuk karya sastra. Contoh cerita Herry
Potter (JK. Rowling)
2.2.4
Cerita
Binatang
Cerita binatang (fables) adalah salah
satu bentuk cerita yang ditokohi oleh binatang-binatang. Binatang-binatang itu
dalam cerita ini dapat bercerita dan berakal seperti manusia. Cerita binatang
seolah-olah hadir sebagai personifikasi manusia, baik yang menyangkut dengan
penokohan lengkap dengan karakternya maupun persoalan hidup yang
diungkapkannya. Di Indonesia, binatang-binarang itu adalah peladuk, kancil,
buanya atau kera ( Nurgiyantoro. 2002:190).
2.2.5
Cerita
Wayang
Wayang adalah sebuah wiracerita yang berpakem
pada dua karya besar, yakni Ramayana dan Mahabrata. Cerita wayang dan
pewayangan sebagaimana yang dikenal orang dewasa ini merupakan warisan budaya
nenek moyang yang telah bereksistensi sejak jaman prasejarah. Wayang telah
melewati berbagai peristiwa sejarah dari generasi ke generasi sebagai milik
bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.
2.2.6
Nilai-nilai
cerita Rakyat
Nilai
adalah hakikat suatu hal yang menyebapkan suatu hal tersebut pantas untuk
dijalankan oleh manusia, Anjarkora, dalam Evangelis (2001:89. Sesuatu dikatakan
bernilai apabila apabila sesuatu itu berguna antara lain nilai agama, nilai
sosial,dan nilai moral.
Suguhan
cerita rakyat pada akhirnya akan bermuara pada suatu misi, contoh-contoh atau
peringatan baik atau buruk. Sasaran akhir cerita adalah terjadinya proses
internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam cerita yang akan membentuk
perilaku, kepribadian, watak dan budi pekerti bagi pendengarnya. Ini karena
pada umumnya cerita rakyat mengandung nilai-nilai seperti ketekunan, kesabaran,
kejujuran, keikhlasan, kesetiaan, kepahlawanan, dan hormat pada orang tua dan
sesama manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar