Minggu, 27 Mei 2012


1.2    Ciri-Ciri Cerita Rakyat
Ciri-ciri cerita rakyat antara lain :
a).  Disampaikan secara lisan. Salah satu sifat cerita rakyat yang utama terletak pada cara penyampaianya. Pada lazimnya cerita rakyat disampaikan melalui tuturan. Ia dituturkan secara individu kepada seorang individu atau sekelompok individu.
b). Sering kali mengalami perubahan. Cerita rakyat merupakan suatu yang dinamik, dimana ia akan mengalami perubahan seperti penambahan atau pengurangan, menurut peredaraan waktu.
Oleh karena itu, kita menjumpai berbagai variasi untuk cerita rakyat di tempat yang berlainan.
c).  Merupakan kepunyaan bersama. Soal hak cipta tidak ada pada  cerita rakyat. Tak seorang pun yang mengaku sebagai pengarang cerita rakyat tertentu sehingga cerita rakyat bersifat anomim.
d). Sering memiliki unsur irama. Cerita pelipur lara senantiasa disampaiakan pencerita senantiasa mengandung unsur irama yang menarik. Pengaturan ini agar cerita lebih menghibur juga untuk memudahkan penceritaanya.

2.3    Jenis-Jenis Cerita Rakyat

2.3.1        Legenda

       Legenda adalah cerita yang dipercaya oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral yang membedakanya dengan mitos. Menurut WR. Bascom legenda adalah cerita yang mempunyai cirri-ciri mirip dengan mite yakni dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci.

       Legenda sering memiliki keterkaitan dengan sejarah dan kurang keterkaitan dengan masala supranatural. Legenda dapat dipahami sebagai cerita magis yang sering dikaitkan dengan seorang,  tokoh, peristiwa, dan tempat-tempat nyata, Michael (Nurgiantoro, 2005:182).

                    Oleh karena itu orang sering menganggap legenda sebagai cerita  yang bersifat historis walau fakta yang dianggap fakta itu kadar kesejaraannya masih perlu dipertanyakan.  
        Rahman dalam Iper (2006:65) mengatakan legenda dianggap benar-benar terjadi, ditokohkan manusia sakti dan berlokasi di dunia. Legenda kebanyakan berisi tentang asal-usul terjadinya sesuatu yang ada di dunia ini. Seperti asal-usul danau Toba, atau asla-usul gunung Sanbhampolulu di Kabaena.

2.3.2        Mite

       Istilah mite atau mitos dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani “mythos” yang berasal dari cerita dewata.  Mitos merupakan cerita masa lampau yang dimiliki bangsa-bangsa di dunia. Menurut Bascom (Atmiawati, 2010:12) berpendapat bahwa mitos merupakan prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang punya cerita.

       Mitos adalah cerita yang berkaitan dengan dewa-dewa atau yang berkaitan dengan supranatural yang lain, juga sering mengandung pendewaan manusia atau manusia keturunan dewa, Nurgiyantoro (2005:24).
      
       Mite disamping dianggap benar-benar terjadi, juga diyakini kebenaran terjadinya, dan disajikan dalam bentuk upacara-upacara suci. Mite ditokohi oleh dewa-dewa atau mahluk halus dan banyak berlokasi di luar jangkauan panca indra manusia.

2.3.3   Donggeng

       Dongeng pada dasarnya merupakan karya prosa rakyat yang dihasilkan oleh masyarakat yang di dalam penuh dengan hal-hal yang brupa khayalan dan diliputi unsure-unsur keajaiban. Nurgiantoro (2002:18) memberi batasan bahwa dongeng adlah cerita rekaan yang penuh dengan fantasi, sukar diterima dengan logika pikiran kita sekarang atau dengan kata lain merupakan cerita yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama. Jadi dongeng merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi, Ia diceritakan sebagai hiburan, berisikan ajaran moral bahkan sindiran.

     Selain itu, pada  umumnya dongeng tidak terikan oleh waktu dan tempat. Sebuah dongeng biasa mengunakan bahasa-bahasa klise dalam pengungkapannya. Misalnya di awal cerita dimulai dengan kalimat “pada suatu waktu” dan di akhiri dengan kalimat “demikianlah ceritanya”.

      Stewig (Nurgiantoro, 2002:201) membagi cerita rakyat dalam dua jenis :

a).  Dongeng klasik    

      Dongeng   klasik adalah dongeng yang ditokohi oleh manusia dan biasanya adalah  suka duka seseorang. Di Indonesia dongeng biasa yang popular adalah bertipe Cinderella (tokoh wanita yang tidak ada harapan hidupnya. Dongeng yang bertipe Cinderella ini bersifat universal karena tidak hanya tersebat di Indonesia tapi juga di dunia.
b).  Dongeng modern
       Dongeng  modern adalah dongeng fantasi modern. Sebagai genre dongeng modern, cerita-erita itu sengaja dikreasikan oleh pengarang yang mencantumkan namanya. Ia sengaja menulis sebagai salah satu bentuk karya sastra. Contoh cerita Herry Potter (JK. Rowling)

2.2.4        Cerita Binatang

       Cerita binatang (fables) adalah salah satu bentuk cerita yang ditokohi oleh binatang-binatang. Binatang-binatang itu dalam cerita ini dapat bercerita dan berakal seperti manusia. Cerita binatang seolah-olah hadir sebagai personifikasi manusia, baik yang menyangkut dengan penokohan lengkap dengan karakternya maupun persoalan hidup yang diungkapkannya. Di Indonesia, binatang-binarang itu adalah peladuk, kancil, buanya atau kera ( Nurgiyantoro. 2002:190).

2.2.5        Cerita Wayang

       Wayang adalah sebuah wiracerita yang berpakem pada dua karya besar, yakni Ramayana dan Mahabrata. Cerita wayang dan pewayangan sebagaimana yang dikenal orang dewasa ini merupakan warisan budaya nenek moyang yang telah bereksistensi sejak jaman prasejarah. Wayang telah melewati berbagai peristiwa sejarah dari generasi ke generasi sebagai milik bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.

2.2.6        Nilai-nilai cerita Rakyat

       Nilai adalah hakikat suatu hal yang menyebapkan suatu hal tersebut pantas untuk dijalankan oleh manusia, Anjarkora, dalam Evangelis (2001:89. Sesuatu dikatakan bernilai apabila apabila sesuatu itu berguna antara lain nilai agama, nilai sosial,dan nilai moral.
      
       Suguhan cerita rakyat pada akhirnya akan bermuara pada suatu misi, contoh-contoh atau peringatan baik atau buruk. Sasaran akhir cerita adalah terjadinya proses internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam cerita yang akan membentuk perilaku, kepribadian, watak dan budi pekerti bagi pendengarnya. Ini karena pada umumnya cerita rakyat mengandung nilai-nilai seperti ketekunan, kesabaran, kejujuran, keikhlasan, kesetiaan, kepahlawanan, dan hormat pada orang tua dan sesama manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar